Galih dan Ratna (2017): Gita Cinta Masa Kini


Review Share to

Sutradara: Lucky Kuswandi
Penulis: Fathan Todjon, Lucky Kuswandi
Pemeran: Sheryl Sheinafia, Refal Hady, Marissa Anita, Joko Anwar, Ayu Dyah Pasha
Genre: Drama
Durasi: 112 Menit

Wahai Galih, duhai Ratna. Tiada petaka merenggut kasihmu.

Penggalan lirik lagu di atas pertama kali terdengar dari ibu saya, yang sesekali menyanyikan lagu Galih dan Ratna. Lagu itu pun akhirnya membekas di otak hingga kini. Padahal ibu saya lebih sering melantunkan lagu-lagunya Vina Panduwinata. Namun selain lagu Burung Camar, Galih dan Ratna menjadi salah satu lagu “jadul” favorit saya sampai saat ini.

Saat itu, saya tak tahu menahu tentang Galih dan Ratna. Ya hanya sebatas judul lagu saja. Namun lama kelamaan, saya mulai mengetahui bahwa lagu itu dibuat untuk film Gita Cinta dari SMA (1979). Sebuah film tentang dua remaja SMA yang diambil dari novel karya Eddy Iskandar. Kini tokoh Galih dan Ratna hadir kembali di tahun 2017. Tentu ada rasa penasaran tentang bagaimana jadinya jika mereka dibuat di era modern seperti sekarang.

Bisa dibilang garis besar cerita Galih dan Ratna masih sama dengan apa yang hadir di film terdahulunya. Hanya saja Lucky Kuswandi menyesuaikannya dengan kondisi masa kini. Dan usahanya pun membuahkan hasil yang tak mengecewakan. Karena nyatanya hal itu dilakukan dengan rapi dan baik.

Karakter Galih maupun Ratna dibangun secara perlahan dari awal film. Hal ini dilakukan dengan cara memberi gambaran latar belakang masing-masing tokoh. Sedikit demi sedikit diceritakan bagaimana konflik yang hadir di keluarga mereka masing-masing. Sesuatu yang berbeda jika boleh saya membandingkan dengan film aslinya. Karena di Gita Cinta dari SMA, konflik keluarga baru hadir di tengah-tengah film.

Langkah itu pun yang akhirnya membuat konflik utama di film ini terasa begitu kuat dan solid. Ya karena kembali lagi ke awal, bahwa di dalam diri Galih dan Ratna pun telah memiliki permasalahan sendiri. Jadi, latar belakang merekalah yang pada akhirnya akan membentuk konflik utama di film ini.

Satu hal yang menarik dari film ini adalah pemilihan kaset sebagai salah satu senjata utama. Seperti yang kita tahu, saat ini kaset sudah menjadi barang kuno yang hampir tak terpakai sama sekali. Penggunaan unsur kaset juga membuat karakter Galih menjadi unik. Seolah mendukung Galih menjadi orang proletar yang “menolak” teknologi.

Elemen kaset tersebut juga menjadi salah satu cara yang dilakukan Lucky Kuswandi untuk menebalkan kesan nostalgia dalam film. Keren sih, menurut saya. Karena sineas ini ingin membawa kembali tokoh ikonik pada zaman dulu, dan sekaligus mengangkat sesuatu yang hampir punah, dalam waktu yang bersamaan.

Selain itu keberanian sang sineas untuk mengganti isu tentang cinta yang terbentur oleh perbedaan suku juga harus diapresiasi. Karena di Gita Cinta dari SMA, hal itu adalah sesuatu yang krusial. Film ini pun pada akhirnya menghadirkan permasalahan eksistensi dan cita-cita remaja di masa sekarang.

Namun terlepas dari itu semua, film ini juga memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya adalah dari minimnya dialog antara Galih dan Ratna. Sebenarnya ya tidak sedikit banget gitu, hanya saja saya memang berharap di film drama seperti ini akan ada dialog yang padat. Karena biasanya dialog bisa dijadikan senjata ampuh untuk menutupi “kesederhanaan” plot cerita.

Akibatnya, ada beberapa momen yang kesannya kurang kuat. Padahal Sheryl dan Refal menurut saya menampilkan performa yang baik. Para pemeran pendukung juga akhirnya tak memiliki banyak waktu untuk membangun karakter mereka.

Selain itu, dari unsur tentang musik juga kurang. Padahal Galih dan Ratna banyak menghabiskan waktu untuk membicarakan tentang kaset. Minat Ratna dengan musik juga kurang dieksplorasi lagi, padahal dia berniat untuk sekolah musik.

Secara keseluruhan, Galih dan Ratna adalah salah satu film drama yang tak mengecewakan. Mulai dari performa para aktor hingga ke penulisan skrip, saya rasa film ini memang unggul, apalagi jika dibandingkan dengan film remaja lainnya. Untuk menjadi sesuatu yang fenomenal seperti dulu, bisa saja sebenarnya tetapi memang sulit. Karena tokoh Galih dan Ratna sendiri telah tergeser ketika Ada Apa dengan Cinta hadir.

Selain itu, pemberian CD tracklist ketika membeli tiket film ini juga menjadi daya tarik tersendiri. Ya itu juga membuat saya teringat masa kecil. Ketika ibu saya lebih sering melantunkan lagu Galih dan Ratna ketimbang menonton sinetron dan main Facebook. Hehe.

Oh ya, film Galih dan Ratna adalah sebuah kesempatan untuk kalian yang ingin menghabiskan waktu bersama orang tua. Ya jarang-jarang kan ada film baru yang bisa menarik perhatian dua generasi yang berbeda.

Rating: 7/10


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater