Ready Player One (2018): The Ultimate Pop Culture Showdown


Review Share to
Sutradara: Steven Spielberg 
Penulis: Zak Penn, Ernest Cline 
Pemeran: Tye Sheridan, Olivia Cooke, Ben Mendelsohn, Lena Waithe, T.J. Miller, Simon Pegg, Mark Rylance
Genre: Action, Adventure, Sci-Fi
Durasi: 140 Menit
Credit: IMDb

Apa yang Kawan Kutu lakukan untuk menghabiskan waktu ketika anak-anak?  Menonton film? Kartun? Main video game? Membaca? Main bersama teman-teman?  Well, tentunya salah satu dari itu. Untuk Kawan Kutu yang sudah merasakan masa menjelang 90-an, tumbuh di era 90-an, dan mulai beranjak dewasa ketika memasuki era millennial, tentu paham beragamnya media hiburan, melahirkan ragam kultur yang memiliki 1 atau lebih karakter iconic yang melekat dalam ingatan, dimana ketika  mendengar, dan melihat referensi maupun wujud utuh dari karakter tersebut akan membawa kita menuju nostalgia dan menimbulkan rasa suka cita yang sebenarnya semu, namun begitu “memuaskan”.

Siapa disini yang pernah membayangkan,  bagaimana karakter-karakter tersebut semua berhamburan dalam satu layar, saling berjibaku satu sama lain dan menyajikan sebuah hamparan memori yang siap menyeret kita ke dalam nostalgia? Saya pribadi adalah tipikal yang selalu senang berkhayal untuk mencampur-campur karakter-karakter suatu kisah. Katakanlah bila Om Jin dari Jin dan Jun bertemu Mama Ucok dari sinetron Air Mata Ibu. Tentu penderitaan Ibu yang diperankan oleh Raslina Rasidin akan lebih mudah bila dibantu oleh Om Jin. Atau bagaimana ketika saya berkhayal saat Panji Milenium dan Saras 008 bertemu untuk sama-sama memberantas orang-orang yang suka belok ga pake lampu sein. Ya semacam itu lah.

Credit: IMDb

Dulu,  ketika Marvel dan Capcom memutuskan untuk membuat sebuah game dari karakter-karakter iconic mereka yang disatukan, saya senang bukan kepalang. Menganggap bahwa impian saya ternyata ada di benak orang-orang “sana” juga. Semakin berkembangnya zaman, membuat penggabungan “icon” tersebut, atau istilah bekennya, “crossover” semakin sering terjadi dan dikemas dengan tampilan yang wah, yang membuat para fans tentunya amat terhibur.

Pada tahun 2011, Ernest Cline yang merupakan penulis asal Amerika Serikat, membuat sebuah novel yang bercerita tentang kehidupan di tahun 2044 dimana keadaan dunia sudah hancur, dan orang-orang banyak menghabiskan waktu pada dunia virtual bernama OASIS. Buku dengan judul “Ready Player One” ini kemudian menarik minat para petinggi di studio Hollywood untuk membawa imajinasi dalam buku Ernest, menjadi sebuah sajian visual.

Warner Bros memenangkan hak untuk memvisualisasikan buku ini dan segera mendapuk sutradara serbabisa dan kawakan yang lebih dikenal dengan karya-karya sci-fi, yang sebelumnya berhasil mengantarkan film The Post meraih nominasi Best Picture pada ajang Oscar lalu untuk mengarahkan film ini. Hadirnya Steven Spielberg sebagai pengarah film tentunya membuat hype akan film ini begitu tinggi. Premis cerita yang unik (meskipun tidak baru), dan iming-iming nama besarnya yang sudah terbukti melalui karya-karya sebelumnya dan juga trailer yang telah dirilis, membuat “Ready Player One” menjadi salah satu one of most highly anticipated movies di tahun 2018.

Credit: IMDb

Memang secara garis besar, baik dari cerita dan penokohan, film (dan juga novelnya) seolah ditujukan untuk mereka yang aktif bermain video game maupun mereka yang “geek”, karena akan amat sangat banyak referensi dari banyak video game, series, dan film yang hadir disini. Memang bukan berarti mereka yang tidak bermain game atau bukan seorang “geek” serta merta tidak dapat menikmati filmnya, hanya saja apabila Kawan Kutu seorang gamers atau “geek” kalian akan menyaksikan 130 menit penuh excitement. Sebut saja karakter-karakter macam Ryu, Spawn, Batman, Batgirl, Harley Quinn, Gundam, King-kong, Joker, Nathan Drake, Iron Giants, MechaGodzilla, dan Deathstroke turut nimbrung disini. Belum lagi kendaraan iconic macam DeLorean Time Machine, Mach Five,  Batmobile, dan KITT yang ikut tampil, turut menambah semarak film ini.

Bila diperhatikan saksama, avatar Parzival, karakter utama yang diperankan oleh Tye Sheridan, menggunakan template karakter Marty McFly, si penjelajah waktu dari film Back To The Future dan karakter Bossman, avatar dari Sorrento sang villain utama menggunakan template Superman animated dengan jambulnya yang iconic. Lalu sabuk dari Parvizal tertera logo dari serial animasi Thundercat, dan Raphael, Leonardo, Donatello, dan Michelangelo dari serial TMNT turut hadir memeriahkan salah satu adegan di film ini. Selain hadirnya karakter-karakter tersebut, ada pula adegan dari film era 80-an yang turut diselipkan, seperti adegan dari film The Shining, dan sedikit gambaran Ferris Bueller dan The Breakfast Club. Bahkan bila tidak terbentur masalah lisensi, Ultraman seharusnya hadir di film ini.

Credit: IMDb

Dengan banyaknya referensi tersebut, wajar saya simpulkan bahwa daya tarik utama dari Ready Player One adalah poin-poin tersebut, karena apabila menilik lebih dalam dari kualitas jalan cerita serta akting para pemainnya, praktis hanya Tye Sheridan dan Olivia Cooke yang tampil cukup prima ketika adegan beralih dari dunia VR ke realita. Akting pemeran pendukung lain saya rasa kurang maksimal, serta sedikit kaku. Beberapa plot hole serta kurang dalamnya pendalaman karakter serta adegan pun cukup membuat beberapa scene terasa kurang “grip”.

Tetapi terlepas dari semua itu, fokus Ready Player One dalam menyajikan cerita dengan latar belakang Dystopian World berbalut sci-fi dengan dunia game VR yang menampilkan banyaknya karakter-karakter iconic, membuat film ini cukup worth the hype bagi saya. Scoring dengan lagu-lagu opening beberapa film, serta tema 80-an dengan tipikal sound 64 bit turut mengentalkan aroma nostalgia dengan rasa modern. Steven Spielberg sekali lagi berhasil untuk menyajikan sebuah visualisasi yang menawan dan merepresentasikan skrip dari Zak Penn dan Ernest Cline dengan cukup sempurna.

Rating: 8/10

Memorable Line: “Reality is the most important thing,  because at the end of the day,  reality is real” -James Halliday


Kutu Klimis

Just sit and talk about football, Manchester United, or movies, and we will be good buddies in no time.