A Taxi Driver (2017): Jujur itu Terkadang Menyakitkan


Review Share to
Judul Asli: Taeksi Unjeonsa (Korea)
Sutradara: Jang Hoon
Penulis: Eom Yu-na
Pemeran: Song Kang-ho, Thomas Kretschmann, Yoo Hae-jin, Ryu Jun-yeol, Yoo Eun-mi
Genre: Action, Drama, History
Durasi: 137 Menit
(Credit: imdb.com)

Kejujuran memang terkadang menyakitkan. Ada kalanya sulit untuk bersikap jujur, terutama jika hal itu menyangkut “sisi gelap” kita. Memang tak semua orang bisa melakukannya, karena sudah pasti ada risiko yang menanti. Tentu diperlukan keberanian lebih untuk berkata atau bersikap jujur terhadap segala hal.

Tak hanya manusia sebagai individu saja yang sulit jujur dengan sisi gelapnya, tetapi bisa juga berlaku untuk sebuah bangsa atau negara. Seperti contohnya, kita mungkin pernah mendengar bahwa ada fakta-fakta sejarah yang dengan sengaja ditutupi atau diubah. Hal itu dilakukan hanya demi menjaga citra dan persepsi orang banyak. Ya, memang pada dasarnya sulit untuk berdamai dengan keburukan atau kekurangan diri sendiri.

Bisa dibilang, kejujuran juga sering menimbulkan dilema. Meskipun itu adalah perbuatan baik, tetapi juga berpotensi merugikan. Setidaknya hal itulah yang terasa dari film A Taxi Driver.

Sekilas tentang Gwangju Uprising

Sebenarnya apa yang dihadirkan oleh A Taxi Driver ini pantas diapresiasi. Dengan mengangkat topik Gwangju Uprising yang terjadi pada 1980, film ini seolah menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekadar bagian dari sejarah. Namun bisa dibilang peristiwa itu adalah sisi gelap yang dimiliki oleh Korea Selatan.

Sejujurnya peristiwa ini cukup asing bagi saya. Karena sejauh ini, apa yang saya ketahui tentang Korea hanya sebatas dari produk-produk budaya pop saja. Dalam kata lain, Korea Selatan pada masa kini. Ya, A Taxi Driver cukup membuka mata saya tentang bagian sejarah kelam Korea.

Pemberontakan yang terjadi di Gwangju sendiri sebenarnya adalah bagian dari gerakan demokratis masyarakat Korea pada saat itu. Gerakan tersebut adalah salah satu reaksi yang timbul pasca tragedi pembunuhan presiden Park Chung-hee pada 26 Oktober 1979. Rezim Park selama 18 tahun yang hancur secara tiba-tiba ini tentunya membuat situasi politik dan sosial menjadi tidak stabil.

Credit: imdb.com

Choi Kyu-hah, yang saat itu bertindak sebagai perdana menteri, diangkat menjadi presiden sesuai ketentuan yang tertera di Article 48 pada Yushin Constitution. Namun pada Mei 1979, Chun Doo-hwan, jenderal militer Korea, mulai melakukan perlawanan. Hingga akhirnya, pada bulan Desember Chun berhasil menurunkan paksa Choi melalui revolusi militer, dan ia pun bertindak sebagai pemimpin negara.

Coup d’etat pimpinan Chun pun menuai protes dari banyak orang. Karena sebelumnya Choi berjanji untuk mengubah pemerintahan Park yang otoriter. Dia juga berjanji akan mengadakan pemilihan yang lebih demokratis serta membuat konstitusi baru untuk mengganti Yushin Constitution. Maka dari itu banyak terjadi protes, karena masyarakat cukup tegas dalam menolak kediktatoran. Penolakan inilah yang memicu Chun bertindak represif terhadap pihak-pihak yang dianggap bertentangan.

Gwangju menjadi salah satu wilayah terparah akibat tindakan represif militer ini. Protes di Gwangju awalnya hanya dilakukan oleh para mahasiswa Chonnam University. Namun situasi semakin memanas setelah pihak militer mulai “melawan” dan menimbulkan korban jiwa dari mahasiswa. Penduduk lokal pun marah, dan konflik semakin membesar. Bahkan, peristiwa ini diperkirakan menelan ratusan korban jiwa sepanjang 18 hingga 27 Mei 1980.

Propaganda, Media, dan Kejujuran

Jika kita berbicara tentang kediktatoran, tentu hal ini tak bisa dilepaskan dari yang namanya propaganda. Kebetulan perihal propaganda juga diangkat oleh sutradara Jang Hoon di film ini.

Chun yang bertindak sebagai penguasa nyatanya tidak hanya melakukan tindakan represif terhadap masyarakat Gwangju semata. Namun dia juga berusaha membelokkan dan mengontrol opini terhadap apa yang sebenarnya terjadi. Di dalam film ini, Jang Hoon menggambarkan hal itu melalui perubahan-perubahan pada media massa terkait konflik Gwangju.

Dimulai dari awal film, dengan adegan di mana Kim sedang mendengar siaran radio pada malam hari. Berita yang disampaikan saat itu terbilang cukup netral, dengan hanya menginformasikan gambaran besar kondisi politik Korea, seperti pengumuman darurat militer hingga berita tentang demo yang dilakukan oleh para mahasiswa.

Namun seiring berjalannya film, perlahan terlihat bagaimana pemerintah Chun menggunakan kekuasaannya dalam mengontrol media massa. Ada dua adegan yang dengan jelas menggambarkan hal itu. Pertama, ketika Peter baru tiba di Korea dan bertemu rekan sesama reporter di sebuah restoran.

Awalnya Peter diberi tahu mengenai report guidelines, yang isinya melarang aspek-aspek tertentu untuk diberitakan, terutama segala hal tentang Gwangju. Namun yang paling membekas adalah ketika Peter diperlihatkan surat kabar lokal Gwangju. Ada sebuah halaman yang kosong melompong, hampir tidak ada tulisan sama sekali. Dijelaskan bahwa hal itu terjadi karena ‘sensor’ oleh pemerintah.

Adegan kedua adalah ketika Kim sedang berada di sebuah kedai di luar Gwangju. Dia mendengar percakapan antar pengunjung tentang kondisi di Gwangju. Hal itu cukup membuat Kim gerah, karena seluruh hal yang dibicarakan nyatanya berbeda dengan apa fakta yang telah dilihat dan dialaminya selama di Gwangju.

Bisa dibilang, kedua adegan itu menunjukkan pengaruh besar dalam propaganda. Adegan pertama memperlihatkan bagaimana manuver sang pemegang kuasa dalam mengontrol media massa. Sedangkan yang kedua adalah efek atau hasil yang timbul dari pemberitaan media massa, yaitu pembentukkan opini publik.

Ya, bisa dibilang apa yang ditunjukkan pemerintah saat itu adalah bukti bahwa memang sulit untuk membuka sisi gelap diri sendiri. Mereka takut menghadapi risiko kehilangan kepercayaan masyarakat. Akhirnya pemerintah Korea saat itu memilih untuk bertindak manipulatif dengan cara menekan media massa.

Ironis memang, di satu sisi berani untuk menghabisi nyawa orang lain. Namun di sisi lain takut untuk bersikap jujur.

Berawal dari Kebohongan

Lucunya di film ini, kisah Kim sendiri pun sebenarnya berawal dari ketidak jujuran. Malah hal itulah yang mempertemukan Kim dan Peter. Di sini pun juga terlihat bagaimana mereka pada awalnya sempat bersitegang karena Kim yang berbohong.

Kebohongan Kim sendiri sebenarnya lebih disebabkan karena kepolosan hatinya. Mengingat motif utamanya dalam menyerobot pekerjaan mengantar ke Gwangju adalah karena sang anak. Kim memang membutuhkan uang tambahan untuk membayar sewa rumah dan biaya hidup.

Seperti yang disebutkan di awal tulisan, bahwa kejujuran terkadang menimbulkan dilema. Hal inilah yang juga dialami oleh Kim.

Credit: imdb.com

Di akhir-akhir film, dia sempat memilih untuk meninggalkan Peter dan pergi dari Gwangju karena khawatir dengan anaknya. Namun pada akhirnya, Kim sendiri tak bisa berbohong pada dirinya, bahwa sebenarnya ia begitu peduli pada keselamatan Peter dan penduduk Gwangju.

Kim pun mengalami dilema berat. Di satu sisi dia ingin segera bertemu dengan putrinya. Namun, hati nuraninya seolah berkata ada yang lebih penting dari itu. Ada konflik batin yang cukup hebat pada dirinya.

Lebih dari itu, Kim berada di tengah kebimbangan antara menjadi penduduk Korea yang mematuhi pemerintah atau orang yang dicap sebagai pembangkang. Akhirnya, dia pun dengan berani bersikap jujur pada dirinya dan mengikuti hari nuraninya. Meskipun saat itu risikonya jauh lebih tinggi ketimbang di awal kedatangannya di Gwangju.

*****

Seperti yang kita tahu, industri hiburan Korea memang melaju pesat dalam satu dekade ke belakang. Mulai dari musik hingga perfilman mereka perlahan memikat hati banyak orang di dunia.

A Taxi Driver sendiri adalah film yang dipercaya sebagai perwakilan Korea Selatan untuk ajang Academy Awards. Tentu ada alasan mengapa Korea menunjuk film ini sebagai utusannya. Di Korea sendiri, A Taxi Driver begitu populer dengan menjadi film dengan penonton terbanyak tahun ini. Menurut KBS, film ini telah berhasil memikat 12 juta lebih penonton selama penayangannya. Angka itu juga membuat A Taxi Driver bertengger di peringkat ke-10 sebagai film terlaris Korea sepanjang sejarah.

Credit: imdb.com

Memang di Korea sendiri, film dengan latar belakang sejarah cukup digemari. Bahkan film terlarisnya, The Admiral: Roaring Currents (2014), bercerita tentang pertempuran admiral Yi Sun Sin di Battle of Myeongyang pada 1597.

Mungkin pihak Korea percaya bahwa A Taxi Driver memiliki keunggulan tersendiri. Dengan nuansa drama yang kental serta hadirnya elemen kisah nyata, karya garapan Jang Hoon ini adalah tipikal film yang biasanya sukses di Academy Awards.

Meski begitu, A Taxi Driver sendiri tidak semerta-merta bisa diterima oleh semua orang. Di Tiongkok sendiri, film ini ini hanya tayang sekitar dua minggu saja. Karena isinya yang mirip dengan peristiwa Tiananmen Square Protests of 1989 dan dianggap “berbahaya”.

Bisa dibilang Korea sendiri telah berdamai dengan dirinya. Dengan munculnya A Taxi Driver sebagai perwakilan negara untuk ajang Oscar, hal itu juga semakin menguatkan kalau pihak pemerintah Korea saat ini tidak keberatan dengan isi filmnya. Bisa dibilang, mereka telah menerima fakta bahwa di balik kondisi mereka saat ini, ada juga masa-masa kelam yang mengiringi.

Dari film ini kita bisa belajar banyak sebenarnya. A Taxi Driver adalah bukti bahwa memang terkadang kejujuran itu menyakitkan. Sekaligus menunjukkan kalau berdamai dengan diri sendiri ternyata tidak seburuk yang kita bayangkan.

Rating: 8,5/10

Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater