Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017): Perjuangan lewat Keindahan


Review Share to
Sutradara: Mouly Surya
Penulis: Garin Nugroho, Mouly Surya, Rama Adi
Pemeran: Marsha Timothy, Yoga Pratama, Dea Panendra, Egy Fedly
Genre: Drama, Thriller
Durasi: 90 Menit
Credit: beritagar.id

Satu lagi Film Indonesia di tahun 2017 yang tak boleh Kawan Kutu lewatkan. Film arahan Mouly Surya (Fiksi. [2008], Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta [2013]) ini telah malang melintang di berbagai festival film internasional mulai dari Cannes (Film Indonesia pertama yang tayang di Cannes Film Festival dalam 12 Tahun terakhir), hingga diganjar penghargaan Aktris Terbaik pada Sitges – Catalonian International Film Festival untuk Marsha Timothy.

Menyaksikan Marlina bagai masuk dalam sebuah perjalanan unik nan penuh tantangan, dimana kita disuguhkan begitu banyak pengalaman pandang menakjubkan di setiap potongan adegannya. Dengan durasi total 90 menit, Mouly Surya bersama sinematografer Yunus Pasolang secara detail menyuguhkan sinematografi apik yang tak pernah sekadarnya. Foto-foto anggota keluarga di ruangan tengah, set dapur dengan segala perabotannya, berkas-berkas kerja pak polisi yang tak tertata, hingga setandan pisang yang menggantung di jendela jaring sebuah rumah makan pun tak luput dari perhatian.

Credit: IMDb

Dengan modal bentang alam Sumba (Nusa Tenggara Timur) yang memang luar biasa indah, kita diajak untuk mengikuti petualangan sekaligus perjuangan Marlina dalam mencari keadilan. Konflik langsung dihadirkan di babak 1, saat kehidupan tenang Marlina diusik kedatangan Markus dan kelompoknya yang ingin merampas ternak, juga harta paling berharganya, Kehormatan.

Hidup sebatang kara, Marlina memiliki latar kisah sedih lantaran ditinggal mati anaknya yang saat itu masih dalam kandungan. Datangnya Markus dan kawan-kawan, sempat membuat Marlina merasa tak berdaya. Memang dasar wanita tangguh, Marlina pun menampilkan siasat ala-ala kisah detektif guna menyingkirkan mereka semua.

Yang menarik, ketika akhirnya Marlina terbebas dari Markus (dan kawan-kawan), dirinya tetap ingin melaporkan mengenai apa yang terjadi kepada pihak berwajib.

Marlina tangguh, tapi tetap seorang wanita yang polos, atau justru sadar hukum(?).

Dalam babak selanjutnya, Marlina mesti menghadapi anak buah markus yang menuntut balas. Pertemuannya dengan Novi, temannya yang hamil tua dan selalu merindukan sang suami nun jauh disana (mencari nafkah), membuat kisah Marlina menjadi hangat, gak ketebak, dan tak jarang jenaka. Interaksinya dengan seorang bocah perempuan yang namanya persis dengan mendiang anaknya, mampu menjadi tambahan drama, juga salah satu faktor perkembangan karakter dari Marlina.

Humor-humor kering yang tercipta lewat dialog Novi dengan Marlina, juga bentuk interaksi dengan karakter-karakter lain dalam perjalanan, menjadikan film ini terasa jujur, segar, juga menandakan bahwa skrip digarap dengan sangat baik.

Credit: Cinesurya

Akting dari para pemain seperti Marsha Timothy, Egy Fedly, dan Yoga Pratama memang tak perlu diragukan lagi. Ketiga karakter yang dimainkan mereka, merupakan nyawa di film ini. Namun yang paling mencuri perhatian saya adalah Dea Panendra si pemeran Novi. Aktris jebolan Indonesian Idol ini dengan matang mampu menjadi sosok wanita supel, Independen, penuh tekad, juga setia. Bagi Marlina, Novi layaknya cerminan diri. Hamil tua dan gagal punya anak, menjadi hubungan diantara keduanya.

Makeup dan musik scoring merupakan elemen penyempurna yang tak kalah krusial. Wajah para karakter yang legam akibat kondisi alam dan terik matahari, warna-warna bibir pertanda nyirih, dibalut syahdu dengan suara hembusan angin dan musik-musik khas bernuansa film Western. Lagu daerah yang dinyanyikan Franz (Yoga Pramata) juga turut menambah keindahan film ini. Juaranya, tentu saja petikan alat musik khas Sumba oleh Markus.

Credit: IMDb

Budaya Sumba tersaji jelas lewat bahasa, pakaian, lagu, juga adat istiadat. Salah satunya pengawetan mayat. Sosok misterius di ruang tengah rumah Marlina ternyata merupakan mumi. Menjelang ending, kita akan diperlihatkan secara eksplisit bagaimana proses mayat diawetkan. Meskipun ada beberapa lubang plot dan pemotongan scene (versi Bioskop), hal tersebut tak mengurangi kemagisan film ini.

Secara garis besar, Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak berhasil menjadi gambaran perlawanan perempuan dari ketidakadilan yang diterima mereka. Pun birokrasi hukum yang masih semrawut dan belum meratanya pembangunan di Negara ini, tak lepas dari sorotan.

Mouly Surya dan segenap tim bukan hanya mampu menampilkan salah satu kekayaan budaya di Indonesia, namun berhasil membawa warna baru bagi Industri film tanah air, melalui puisi visual serta narasi yang indah mengenai sebuah perjuangan.

PS: Film ini masuk kategori 21+

Rating: 8.2/10


Kutu Butara

"..............................................................," - Lee Chandler, Manchester by the Sea (2016)