Avengers: Infinity War (2018); The End, Finally Arrive.


Review Share to
Sutradara: Anthony Russo, Joe Russo
Penulis: Christopher Markus, Stephen McFeely
Pemeran: Karen Gillan, Elizabeth Olsen, Josh Brolin, Carrie Coon, Tom Holland, Scarlett Johansson, Chris Pratt, Chris Evans, Pom Klementieff, Chris Hemsworth, Sebastian Stan, Robert Downey Jr, Zoe Saldana, Tom Hiddleston, Benedict Cumberbatch, Idris Elba, Chadwick Boseman, Dave Bautista, Letitia Wright, Vin Diesel, Danai Gurira, Benicio Del Toro, Paul Bettany, Bradley Cooper, Gwyneth Paltrow, Peter Dinklage, Mark Ruffalo, Anthony Mackie, Winston Duke, Benedict Wong
Genre: Action, Adventure, Superheroes
Durasi: 149 Menit

Sebelum kita mulai review ini, saya akan mengajak Kawan Kutu untuk napak tilas pada langkah yang kita lalui sebelum akhirnya Infinity War saat ini hadir di bioskop. Kawan Kutu ingat dengan announcement ini?

Sekadar pengingat, video tersebut rilis pada Januari 2017 lalu, ketika proses syuting dan produksi back to back Infinity War serta sekuelnya dimulai. Siapa yang kemudian tidak sabar untuk segera  menyaksikannya?

Lalu kemudian, pada November 2017 lalu, akhirnya untuk pertama kali, kita dapat menyaksikan cuplikan awal pada trailer di atas. Siapa yang menonton trailernya lebih dari satu kali?

Seakan belum cukup, kemudian kita disajikan trailer final di atas dan beberapa Tv spot berikut:

Well, menunggu adalah hal paling menyebalkan bagi beberapa orang, apabila itu adalah hal yang tidak pasti. Namun menunggu bisa menjadi hal yang menyebalkan, sekaligus mendebarkan ketika kita tahu yang kita tunggu adalah hal yang menjanjikan. Setidaknya semenjak Thanos pertama kali menampilkan senyum jahatnya pada after credit Avengers pertama 5 tahun lalu, saya cukup antusias untuk menantikan ke arah mana semesta Marvel akan mengarah dan bagaimana sang Mad Titan akan mendapat panggungnya.

Seiring berjalannya waktu, Marvel seolah berjalan selangkah demi selangkah untuk memberikan sebuah rangkaian cerita panjang dan besar sebagai “pesta” mereka. Akuisisi Disney kepada Marvel yang awalnya dianggap sebagai sebuah “kemunduran” pada kualitas serta sasaran pasar film mereka, justru kini menjadi kekuatan besar yang mampu membawa semesta Marvel ke dalam sebuah pembentukan gargantua untuk keseluruhan film mereka.

Tercatat sejauh ini dalam 3 phase dan rentang waktu 10 tahun semenjak Hulk dan Iron Man membuka jalan MCU pada 2008 lalu, tidak kurang dari 18 judul film yang mereka susun sebagai sebuah fondasi untuk memuluskan jalan sang Mad Titan melakukan “safari” nya berkeliling galaksi. Belum lagi ditambah serial televisi yang (meskipun tidak secara langsung terlibat) tetapi turut menjadi bagian dari semesta gargantua mereka.

Satu alasan kuat mengapa Marvel mampu memiliki fondasi kuat adalah, meskipun 18 judul film mereka bukan keseluruhan film Avengers, namun beberapa film mereka tetap membuat Thanos sebagai benang merah yang benar-benar dipersiapkan untuk sebuah pesta meriah. Setelah penampilan perdana pada Avengers, Ia kemudian kembali tampil pada Age Of Ultron yang menunjukkan sekilas aksinya mengenakan Infinity Gaunlet dan pada dwilogi Guardians of Galaxy, dimana semakin menancapkan fondasinya dengan fakta bahwa Thanos merupakan ayah angkat dari Gamora dan Nebula, karakter utama GOTG.

Pada 2018 ini, pesta besar mereka akhirnya tiba. Thanos yang selama ini hanya ditunjukkan pada cuplikan-cuplikan after credit, akhirnya mengajak pasukannya (yang juga anak angkatnya), yaitu Black Order, yang terdiri dari Corvus Glaive, Ebony Maw, Proxima Midnight, and Cull Obsidian.

Avengers: Infinity War benar-benar menjadi sebuah klimaks dari 10 tahun perjalanan MCU dalam merangkai fondasi mereka. Pembentukan cerita yang kuat, dengan memberi kita petunjuk dimana 2 Infinity Stone tersimpan, memecah belah Avengers pada event Captain America: Civil Wars, menambah Doctor Strange sebagai pemilik Time Stone pada Eyes of Agamoto miliknya, dan Loki yang kembali berulah membawa Tesseract dari Asgard sesaat sebelum Ragnarok yang menghancurkan Asgard dan penambahan Wakanda, membuat Infinity War menjadi sebuah film dengan alur serta konflik yang kompleks.

Melibatkan tidak kurang dari 70 karakter yang telah terlibat pada 18 film tersebut, film ini disebut-sebut sebagai salah satu crossover paling ambisius dan memakan dana produksi hingga 300 juta dollar Amerika, dan tercatat sebagai film termahal yang pernah diproduksi oleh Marvel. Cerita pada Infinity Wars terinspirasi dari komik “The Infinity Gaunlet” karya Jim Starlin di tahun 1991 dan komik “Infinity” karya Jonathan Hickman di tahun 2013. Mengambil set 2 tahun setelah event Captain America: Civil War, Avengers: Infinity War menampilkan sebuah sajian yang well crafted.

Seperti sudah saya sebut sebelumnya, bahwa film ini memiliki alur serta konflik yang amat kompleks, namun Russo Brothers mampu mengarahkan film ini dengan apik. Tautan setiap adegan yang mengambil setidaknya 3 setting berbeda sekaligus pada waktu yang bersamaan, membuat Infinity Wars menjadi rekor tersendiri bagi saya, dimana saya rela menahan untuk ke kamar kecil sepanjang film demi menyaksikan tiap detik adegannya. Film ini tidak memakan musik scoring yang boros, tetapi benar-benar menampilkan aksi yang cukup untuk menjadi alasan mengapa zombie pada film Night of Living Dead-nya George A Romero bangkit dari kubur mereka.

Langsung dimulai dengan prolog yang “melonjak”, 149 menit durasi film ini merupakan tampilan well packaged dari gabungan drama, aksi, dan nostalgia. Transisi setiap adegan dimana masing-masing adegan memiliki tone serta tensi tersendiri tetap terjaga dan terjalin dengan rapi satu sama lain. Film ini pun mampu menjaga tensi aksi mereka bahkan ketika adegan melankolis, which is one of the things that I love from this movie sehingga terlihat tidak terlalu mendramatisir adegan ketika sebenarnya adegan tersebut memang dramatis, bahkan tragis. Seluruh cast dan karakter yang terlibat pun mendapat porsi yang sama untuk menjadi bagian integral dalam setiap adegan di film ini.

Russo Brothers pun membuktikan ucapannya ketika mengatakan bahwa Avengers: Infinity War akan menjadi sebuah akhir sekaligus awalan bagi Marvel Cinematic Universe di masa yang akan datang, dimana film ini akan menjadi gerbang menuju Phase 4, yang juga menjadi cue bagi superheroes “legendaris” mereka untuk memberi jalan bagi nama-nama baru yang sedang dipersiapkan. Selain itu cameo-cameo tak terduga dari karakter-karakter lawas serta cast jempolan menambah daya Tarik tersendiri untuk film ini.

Namun dibalik segala hegemoni keberhasilan yang disajikan Infinity War, sebenarnya ada 1 hal yang sedikit luput untuk diperhatikan. Alih-alih menikmati jalan cerita detail ala Winter Soldier atau Civil War, Infinity War terkesan terlalu berambisi untuk menjadi “a mega bomb for blockbuster”, sehingga meskipun alur cerita saling berkaitan, film ini sedikit kurang sentuhan dalam pendalaman cerita, karena masing-masing set untuk scene film ini keseluruhan menampilkan peperangan besar yang harus dihadapi oleh Avengers.

Tetapi tentunya kita semua berharap bahwa kekurangan tersebut akan tertutup pada part ke 2 atau seri pamungkas bagi perjalanan panjang dari The Earth Mightiest Heroes, yang akan rilis pada Mei 2019 mendatang. Untuk saat ini? Well, just shut our mouth and enjoy bagaimana Thanos memenuhi hasratnya berkeliling galaksi untuk melengkapi koleksi batu akik yang amat ingin ia miliki.

Memorable Line:
Gamora: “Well, what did you lose?”
Thanos: “Everything.”

Kutu Klimis

Just sit and talk about football, Manchester United, or movies, and we will be good buddies in no time.