The Room (2003): Kebobrokan Ironis


Review Share to

Sutradara: Tommy Wiseau
Penulis: Tommy Wiseau
Pemeran: Tommy Wiseau, Juliette Danielle, Greg Sestero
Genre: Drama
Durasi: 99 Menit

Selesai menonton film ini saya langsung kehabisan kata-kata, apa yang ada dalam pikiran Tommy Wiseau selaku sutradara saat menyutradarai film ini? Apa dia sepenuhnya mabuk? Apa dia tidak pernah mempelajari bagaimana membuat film sebelumnya? Apa dia kebanyakan uang sampai menghabiskan 6 juta dollar hanya untuk film ini? Begitu banyak pertanyaan saya yang mungkin tidak akan terjawab.

Kawan Kutu pernah menonton film MIB? Pernah melihat alien yang menyamar dalam kostum manusia dan berusaha bertingkah laku manusia? Yap, inilah deskripsi yang tepat untuk menggambarkan bagaimana film ini. Para crew film ini (atau Tommy Wiseau sendiri) tidak pernah melihat bagaimana tingkah laku normal manusia sehingga terjadilah “film terburuk fenomenal sepanjang masa”. Lupakan segala sesuatu tentang filmmaking, Tommy Wiseau akan “mengajari” anda bagaimana cara membuat film sebenarnya.

Menceritakan tentang seorang pria bernama Johnny (diperankan oleh Tommy Wiseau), pria sukses yang sangat mencintai tunangannya namun perjalanan cinta mereka diuji oleh pihak ketiga. Dari situlah Johnny akan mengalami realita hidup yang pahit, bahwa tidak ada cinta yang “abadi”.

Ceritanya cukup sederhana memang, tapi disinilah “filmmaking ala Tommy Wiseau” begitu unik dan beda. Tidak ada pengenalan karakter dari awal, tiba-tiba karakter langsung bermunculan berinteraksi satu sama lain. Tidak lama setelah itu bisa Kawan Kutu tebak apa yang terjadi pada adegan sesudahnya? Yap, adegan seks! Yang entah kenapa begitu aneh, terutama pemilihan lagu untuk mem-build up kesensualannya. Sepertinya salah satu alasan Tommy Wiseau membuat banyak adegan seks dalam film ini adalah untuk memamerkan indah tubuhnya terutama *maaf* pantatnya yang telanjang.

“Hmm, gw seksi juga yah, banyakin aja adegan seksnya ah biar semua orang tau badan gw yg aduhai.” Pikir Tommy menurut saya.

Dialog yang aneh, interaksi yang kacau, kamera yang tidak fokus, shot adegan yang loncat-loncat menambah keamburadulan film ini. Tapi anehnya dari kekacauan ini justru menimbulkan tawa. Saya pun jujur menikmati film ini karena dialognya yang aneh dan akting “berkualitas” dari para pemainnya. Dari kehancuran jalan ceritanya entah kenapa menjadi semacam komedi tersendiri. Kalo Kawan Kutu tau film ini termasuk film “cult” yang artinya banyak dipuja-puja para fansnya dan bahkan semenjak tayang perdana pada tahun 2003, film ini masih tetap ditayangkan pada midnight screening di beberapa kota di Amerika.

Kalo Kawan Kutu ingin lebih absurd, ini beberapa fakta unik dalam film ini (dijamin bakal ngakak):

  • Awalnya Tommy berencana untuk membuat karakter Johnny seorang vampir dan dia akan terbang dengan mobilnya di akhir film. Namun karena efeknya terlalu rumit, ide subplot ini dibatalkan. Bisa dibayangkan kalo Johnny jadi vampir?
  • Tommy membeli seluruh kamera untuk syuting film ini (dimana biasanya kru produksi film menyewa bukan membeli karena harganya sangat mahal).
  • Tommy memaksa untuk menunjukkan pantatnya dengan telanjang karena menurutnya itu adalah “nilai jual film ini”.
  • Banyak kru film yang dipecat dan mengundurkan diri (mungkin karena malu filmnya jelek) sehingga proses pencarian kru dilakukan berkali-kali.
  • Salah satu nama karakter dalam film ini (Mark) berdasarkan nama aktor favorit Tommy, Matt Damon. Namun Tommy malah memberi nama yang salah, yaitu Mark bukan Matt.
  • Film ini menggunakan adegan rooftop yang menggunakan greenscreen, padahal terdapat rooftop sungguhan dekat dengan lokasi syuting.

Yang jelas film ini memiliki keunikan tersendiri, film yang saking jeleknya ini hanya akan muncul sekali dalam beberapa tahun. Yang membuat ironis juga, bagaimana Tommy Wiseau mungkin tidak dapat mengulang kesuksesan yang sama dalam membuat film lain.

Rating: ⭐⭐⭐/👍👍👍

Bingung ratingnya? Menontonnya juga bikin saya bingung kok.

PS: Film The Disaster Artist karya James Franco diadaptasi berdasarkan proses pembuatan film ini. Tunggu review lengkapnya dari saya.


Kutukamar

Penulis serta penjelajah juga idealis & semua pasti dijamah.