‘Dunkirk’: Cold Blooded Yet Touching War Movie


Review Share to

Sutradara: Christopher Nolan
Penulis: Christoper Nolan
Pemeran: Fionn Whitehead, Tom Glynn-Carney, Jack Lowden, Harry Styles, Aneurin Barnard, James D’Arcy, Barry Keoghan, Kenneth Branagh, Cillian Murphy, Mark Rylance, Tom Hardy
Genre: Action, Drama, History, War
Durasi: 110 menit

War…War never changes

Line tersebut memang bukan dari film terbaru besutan Christopher Nolan, tetapi sedikit banyak menggambarkan apa yang coba disampaikannya melalui Dunkirk. Kawan Kutu pernah merasakan bagaimana rasanya dalam situasi terhimpit?

Dalam situasi tersebut biasanya kita akan melakukan hal-hal di luar akal sehat. Bisa kita ambil contoh dari dua kasus bunuh diri yang baru saja menghentak jagat berita. Mantan pacar Awkarin dikabarkan memilih untuk berhenti akibat himpitan masalah yang ia alami, dan juga vokalis band yang menemani sebagian besar masa kecil saya, Chester Bennington, juga memilih untuk “pulang” akibat terhimpit beban ketergantungan yang dialami. Dari dua kasus tersebut dapat kita tarik kesimpulan, bahwa tentunya berada dalam situasi di mana kita tidak memiliki banyak pilihan akan membuat mental kita jatuh.

Lantas apa hubungannya dengan Dunkirk? Sebelumnya bagi Kawan Kutu yang bingung “bagian mana di perang dunia sih Dunkirk ini dan apa sih istimewanya?”, saya akan sedikit memberi gambaran. Dunkirk adalah salah satu bagian sejarah Perang Dunia II. Kala itu 400.000 tentara gabungan Inggris dan Prancis berusaha untuk bertahan hidup dan keluar dari Dunkirk yang telah dibombardir dan dikepung oleh 800.000 lebih tentara Jerman.

Dunkirk merupakan nama daerah di Prancis, yang menjadi latar film ini. Battle of Dunkirk merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Perang Dunia. Sekitar hampir 330.000 tentara berhasil dievakuasi dari Dunkirk dengan bantuan, bukan hanya tentara, tapi juga warga sipil yang turut andil dalam evakuasi paling dramatis dalam sejarah tersebut. Bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi salah satu dari 400.000 orang tersebut?

Credit: IMDb

Well, tidak perlu basa-basi lebih lanjut, baru 5 menit adegan pembuka saya sudah mengetahui bahwa ini adalah film perang yang berbeda. Camera works, nuansa kelam namun teduh dan “indah”, alunan musik sendu, dan perubahan adegan yang intens membuat Dunkirk berbeda dengan film perang lainnya. Kita tidak akan disuguhkan ledakan ala Fury (2014), chaos ala Hackshaw Ridge (2016), atau penyelamatan penuh drama ala Saving Private Ryan. Dunkirk menghadirkan rasa trauma akan perang dengan cara tersendiri.

Menggunakan teknik pengambilan gambar yang ciamik, Nolan seolah membentuk “pengalaman” turut berada dalam medan peperangan bagi penontonnya, terlebih ditambah dengan paduan backsound yang detail. Suara ledakan yang meski tidak sering namun membekas, suara napas, teriakan, degup jantung yang tak beraturan, serta desingan peluru membawa penonton seolah turut berada di dalam peperangan. Dunkirk berjalan dalam tempo yang lambat dan dengan alur bercampur.

Film ini sendiri dibagi menjadi 3 event, di mana masing-masing event menggambarkan secara detail bagaimana situasi Dunkirk di darat, laut, dan udara. Event tersebut pun berjalan dengan waktu yang berbeda. Nolan dengan dinamis memadukan ketiga timeframe berbeda tersebut kedalam satu layar, di mana kita tidak akan sadar pada awalnya bahwa film ini tidak berjalan linear. Suguhan teknik pengambilan gambar yang begitu mempesona membuat daya tarik film ini semakin bertambah. Adegan peperangan menggunakan pesawat tempur begitu terasa intens, dengan posisi pengambilan gambar beberapa kali diambil dari sudut sang pilot tempur yang sedang berjibaku dalam kokpit.

Credit: IMDb

Namun hal yang membuat film ini begitu membekas bagi saya adalah fakta bahwa Nolan mencoba untuk mengambil sisi lain dari Dunkirk. Tidak ada perayaan kemenangan di sini, tidak pula sebuah ending dengan pengibaran bendera tanda hegemoni. Dunkirk adalah film tentang bertahan hidup, tentang bagaimana seorang tentara yang berdiri tipis di ambang hidup dan mati ingin berusaha pulang. Hal ini dipaparkan secara eksplisit dengan penggambaran situasi perang yang begitu kelam.

Film dengan dialog minim ini tidak memiliki karakter utama secara gamblang. Selain itu pembeda antar karakter di sini hanya dilukiskan dengan pangkat orang tersebut dalam pasukan. Hal tersebut semakin menegaskan bahwa bukan sisi personal yang ingin digambarkan oleh seorang Nolan dalam film ini, melainkan peristiwa Dunkirk itu sendiri. Meskipun dalam kredit setiap karakter memiliki nama, saya tidak begitu sadar momen di mana mereka saling memanggil nama dalam adegan. Beberapa adegan memperlihatkan bagaimana besarnya rasa putus asa beberapa tentara yang berada di sana, yang membuat kita begitu sesak menyaksikannya.

Pendekatan terhadap aktor untuk karakter mereka pun dibuat “sama rata” di sini. Tidak ada satu karakter paling mencuat dari yang lainnya, sehingga penonton akan terfokus pada cerita, bukan pemerannya. Penggambaran Jerman sebagai musuh pun tidak dibuat secara gamblang disini, yang mana sepanjang film, tidak ada nama Jerman yang dicuatkan. They only referred it as “the enemy”. Belakangan diketahui, hal tersebut dilakukan Nolan untuk membuat penonton penasaran dan mencoba untuk mencari tahu tentang fakta sesungguhnya dari peristiwa Dunkirk ini.

Film yang juga menjadi debut bagi Harry Styles ini, bagi saya kembali berhasil membuat nama Nolan semakin mantap di jajaran sutradara kelas wahid. Bertindak sebagai sutradara dan penulis, Nolan yang juga dibantu oleh Hans Zimmer di bagian scoring, berhasil menambah portofolio perfilmannya dengan genre baru yang mampu direpresentasikan dengan detail dan khas. A cold blooded war movies yet a touching one.

Rating: 9,5/10

Catatan:
Pengalaman menonton film ini akan lebih terasa maksimal bila disaksikan di studio IMAX.


Kutu Butara

Biasanya demen nonton film ruang sempit dan serial crime/thriller.