Wonder Woman: DC Extended Universe’s Lifeline


Review Share to

Sutradara: Patty Jenkins
Penulis: Allan Heinberg, Jason Fuchs, Zack Snyder
Pemeran: Gal Gadot, Chris Pine, Robin Wright, Danny Huston, dan David Thewlis
Genre: Action, Drama, Superheroes
Durasi: 141 Menit

Credit: IMDb

Bagi sebagian kita, kecewa adalah perasaan sakit yang amat dalam, yang membuat kita sulit untuk kembali percaya. Untuk sebagian yang lain, kecewa adalah sebuah tanda bagi sesuatu untuk diakhiri. Namun ada sebagian kecil yang memendam kecewa, dan berharap dinyanyikan “Kali Kedua”-nya Raisa untuk kemudian menghapus segala kelam dan kembali belajar percaya.

Bagi saya, Wonder Woman menyanyikan “Kali Kedua” dengan amat merdu untuk membuat saya kembali jatuh cinta dan memiliki harapan kepada “rumah” bagi sang kelelawar Gotham favorit saya, DC. Setelah kurang greget dalam Man of Steel (2013), hancur lebur dalam Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), dan porak poranda dalam Suicide Squide (2016), Patty Jenkins seolah memberi “nyawa ekstra” bagi DC melalui Wonder Woman nya.

Sejujurnya saya sempat skeptis dan merasa deja-vu setelah dalam beberapa pekan terakhir, Wonder Woman melakukan promo besar-besaran dengan merilis banyak teaser, tv spot beragam judul, serta beberapa poster tambahan. Saya masih ingat bagaimana Suicide Squad melakukan itu untuk kemudian malah menggali kuburan mereka sendiri.

Credit: IMDb

Mendapuk nama Patty Jenkins sebagai sosok sutradara, Wonder Woman mampu menampilkan sisi keperkasaan wanita dengan sentuhan yang amat berkesan. Cukup banyak poin yang saya kagumi dan gandrungi dalam film ini. Tone film, penggambaran Themyscira, wujud sang villain, dan tentu saja penampilan Gal Gadot sebagai Wonder Woman sendiri.

Namun dari beberapa poin tersebut, satu poin yang membuat saya jatuh hati kepada film ini adalah bagaimana Allan Heinberg mampu menyusun sebuah skrip untuk origin superheroes dengan amat apik serta bagaimana Wonder Woman mampu dengan smooth memposisikan diri sebagai “jembatan” antara Batman V Superman dan film Justice League yang akan datang. Cerita yang juga disusun bersama oleh Zack Snyder dan Jason Fuchs cukup solid dan mampu memberikan fan service mumpuni serta gambaran terperinci tentang karakter Wonder Woman. Meskipun tidak terdapat post-credits scene, beberapa easter eggs serta hint untuk film Justice League pun menjadi pesona lain yang menambah daya tarik dalam film ini.

Berjalan dengan alur yang lambat, film ini menceritakan secara detail story arc dari karakter Wonder Woman. Setting utama yang diambil saat perang dunia pertama membuat Petty Jenkins dan Gal Gadot sukses bahu membahu membuat film ini menjadi film superhero dengan karakter utama wanita pertama yang menggebrak box office.

Namun sejujurnya saya kurang sreg menyebut WW sebagai film superhero. Film ini dikembangkan dengan skrip yang cukup dalam sehingga memiliki elemen drama serta action dengan latar belakang peperangan yang kental. Saya seolah menyaksikan gabungan film 300 (2006), Hackshaw Ridge (2016), dan Fury (2014), sekaligus disajikan drama yang cukup mengharu biru ala A Walk To Remember (2002).

Chemistry Steve dan Diana terasa begitu dalam, mereka tidak memberi banyak ciuman ala Reza Rahadian dan Adinia Wirasti, tidak pula saling melempar puisi ala Chicco Jeriko dan Pevita Pearce. Gal Gadot dan Chris Pine hanya memainkan 3 adegan “romantis” yang sudah cukup menunjukkan dalamnya hubungan antara karakter Diana dan Steve. Chris Pine memainkan perannya sebagai Steve Trevor dengan baik dan meninggalkan kesan mendalam. Selain itu unsur komedi yang dihadirkan pun cukup pas dan renyah untuk dinikmati.

Credit: IMDb

Akting dari Gal Gadot pun sudah tidak perlu saya sangsikan. Gal nyaris tanpa cela disini. Terlepas dari banyaknya pro dan kontra dengan pemilihan sosoknya untuk memerankan Diana di awal-awal pengumuman. Saat ini saya meyakini tidak akan ada yang meragukan kapabilitasnya untuk berteriak lantang, “I am Diana of Themyscira, daughter of Hippolyta. In the name of all that is good, your wrath upon this world is over“.

Gal mampu memberikan hawa segar bagi DC saat ini. Satu hal yang patut ditegaskan, bahwa karakter Wonder Woman di film ini, berbeda 180° dengan karakternya di Batman V Superman. Dalam film ini, kita diajak untuk melihat perkembangan karakter seorang Diana Prince dari seorang Putri Amazon, menjadi seorang “Godkiller“, dari seorang yang lugu menjadi kesatria yang mampu carried the world on her shoulders.

Kita pun diajak untuk lebih realistis. Meskipun Wonder Woman memiliki kekuatan super, tidak berarti serta merta ia dapat terjun ke tengah peperangan dan menyelesaikan semua permasalahan begitu saja. David Thewlis pun mampu memberikan sedikit twist yang cukup mencengangkan dalam perannya. Robin Wright, Danny Huston, Connie Nielsen, dan Elena Anaya turut memberi warna beragam ke dalam film ini.

Namun tentunya tidak ada gading yang tidak retak. Meskipun skrip dari WW cukup solid, film ini terasa cukup terburu-buru saat memasuki 1/3 akhir cerita. CGI yang ditampilkan pun terkadang terasa kurang halus, terlebih ketika momen pertarungan Diana, yang menunjukkan sosoknya seperti Alien dalam episode Invasion! di Arrowverse nya CW.

Selain itu ada beberapa percakapan yang cukup cheesy, dan yang amat saya sayangkan, penempatan scoring yang kurang tepat. Wonder Woman akan terasa lebih hidup apabila scoring yang dilakukan tepat sasaran. Namun sayangnya Rupert Gregson-Williams melakukan tugasnya dengan kurang maksimal. Musik tema “Is She With You” yang bagi saya begitu megah pun terasa terlalu diobral sehingga kurang memberi efek “merinding” yang diberikan kala pertama diputar saat kemunculan perdana Diana dalam BvS.

Namun terlepas dari semua kekurangan yang ada, Wonder Woman akhirnya mampu memutus “rantai kutukan” dan kembali memberi DC posisi untuk berdiri. Film ini pun membuat Gal Gadot, bakal selalu memberikan sensasi “takjub” akan kharisma yang dipancarkannya dalam memerankan sang Amazon Princess. As Steve said to Diana, “I will save the day, and you will save the world“, and Wonder Woman, definitely saved DC’s world.

A really good movies, a kind of movies DC should have in a long time.

Rating: 8.8/10

*Review ini ditulis oleh Kutu Klimis


Kutu Butara

Biasanya demen nonton film ruang sempit dan serial crime/thriller.