A Quiet Place (2018): Hening yang Menghidupkan


Review Share to
Sutradara: John Krasinski
Penulis: Bryan Woods, Scott Beck, John Krasinski
Pemeran: John Krasinski, Emilly Blunt, Millicent Simmonds, Noah Jupe
Genre: Drama, Horror, Thriller
Durasi: 90 Menit
Credit: rogerebert.com

MENGANDUNG MINOR SPOILER!!

Beberapa dari kita meluapkan emosi dengan diam, beberapa menyendiri. Ada sebagian yang memilih untuk berkumpul bersama teman-teman atau memilih mabuk hingga lupa. Dari sekian banyaknya cara, meluapkan emosi termudah adalah dengan berteriak, melepaskan semua rasa yang tertahan dan mengeluarkannya dengan volume tinggi seolah kita ingin melepaskan segala beban. Lalu, bagaimana kalau kita tidak boleh berteriak? Lebih jauh, bagaimana kalau kita tidak boleh bersuara, sama sekali?

Sejujurnya, film ini adalah film dengan plot sederhana namun dengan build, set up, dan sound yang amat kaya. Saya membayangkan bagaimana ketika Bryan Woods dan Scott Beck menyampaikan idenya tentang “A Quiet Place” untuk mendapatkan dana.

“Gue ada ide film nih lur”

“Film apaan?”

“Horor gitu lah”

“Kaya gimana ceritanya?”

“Ada monsternya”

“Hmm, yang bikin beda apa nih?”

“Kalo lo bersuara, lo dibunuh”.

“Oke, nih 17 juta”

Semudah itu. Tapi memang terkadang hal-hal yang luar biasa justru berangkat dari hal-hal yang simpel bukan?

Trivia: Skenario asli dari Bryan Woods dan Scott Beck hanya berisi satu baris dialog.

John Krasinski membuktikan bahwa dirinya adalah salah satu sutradara berprospek cerah melalui film horror/thriller berdurasi 90 menit yang juga ia bintangi bersama sang istri, Emilly Blunt. Skrip yang disusun bersama Bryan Woods dan Scott Beck mengangkat kisah tentang 1 keluarga yang berusaha untuk bertahan hidup dari buruan makhluk yang amat sangat sensitif akan suara.

Kita tidak dapat mengeluarkan suara dengan volume lebih dari sebuah bisikan, dimana apabila kita mengeluarkan suara dengan volume lebih dari itu, well, instant death. Makhluk tersebut akan memburu secara brutal apapun yang bersuara, sehingga praktis, selama 90 menit kita akan disajikan sebuah tayangan yang penuh tekanan psikologis, dimana di satu sisi kita membutuhkan panic button, tapi di sisi lain kita harus selalu menekan mute button.

Credit: IMDb

Film ini memiliki dialog yang sedikit, dengan komunikasi antar karakter dilakukan dengan bahasa isyarat atau melalui bisikan. Adegan pembuka film ini mengajak kita untuk berada dalam sebuah roller coaster, yang dalam berjalannya durasi, kita akan dibawa untuk mengenali situasi dan bahaya seperti apa yang dihadapi keluarga tersebut dalam film ini.

Dengan menekankan nuansa drama di awal, A Quiet Place dengan solid menampilkan kisah drama yang konsisten dan dibalut horror/thriller intens hingga akhir.

Berangkat dari hal tersebut, butuh lebih dari sekadar set untuk membangun sebuah tayangan yang tetap dapat dinikmati dengan dialog yang minim, dan Erik Aadahl yang bertanggung jawab pada Sound Departement, melakukan tugasnya dengan amat baik. Sinematografi yang ciamik didukung dengan tone yang cukup kelam, sehingga menambah rasa seram sekaligus sendu kala kita dibawa menapaki adegan demi adegan. John Krasinski dan Emilly Blunt yang merupakan pasangan suami istri di dunia nyata, membantu harmonisasi hubungan yang tertampil dalam kamera. Memang ada kekurangan dalam logika terkait detail kejadian serta plot hole dalam beberapa adegan.

Namun Krasinski, Scott Beck, dan Bryan Woods berhasil membangun skrip yang membuat penonton melupakan kekurangan tersebut.

Credit: IMDb

Dari sisi teknis, tata suara menjadi elemen yang sangat vital di film ini. Transisi suara yang disajikan untuk menggambarkan seorang anak penyandang Tuli yang diperankan Millicent Simmonds, berlangsung sangat halus dan mencekam di beberapa bagian. Dengan kondisi dunia dimana suara/bunyi menjadi urusan hidup dan mati, kemunculan karakter tersebut menjadikan konflik di film ini semakin kompleks, dan tentu saja bukti kuatnya penulisan cerita.

Trivia: Aktris Millicent Simmonds telah tuli sejak bayi karena overdosis obat. Ini adalah film kedua yang ia bintangi, setelah Wonderstruck (2017).

Salah satu hal yang membuat cerita A Quiet Place begitu kuat adalah fokusnya pengisahan, yang menggunakan lingkup sudut pandang kecil atas kondisi dimana skala serangan makhluk pemburu suara ini sebenarnya cukup besar/mengglobal. Selain berdampak pada cerita yang kuat dan tak lari kemana-mana, A Quiet Place nampaknya mampu menciptakan Universenya sendiri. Atau mungkin, mau bergabung ke Cloververse milik J.J. Abrams??

Credit: trailersyestrenos.es

Sebagai sutradara dan suami Emily Blunt, John Krasinski berhasil memberi ruang yang sangat luas kepada sang Istri untuk menampilkan kemampuan aktingnya. Adegan paku hingga adegan bathtub adalah masa-masa dimana siapapun yang menonton akan kesulitan bernapas.

Trivia: Film ini ditulis oleh Scott Beck dan Bryan Woods untuk Paramount, yang menyerahkan naskahnya kepada John Krasinski untuk dibintangi. Istri Krasinski, Emily Blunt, juga membaca naskah dan kemudian ingin membintanginya.

Untuk kemampuan akting John Krasinski sendiri, dirinya berhasil menjadi sosok kepala keluarga yang protektif sekaligus figur ayah yang kuat bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, izinkan saya menyandingkannya bersama Hugh Jackman di Logan dan Andrew Lincoln di The Walking Dead, sebagai kandidat kuat pemeran Joel di film The Last of Us nanti hehehehe.

Credit: IMDb

Akhir kata, keheningan bukan melulu hal yang buruk. A Quiet Place berhasil menghidupi keheningan akan tontonan horror/thriller yang berkualitas pada beberapa tahun terakhir, terutama di masa film superhero dan adaptasi novel fantasi sedang gila-gilanya seperti sekarang ini. Yang tak kalah penting, mampu menghidupi para penontonnya dengan degupan jantung dan hela napas yang tak menentu selama film berlangsung.

Rating: 8/10

Memorable Line: Evelyn, “Who are we if we can’t protect them? we have to protect them.”

*PS: ditulis bersama Kutu Klimis.


Kutu Butara

Penikmat Film ruang sempit dan Serial Crime-Thriller.