Justice League (2017) ; When Superheroes Needs A Shoulder To Rely On.


Review Share to

[Minor Spoiler Alert]

Director : Zack Snyder

Runtime : 120 Minutes

Genre : Superheroes, Action, Fantasy

Casts : Ben Affleck, Henry Cavill, Gal Gadot, Jason Momoa, Ezra Miller, Ray Fisher, Amy Adams, Jesse Eisenberg, Jeremy Irons, Diane Lane, J. K. Simmons

 

Jadi, darimana saya harus mulai? Tahun ini adalah tahun yang cukup menyenangkan untuk penikmat genre superhero. Terutama yang tidak tebang pilih dan terlalu “keblenger” pada satu “rumah”. Setelah pertengahan bulan lalu Dewa Asgard sudah hadir di bioskop,  kali ini giliran geng superheroes andalan DC yang mejeng. Meskipun di awal saya mengatakan tidak tebang pilih,  tapi sejujurnya,  saya adalah salah satu pribadi yang pernah memiliki cita-cita menjadi pelindung Gotham. Karena hal itu pula lah saya ngotot untuk menyaksikan jam pertama penayangan film ini. Seperti Thor, saya mengorbankan waktu istirahat saya yang berharga untuk menyaksikan film yang sejujurnya sedikit saya nilai secara skeptis karena,  well, you know,  BvS,  Suicide Squad. Meskipun begitu saya tidak pernah tidak excited untuk menghitung hari penayangan film yang melibatkan Bruce Wayne.  Isyarat bahwa film ini salah satu film besar nan mahal ditandai dengan durasi iklan yang saya rasa cukup panjang,  kurang lebih sekitar 15 menit  sebelum film dimulai.

Secara mengejutkan, Justice League mampu melanjutkan tren yang telah dibangun Wonder Woman, yaitu first impression yang baik. Bagi saya,  3 menit awal adalah menit-menit krusial untuk menarik minat penonton dan meyakinkan bahwa film yang mereka saksikan merupakan film yang bagus, and i’m hooked by the first 3 minutes of this movies. Zack Snyder pun saya rasa sedikit melunak untuk mempertahankan tone kelam yang biasa ia bawa dalam film-filmnya.  Meskipun tetap temaram,  namun Justice League terasa lebih light,  dan lebih memiliki harapan. Zack Snyder seolah mencoba untuk memainkan kesan temaram bukan hanya melalui tone,  tetapi menggunakan elemen-elemen penunjang,  seperti opening yang diiringi oleh “Everybody Knows”  nya Leonard Cohan(yang dibawakan oleh Sigrid untuk film ini) dengan lirik yang menggambarkan ‘dunia’ dalam film Justice League,  dimana mereka sedang berkabung atas kematian sang Man of Steel. Lirik dari lagu tersebut seolah menggambarkan bahwa “World without Superman = World without hope“.  Tetapi kemudian, film ini seolah terburu-buru untuk menampilkan adegan demi adegan yang membuat build up yang menjadi poin penting sedikit terabaikan.

Kekuatan dan ciri khas dari masing-masing karakter memberikan dinamika tersendiri dalam film ini. Masing-masing karakter seolah memberikan impresi yang kuat atas diri mereka dan seolah mencoba merepresentasikan tagline “Justice Unite” dimana sebetulnya mereka bergabung atas nama “Justice”  sehingga karakter mereka tidak saling terbawa dan mampu berdiri sendiri sebelum akhirnya masing-masing karakter menemukan best version of them untuk menjadi sebuah tim.  Batman being Batman,  Wonder Woman being herself, Cyborg and Flash being kids in a suit,  and Aquaman being a man who can talk to fish.  Tidak ada karakter yang saling mempengaruhi dan membawa karakter lain untuk fading ke dalam karakternya.  Tetapi seiring berjalannya film, mereka mampu meleburkan perbedaan untuk membentuk sebuah adegan tim yang cukup solid. Saya cukup menggemari karakter Flash yang dibawakan dengan cukup baik oleh Ezra Miller, dimana bagi saya seharusnya Flash memiliki jatah scene sedikit lebih banyak. Musik pengiring pun tetap menjadi kekuatan DC dalam film-filmnya(bahkan film yang paling buruk macam Suicide Squad)dimana dengan cerdik mereka menyelipkan theme sound Batman dan Superman dari era 80an yang membawa elemen nostalgia tersendiri untuk penonton-penonton yang memang sudah menjadi “pemuja setia”. Namun untuk pertama kalinya saya merasa bahwa sosok Batman berada di titik terbawah disini, di satu sisi saya cukup terhibur dengan penggambaran tersebut, namun di sisi lain saya merasa seolah Batman dibuat lebih inferior dibanding yang lain terlepas dari fakta bahwa hanya Bruce satu-satunya ‘manusia normal’ disini.

Tetapi tentunya masih banyak yang seharusnya bisa lebih baik dari film ini. Satu hal yang entah mengapa sulit dilakukan oleh Zack Snyder dalam film-filmnya, adalah story telling yang padat dan efektif.  Memang tidak bisa sepenuhnya disalahkan,  mengingat dalam film ini,  baru Wonder Woman saja yang memiliki background history dalam film solonya.  Zack memiliki pr tersendiri dalam membangun  karakter Aquaman,  Flash,  dan Cyborg yang baru pertama kali hadir di layar lebar.  Tetapi kemudian, perpindahan beberapa adegan masih terasa kurang smooth.  Kekurangan lainnya adalah terasa pada “rasa gatal”  pihak Warner Bros dalam promosi.  Saya tidak cukup piawai dalam memahami,  mengapa Warner Bros berpikiran untuk menelurkan banyak tv spot dan promo disamping 3 trailer utama yang mereka rilis.  Hal tersebut berdampak pada hampir 40% adegan yang cukup familiar yang hanya tinggal digabung-gabung dari You Tube untuk mendapatkan 1/4 bagian cerita keseluruhan. Hal ini pun membuat perpindahan adegan terasa seperti gabungan potongan-potongab pendek dari klip di You Tube, dan seolah mengulangi kesalahan yang sama, ada beberapa adegan yang dirasa kunci pada trailer, tidak terlihat saat film berlangsung. Isu yang berhembus bahwa film ini terkena pangkas durasi sebanyak hampir 60 menit pun membuat strategi Warner Bros semakin dipertanyakan, karena seolah ingin mengeruk untung sebesar-besarnya dengan memaksakan versi uncut untuk dirilis dalam bentuk home video.

Selain itu saya merasa bahwa menahan-nahan Superman untuk ditampilkan, membuat mereka berhutang pada penonton untuk memberikan momen come back yang wah bagi sang Kryptonian,  yang mana momen ia kembali terasa menggelegar namun hambar secara bersamaan.  Ada plot hole menganga ketika momen Supes bangkit hingga proses gaining himself back.  Saya rasa sebetulnya sudah menjadi rahasia umum bahwa Superman pasti kembali disini, tetapi cara ia kembali seolah terlalu maksa dan kurang build up yang menyebabkan beberapa adegan terasa dipadatkan. Kekurangan paling besar dalam film ini berada pada efek CGI. Entah apakah pihak studio kekurangan modal,  berusaha irit,  atau sudah habis-habisan dalam merekrut pemeran,  tetapi efek CGI di film ini terasa seperti film kelas B, dimana banyak adegan yang amat ketara dilakukan dalam studio yang mendapat efek green screen serta adegan-adegan lain yang kurang smooth ketika berpadu. Steppenwolf yang menjadi villain utama pun terlihat kaku dan kurang maksimal meskipun tampil dengan cukup garang dan kuat. Meskipun begitu, scene serbuan Steppenwolf ke Themyscira merupakan salah satu scene terbaik di film ini.

Secara keseluruhan, Justice League merupakan film yang fun. Tetapi itu saja. Tidak ada kesan yang cukup mendalam yang ditinggalkan. Film ini seolah terlalu memaksa untuk mencoba menjadi seperti Marvel dan terlalu mencoba untuk menjadi sesuatu, dikala sebetulnya mereka sudah memiliki lebih dari cukup untuk memberikan sesuatu. Script yang kurang solid, penataan lighting yang terkadang kurang pas, serta efek CGI yang cukup mengecewakan membuat DC tetap memiliki catatan tersendiri untuk franchise mereka ke depannya. Namun dapat saya amini bahwa Justice League kali ini berhasil menjadi film fan service yang cukup menghibur. Easter Eggs “Janus” dan Lantern, ‘duel’ Flash dan Supes di post credit scene awal, dan kehadiran “The Terminator” pada post credit scene ke dua(yeah there are 2 post credit scenes) mampu membuat saya melonjak kegirangan dari kursi saya dan membuat orang-orang melihat saya seolah saya tidak memakai bawahan.  Pada akhirnya, bagi saya Justice League cukup berhasil menjadi sajian yang menghibur, tetapi butuh usaha ekstra bagi DC untuk mengembangkan franchise ini ke depan.

6.8 out of 10. 

Memorable Line : “So tell me, do you bleed?'” – The Man of Tomorrow (No, It’s not from wrong movies)


Kutu Klimis

Just sit and talk about football, Manchester United, or movies, and we will be good buddies in no time.