Posesif (2017); Ketika Cinta Punya ‘Rahasia’.


Review Share to
Sutradara: Edwin
Pemeran: Putri Marino, Adipati Dolken, Griselda Agatha, Chicco Kurniawan, Cut Mini, Yayu A.W. Unru, Ismail Basbeth, Maulidina Putri.
Genre: Suspence Romance, Drama
Durasi: 96 Menit

Image Courtesy : Rollingstone Indonesia

Meet Lala; Seorang atlet loncat indah yang sedang menuju usia 17. Alih-alih menikmati total masa remaja dan kehidupan SMA nya, ia harus hidup di atas kenangan akan mendiang almarhumah ibunya,  yang juga mantan atlet loncat indah,  dan di bawah tekanan ayahnya yang menginginkan Lala menjadi pengganti dan penerus ibunya.

Meet Yudhis; Cowok remaja dengan kehidupan nyaris sempurna. Tampan, kaya, memiliki daya tarik khas remaja-remaja bintang SMA. Dengan kepribadian yang terlihat menyenangkan, siapa yang menyangka Yudhis hidup dengan bayang-bayang masa lalu kelam akan kepergian sang ayah, dan rumitnya hari ini karena sikap keras sang ibu.

Meet Lala and Yudhis. ‘Ini Cinta pertama Lala. Yudhis ingin selamanya’.

Posesif merupakan karya komersil perdana dari sang sutradara, Edwin, yang kebanyakan menelurkan film-film arthouse. Film ini seolah dikemas dengan ‘cantik’ dalam presentasinya dengan mengeluarkan teaser menggunakan line ‘dada ennaaa darada, dadaa ennaaa daradaa’ dari ‘No One Can Stop Us’ nya Dipha Barus.

dan trailer menggunakan lagu best of the best yang selalu masuk dalam setiap album best of the best yang selalu terasa sendu sejak awal Duta memulai lirik ‘Daann. . . Dan bila esok’

‘Posesif’ memulai kiprahnya di pasar film nasional dengan langsung mengantongi 10 nominasi Piala Citra di FFI 2017, bahkan ketika belum naik layar secara resmi. Melihat sekilas tagline dari film ini, dapat disimpulkan bahwa ‘Posesif’ merupakan sebuah film romance. Sekilas terkesan manis, namun bila kita telisik lebih jauh kita tahu bahwa tagline tersebut menyiratkan akan sebuah perbedaan dan ‘bahaya’ dari kisah cinta Lala dan Yudhis. Bagaimana rasanya bayi yang baru bisa berjalan, lalu kita ajak untuk lomba triathlon? Kita diajak untuk masuk ke dalam kisah percintaan dua remaja usia SMA dengan latar belakang masing-masing yang sudah coba saya gambarkan sebelumnya.

Dari Lala dan Yudhis, kita mungkin tidak akan merasakan drama romansa ala Cinta dan Rangga, Tita dan Adit, atau Jason dan Nadia. Lala dan Yudhis memiliki cinta yang terlihat, terasa, tetapi berbeda. Keduanya berkenalan secara tidak sengaja, saling melempar kode, mulai flirting, dan memutuskan bersama.

Awalnya cerita terasa seperti teen romance pada umumnya. Yudhis membawa Lala ke dalam dunianya, dan Lala rela mengorbankan segalanya agar mereka bersama. Awal yang manis, namun seiring waktu berjalan segalanya mulai kelam. Yudhis dan Lala seolah menjadi Iblis dan David Copperfield, dimana Yudhis seakan memberi Lala sebuah kontrak atas hidupnya.

Image Courtesy : Palari Film

Lala masih ngiler Yudhis chat

Lala baru melek Yudhis ‘bom ping’

Lala mau mandi Yudhis misscall

Lala selesai mandi, cek hp, ‘125 messages, 99 misscall’

Bagaimana rasanya?.

Yudhis yang diperankan dengan baik oleh Adipati Dolken memiliki emosi yang tidak stabil dan cenderung destruktif. Ia bisa tertawa lepas untuk 10 menit kemudian seperti harimau lepas. Ia sering berada dalam situasi insecure yang membuatnya menjadi obsesif terhadap Lala. Ia bisa berteriak pada Lala pagi-pagi untuk kemudian datang ke rumahnya di sore hari dan merengek bagai bocah minta duit untuk ke warnet. Lala sadar bahwa Yudhis ‘tidak biasa’. Awalnya ia menjauh, namun entah punya wangsit dari mana, Lala merasa bahwa Yudhis adalah Gotham yang harus diselamatkan, dan dia adalah Batman, satu-satunya yang dapat menyelamatkan. Diperankan oleh Putri Martino, karakter Lala sesungguhnya adalah karakter ‘bunga sekolah’. Cantik, manis, sporty. Kurang apa coba? Saya jatuh cinta pada karakter Lala ketika melihatnya dalam balutan seragam SMA lalu ditutup cardigan polos berwarna. Sebuah kombinasi standar siswi SMA yang membangkitkan nostalgia. Sayang ia harus masuk ke dalam permasalahan yang mungkin dianggap ‘cemen’ tapi ini adalah realita yang juga ada di sekitar kita, ‘toxic relationship’.

Image Courtesy : Palari Film

‘Posesif’ membawa kita untuk mengenal bahwa kisah hubungan percintaan tidak melulu manis. Meski cenderung berkonstruksi pop dengan pemeran cowok yang ganteng dan cewek yang cantik,  namun kisah cinta mereka seolah membawa kita ke sebuah pandangan lain tentang cinta. Bukan pandangan romantis ala teen romance pada umumnya. Kita dibawa untuk terseret ke dalam kelamnya hidup Yudhis dan tertekannya hari Lala. Tone cerita yang sebetulnya colorful dengan cukup banyak adegan yang berwarna-warni dan musik yang beragam, pada akhirnya malah terasa kosong dan hampa karena kelamnya alur cerita. Dalam beberapa kesempatan, film ini memang disebut-sebut sebagai sebuah film ‘suspence romance’, dimana kita akan ikut merasakan rasa tertekan untuk berada dalam hubungan Yudhis dan Lala. Dapat dipahami mengapa film ini menyabet beberapa nominasi FFI Karena penuturan yang baik serta jalinan cerita yang terasa orisinil. ‘Posesif’ memang bukan film cinta yang akan membuat kita terbayang-bayang indahnya cinta pertama, atau warna-warninya kisah kasih masa SMA. Tetapi saya yakin, ‘Posesif’ mampu membangkitkan sebuah nostalgia, nostalgia yang sebetulnya ingin kita pendam dan jadikan rahasia. ‘Posesif’ mampu menjadi detektif yang membongkar deep dark secret yang kita pendam, dan membuat kita menjadi berpikir tentang diri kita, pasangan (jika bukan jombs bond), dan cara kita menjalin hubungan.

 

Entertaining yet destructing.

A solid addition untuk perfilman nasional kita.

8/10

Memorable Line: Yudhis: “Angkat dong La teleponnya, katanya dari sahabat?”


Kutu Klimis

Just sit and talk about football, Manchester United, or movies, and we will be good buddies in no time.