Red Sparrow (2018): Pengorbanan untuk Kompromat


Review Share to

Sutradara: Francis Lawrence
Penulis: Justin Hayte
Pemeran: Jennifer Lawrence, Joel Edgerton, Matthias Schoenaerts, Charlotte Ramping, Mary-Louise Parker
Genre: Drama, Thriller
Durasi: 140 Menit

[SPOILER ALERT!]

Di dalam hidup, yang namanya pengorbanan tentu saja diperlukan. Sadar atau tidak, sebagian besar waktu kita dihabiskan untuk berkorban. Mulai dari waktu, pikiran, tenaga, bahkan hingga nyawa. Semua itu dilakukan demi mencapai atau meraih sesuatu. Karena cepat atau lambat, setiap manusia akan tahu bahwa tak ada yang instan di dunia ini.

Terkadang pengorbanan tak hanya dilakukan untuk diri sendiri saja, melainkan juga untuk orang lain. Bisa itu orang terdekat seperti keluarga atau kekasih maupun untuk orang banyak. Namun siapa pun yang menjadi motivasinya, biasanya didasari oleh satu hal, yaitu cinta.

Tak terkecuali dengan apa yang terjadi pada Dominika Egorova, karakter yang diperankan Jennifer Lawrence di Red Sparrow. Bisa juga dibilang bahwa Red Sparrow adalah film tentang pengorbanan. Baik yang dilakukan oleh Dominika maupun Jennifer sendiri.

Pengorbanan Penuh Risiko

Boleh dibilang kalau berkorban adalah hal yang lumrah. Seperti contohnya kita meluangkan waktu untuk belajar dan berlatih demi mencapai suatu kesuksesan, menyisihkan uang agar bisa membeli barang yang diinginkan. Namun apa yang dilakukan oleh Dominika di film ini berada di level yang lebih tinggi lagi.

Dia harus masuk ke sebuah akademi dan menjadi seorang Sparrow. Istilah Sparrow merujuk pada agen atau mata-mata yang dilatih khusus untuk mengumpulkan informasi dari musuhnya dengan cara “merayu/menggoda” dan cenderung memanfaatkan hubungan interpersonal.

Demi melindungi keselamatan dirinya dan sang ibu, Dominika harus menerima pendidikan yang jauh di luar akal sehat. Membiasakan diri dengan identitas palsu, disiksa, hingga disuruh telanjang di depan umum. Penuh kekerasan dan penghinaan. Dia rela direndahkan dan diperlakukan secara hina “hanya” untuk menyambung nyawa.

Credit: imdb.com

Terasa kejam memang. Hal itu diperkuat oleh penceritaan latar belakang Dominika di awal film. Bagaimana dulunya dia adalah wanita terhormat yang dipandang orang. Namun karena sebuah kecelakaan, hidupnya berputar 180 derajat hingga rela menjadi Sparrow.

Tentu saja menjadi seorang Sparrow memiliki risiko tinggi. Taruhannya adalah nyawa. Karena ketika dinyatakan lulus, dia akan menjalani misi penting. Memang terdengar sepele jika mendengar bahwa yang harus ia lakukan adalah mengumpulkan informasi. Namun dalam kasus Dominika, informasi tersebut menyangkut kepentingan dua negara, Amerika Serikat dan Rusia.

Tak hanya itu, korban akan berjatuhan apa pun hasil kerja Dominika. Jika dia berhasil, maka sang pengkhianat harus mati. Bila gagal, nyawa Dominika dan kelangsungan nasib ibunya menjadi taruhannya.

Maka dari itu, di film ini ditunjukkan bagaimana mental seorang Sparrow digembleng total. Agar mereka tak mudah terganggu oleh ikatan emosional. Karena di sisi lain mereka harus menjalin hubungan erat nan intim dengan para target operasinya. Situasi yang kompleks dan penuh risiko.

Konsep Kompromat dan Seksualitas ‘Sparrow’

Tujuan utama dari seorang Sparrow adalah untuk memperdaya musuh dengan tipu muslihat. Hal ini tentunya bukan sekadar imajinasi dari sang penulis buku Red Sparrow, Jason Matthews. Namun si pengarang pun mengakui bahwa kisah Sparrow terinspirasi dari kisah nyata.

Seperti yang ia katakan ketika diwawancara oleh CNBC, “Rusia telah bertahun-tahun menggunakan wanita untuk mencoba dan memikat secara seksual (pejabat tinggi luar negeri) dengan tujuan pemerasan, dan memberi tahu rahasia mereka.”

Matthews sendiri adalah veteran CIA dengan pengalaman lebih dari 30 tahun. Dia pun lebih memilih untuk menggunakan istilah “sexpionage”, sebagai ungkapan yang lebih halus untuk proses pengumpulan informasi dengan usaha seksual ini.

Pada era Iron Curtain sekitar tahun 1960 dan 1970an, Matthews mengatakan bahwa ada kabar dari seorang sumber di Rusia yang memberi tahunya soal akademi Sparrow. Sebuah tempat pendidikan di mana para wanita dilatih untuk menguasai seni tipu daya tersebut.

“Pelatihan itu terdiri dari isntruksi tentang bagaimana memancing percakapan, membuka botol sampanye, hal-hal kecil seperti itu, di mana saat itu rata-rata wanita Soviet belum terawat dan mengenal dunia seperti saat ini,” ungkap Matthews.

Credit: imdb.com

Apa yang dikatakan Matthews dan diadaptasinya ke dalam kisah Red Sparrow sering disebut sebagai ‘kompromat’. Secara etimologi, istilah ini meminjam dari istilah slang di KGB Rusia era Stalin, yang merupakan kependekan dari ‘compromising material’. Materi ini merujuk pada segala informasi yang bisa didapat, disimpan, ditukar, atau digunakan untuk kebutuhan strategis.

Ya, bisa dibilang kompromat telah menjadi kultur politik di Rusia. Tak jarang para politikus menggunakan strategi ini untuk melawan para pesaingnya. Fungsi kompromat sedikit berbeda dengan opposition research milik AS yang ditujukan langsung untuk melemahkan lawannya. Di Rusia, kompromat digunakan untuk memberi pengaruh atau merubah opini pada orang banyak.

Kompromat yang dilakukan oleh Sparrow, lebih menekankan pada pendekatan hubungan antar pribadi. Dari film ini pun digambarkan bagaimana Dominika dilatih untuk menajamkan instingnya dalam membaca lawan bicaranya. Lalu menggunakan segala informasi tentang si target untuk menjalin hubungan yang intim. Dia mencari tahu berbagai hal seperti latar belakang hingga kegiatan rutinnya, lalu memanfaatkan hal itu untuk meyakinkan target agar mau membuka rahasia.

Credit: imdb.com

Sekilas hal itu memang seperti tugas mata-mata pada umumnya. Namun yang menjadi pembeda adalah konsep kompromat yang menghalalkan segala cara agar mencapai tujuannya, termasuk menggunakan pendekatan seksual. Bahkan di Red Sparrow hal itu ditegaskan dengan pendidikan yang diterima oleh Dominika. Bisa dibilang mereka tidak diajarkan menjadi agen rahasia, tetapi lebih ke menjadi “honey pot”. Karena seks adalah senjata utama mereka.

Tentu apabila dipikir kembali, penggunaan pendekatan seksual pun belum tentu membuahkan hasil. Tentu meyakinkan seseorang untuk berkhianat adalah hal yang sangat sulit. Namun hadirnya fenomena itu membuktikan bahwa memang ada atau banyak orang yang akan terlena dengan godaan seksual.

Ya, bayangkan saja para Sparrow itu siap merelakan tubuhnya untuk mengejar sesuatu yang tak pasti. Bila gagal, nyawa mereka bisa jadi menjadi ganjarannya.

****

Dominika adalah contoh bagaimana seseorang bisa melakukan berbagai hal mustahil demi orang lain. Mungkin hal itu luput dari pandangan, karena tertutup oleh banyaknya adegan kekerasan. Namun harus diingat bahwa pengorbanan Dominika didasari oleh satu orang, sang ibu.

Tentunya pengorbanan tak hanya terjadi pada Dominika, tetapi juga Jennifer Lawrence sebagai pemerannya. Tentu di film ini ia bekerja sangat keras sebagai pemeran utama. Demi peran ini, Jennifer rela belajar intens tari balet selama empat bulan. Belum lagi jika kita mengingat dia harus melakukan adegan-adegan kekerasan yang menuntutnya menampilkan ekspresi yang meyakinkan.

Meski film ini menuai pro dan kontra dari berbagai pihak, tetapi bagi saya segala pengorbanan Jennifer Lawrence untuk Red Sparrow memberikan hasil yang memuaskan.

Baik Dominika Egorova maupun Jennifer Lawrence seolah mengingatkan bahwa memang berkorban itu perlu bila kita ingin mencapai sesuatu.

 


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater