The Salesman (2016)


Tulisan Pembaca Share to

Sutradara: Asghar Farhadi
Penulis: Asghar Farhadi
Pemeran: Taraneh Alidoosti, Shahab Hosseini, Babak Karimi
Genre: Drama, Thriller
Durasi: 124 menit

Credit: IMDb

My absence is out of respect for the people of my country.” – Asghar Farhadi

Kutipan di atas adalah sepotong kalimat dari speech yang Asghar Farhadi tulis saat The Salesman menang di Oscar, Februari 2017 kemarin, untuk kategori Best Foreign Language Film. Ini merupakan Oscar kedua buat dirinya, setelah menang juga di kategori yang sama melalui A Separation (2012). Beliau sengaja gak hadir, sebagai bentuk protes atas kebijakan #MuslimBan yang menutup pintu masuk AS buat 7 negara, termasuk negaranya om Farhadi, Iran. Entah kebetulan atau emang sengaja, The Salesman garapannya dia, menang di perhelatan bergengsi itu.

The Salesman sendiri adalah film bergenre drama-thriller dan mengambil setting di kota Tehran. Alkisah suatu malam, Emad (Shahab Hosseini) dan istrinya Rana (Taraneh Alidoosti), bersama penghuni lainnya terpaksa harus keluar dari gedung apartemen mereka yang goyang. Seperti terkena gempa dan mau runtuh, karena bangunannya memang sudah tua. Walaupun akhirnya tidak benar-benar runtuh, gedung apartemen itu udah tak layak dihuni lagi karena rusak. Alhasil, sepasang suami istri ini harus mencari tempat tinggal lain.

Tak memakan waktu lama, mereka menemukan flat yang lusuh dan kumuh. Kebetulan flat ini pemiliknya juga teman Emad sendiri, Babak Karimi (Babak). Emad beserta istri memutuskan untuk tinggal di situ. Masalah tak berhenti sampai sana. Waktu mereka pindahan ke flat yang baru, di suatu ruangan yang terkunci masih ada banyak barang-barang milik seorang wanita yang sebelumnya tinggal disitu. Dan setelah ditelusuri, rupanya wanita ini seorang prostitute. Walaupun udah dihubungi berkali-kali, si wanita ini tetep enggan mengambil barang-barang lamanya, yang memang sangat banyak. Jadi, terpaksa barang-barang milik si prostitute ini dipindahkan ke halaman depan setelah ruangan itu dibuka secara paksa.

Credit: IMDb

Emad adalah seorang guru sastra di sebuah sekolah menengah atas, merangkap sebagai pemain drama/teater bersama istrinya, Rana. Mereka setiap malam memainkan drama Death of a Salesman karya Arthur Miller tahun 1949. Kehidupan mereka yang tanpa dihadiri seorang anak, tampak sederhana dan gitu-gitu saja. Sampai pada suatu malam, Rana harus pulang lebih dulu karena Emad masih harus tinggal di teater karena ada urusan. Saat itu Rana lagi asyik mandi, tiba-tiba ada yang membunyikan bel, dan Rana tanpa pikir panjang untuk membukakan pintu dan balik lagi ke kamar mandi, tanpa melihat siapa yang datang.

Iya, tanpa melihat dan memastikan siapa yang datang. Karena dia pikir itu adalah si Emad yang pulang. But we all know, in this kind of movie surely it’s not Emad, it was never Emad. Sampai saat di mana beneran Emad yang pulang dan langsung bergegas naik ke flat, karena liat darah berceceran di tangga dan menemukan pintu terbuka, mengecek kamar mandi, dan di situ sudah merah bersimbah darah. Namun tak ada Rana di situ.

Tenang, tenang. Rana rupanya sudah dibawa ke rumah sakit oleh tetangga karena mereka dengar suara teriakan dan langsung menghampiri. Laki-laki (dikonfirmasi langsung oleh Rana) yang menyerang dan melukai Rana sudah tak ada ketika para tetangga tiba di flat. Rana terluka parah di bagian kepala.

Bukan hanya fisik aja, tapi juga mental dia yang trauma. Tidak berani lagi untuk mandi, tak berani lagi untuk mandi di kamar mandi yang sama, tidak berani untuk tinggal di flat sendiri. Pokoknya, Rana menjadi benar-benar cupu dan menjadi buah bibir para tetangga, dan di sinilah konflik dimulai. Emad mulai frustasi mengurus Rana yang rewel, bahkan merambat ke drama teater yang mereka mainkan bersama. Bahkan juga terbawa saat Emad mengajar di sekolah. Pasangan suami-istri ini mengalami masa-masa berat setelah kejadian itu. Apalagi Emad, yang tetap tidak terima atas kejadian yang menimpa istrinya, terus mencoba mencari pelakunya

But somehow, Emad menemukan kunci mobil di flat mereka, yang diyakini milik si laki-laki yang menyerang istrinya. And against all the odds, mobil dari si kunci ini juga dia temukan. Sebuah mobil pick-up, diparkir tak jauh dari flat mereka. Usaha sang suami akan pencarian terhadap sang pelaku perbuatan keji itu pun dimulai. Dan kalian tak akan bisa menduga, pelaku sebenarnya siapa.

Credit: IMDb

Sudah cukup lama saya tak menonton film drama-thriller se-powerful film ini. The Salesman pembawaannya tenang, tidak terburu-buru. Asghar Farhadi sebagai sutradara dan penulis skrip memang juara kalau bikin film tipe seperti ini. Semua adegan dibuat sesederhana mungkin, tiap-tiap scene bakal kalian liat bahwa semuanya itu natural. Semua pemeran dalam film ini kayak bukan akting sama sekali. Ya, kayak lagi hidup biasa saja. Ketika akhirnya ada tensi yang naik pun juga tidak dibuat lebay dengan scoring yang membahana, tetap slow tapi dengan dialog yang pas, juga mimik pemeran yang oke. Kalian akan jatuh cinta sama film ini.

Jadi, untuk yang mengira film ini bakal cepat dengan tensi memburu membabi-buta, mungkin kalian kurang pas dengan film ini. But for me, it’s a truly beauty. Kredit harus saya berikan kepada semua pemeran, khususnya tentu buat Shahab Hosseini dan Taraneh Alidoosti sebagai pemeran utama. Emosi, frustasi dan rasa marah dalam film ini benar-benar disalurkan dengan baik. Salute! Saya hampir tak bisa menemukan kekurangan dalam film ini, semuanya ditakar secara baik. Ada beberapa perpindahan di satu scene ke scene lainnya yang agak maksa tapi bisa dimaafkanlah. Kekurangan lainnya mungkin film ini bukan di produksi Hollywood kali ya.

Kalau di trilogi film Taken, kalian bakal disajikan dengan kepuasan batin yang benar-benar nikmat, ketika ngeliat pembalasan dendam oleh Liam Nesson. Di The Salesman ini sepenuhnya berbeda, premis revenge sebagai hal yang diidam-idamkan penonton dihadirkan lebih kompleks. Kompromi dengan moralitas, mental serta emosi menjadikan kalian gregetan di satu sisi, dan di satu sisi lainnya malah memihak nurani.

Film ini dari fase awal hingga tengah akan di-build-up sedemikian rupa hingga nanti batin kalian siap untuk menghadapi 20 menit terakhir yang benar-benar “makanan utama”. Hingga kalian pelan-pelan menyadari bahwa Emad yang frustasi dan marah ke si pelaku kejahatan. Alasannya bukan karena kejahatan yang menimpa istrinya, lebih dari itu, jauh lebih dari itu. Dan mirisnya, apa yang mereka mainkan di roleplay dalam drama “Death of a Salesman“, mirip dengan kisah hidup mereka berdua.

This movie is that simple and that complex. Really deserved that Oscar.

Rating: 9/10

– Edhim, Malang
(Penulis adalah pemilik blog Litmotion)


Kutu Butara

Biasanya demen nonton film ruang sempit dan serial crime/thriller.