Me and Earl and the Dying Girl (2015)


Review Share to

Sutradara: Alfonso Gomez-Rejon

Penulis: Jesse Andrews

Pemeran: Thomas Mann, RJ Cyler, Olivia Cooke, Nick Offerman, Jon Bernthal

Genre: Drama, Komedi

Durasi: 105 Menit

Salah satu alasan saya tertarik untuk menonton film ini adalah dari judulnya. Ada sebuah pertanyaan yang datang tiba-tiba saat melihat judulnya. “Kenapa harus Me and Earl and the Dying Girl, sih? Kenapa enggak langsung, Me, Earl, and the Dying Girl?” Ya, saya memikirkan kenapa harus menggunakan dua “and”. Tentu ada alasan tersendiri mengapa si penulis melakukannya.

Oh ya, film ini adalah adaptasi dari novel karya Jesse Andrews dengan judul yang sama. Tenang saja Kawan Kutu, kalian tetap bisa mengerti dan menikmati film ini tanpa harus membaca bukunya, kok. Karena cerita dari Me and Earl and the Dying Girl memang tersaji dengan rapi dan tak berbelit-belit.

Jadi film ini bercerita tentang kehidupan sosial Greg (Thomas Mann), lelaki dengan kepribadian dan fisik yang jauh dari kesan istimewa. Mudahnya, dia bukanlah tipikal orang yang populer di sekolah. Maka dari itu, Greg hanya punya satu teman dekat, Earl (RJ Cyler). Kehidupannya berjalan dengan baik-baik saja, tetapi itu harus sedikit berubah dengan hadirnya Rachel (Olivia Cooke), si “the dying girl”.

Me and Earl and the Dying Girl hadir dengan banyak narasi dari Greg, sejak awal film. Kita seolah dibuat untuk mengerti apa isi pikiran dan hati Greg secara gamblang. Namun hal itu tak membuat film ini terasa membosankan, karena apa yang diucap dalam monolog Greg terlihat saling mendukung dengan adegan-adegan yang hadir. Lagipula baik monolog dan dialog yang hadir juga banyak yang bisa memancing tawa kita.

Film ini memang mudah dinikmati karena menghadirkan realita kehidupan sehari-hari. Seperti bagaimana keadaan di sekolah, tempat di mana orang-orang bisa terbagi-bagi dalam grup kecil atau tentang masa-masa menjelang tamat SMA. Hal itu dibawakan dengan detail-detail yang membuat cerita karangan Jesse Andrews ini dekat dengan sehari-sehari.

Meski seolah film ini terlalu berpusat pada Greg, ternyata tidak juga. Karena pembentukan karakter Earl dan Rachel juga dibawakan dengan baik dan perlahan. Mereka tak hanya dibangun dari sudut pandang Greg saja, tetapi juga dari aksi para karakter tersebut.

Saya terkesan dengan perubahan suasana emosi yang terjadi di film ini. Perubahan itu dibangun secara perlahan melalui konflik-konflik kecil. Ya di luar dugaan memang, karena ternyata menggiring emosi pun bisa dilakukan tanpa harus menghadirkan adegan yang “mengejutkan”. Jadi emosi kita tak akan dilempar ke sana kemari. Film ini tak membuat kita kaget dari saatnya tertawa tiba-tiba kita disuruh bersedih. Ya itulah mengapa saya tak suka menonton Surga yang tak Dirindukan 2. Duh, maaf jadi melenceng.

Setelah menyaksikan keseluruhan film ini, saya sepertinya mulai mengerti mengapa ada dua “and” yang disematkan pada judul. Menurut saya, film ini memang benar-benar tentang Greg sebagai ‘me’. Bukan tentang Greg, Earl, dan the dying girl. Kisah ini tentang Greg dan Earl serta Greg dan the dying girl. Kasarnya, tak ada bagian yang benar-benar menunjukkan Earl dan the dying girl. Maka dari itu, rasanya lucu juga pada akhirnya menjadi Me and Earl and the Dying Girl.

Bagian yang saya suka dari film ini, selain tentang persahabatan, adalah tentang kenangan orang yang sudah pergi dari hidup kita. Ya dalam hidup, orang memang datang dan pergi, dan itu tak bisa kita cergah. Namun sejauh apa pun mereka pergi, kita tetap bisa mengenal dan mempelajari banyak hal tentang mereka. Seperti yang diucapkan guru Greg dan Earl, Mr.McCarthy (Jon Bernthal), “Even after somebody dies, you can still keep learning about them.”

Oh ya, film ini rasanya cocok untuk ditonton dengan pasangan atau gebetan kalian. Lagipula saya sudah bilang di atas, kalian tak perlu membaca bukunya untuk mengerti kok. Tenang saja.

Rating: 7.8/10


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater