The Other Side of the Wind (2018): Jejak Terakhir Orson Welles


Review Share to

Director: Orson Welles
Screenplay: Orson Welles, Oja Kodar
DoP: Gary Graver
Editor: Orson Welles, Bob Murawski
Cast: John Huston, Peter Bogdanovich, Oja Kodar, Susan Strasberg
Durasi: 142 Menit
Genre: Drama/Eksperimental

Netflix Original

The Other Side of the Wind ditulis Welles bersama kekasihnya, Oja Kodar. Lewat plot dan karakter utamanya, Welles menorehkan kisah yang nyaris merupakan autobiografi. Jake Hannaford yang dimainkan John Huston adalah sutradara tua yang berupaya untuk membangun kembali karirnya di Hollywood setelah lama tinggal di Eropa, namun dalam upayanya tersebut Hannaford mengalami krisis finansial yang menghalanginya untuk segera menyelesaikan film.

Secara ironis, kemiripan antara Welles dan karakternya ‘berjalan terlalu jauh’. Setelah melakukan proses yang lama untuk menyelesaikan filmnya, Welles seperti Hannaford, meninggal sebelum dapat merampungkan karyanya.

Camera Works

Seperti dalam Citizen Kane (1941) dan film-film Welles lainnya, The Other Side of the Wind juga menyuguhkan permainan kamera dan pencahayaan yang luar biasa. Meskipun dalam The Other Side of the Wind, Welles bermain dengan teknik lain yang membuat film ini menjadi eksperimental yaitu, footage. Hasilnya, ketika menyaksikan The Other Side of the Wind kita lebih merasa sedang menonton film dokumenter dibanding naratif. Sepanjang penayangan, kita akan disajikan oleh pergantian point of view yang padat dan juga aspect ratio pada frame.

Selain itupergantian sekuens yang cepat dan padat tersebut juga disisipkan dengan unsur lain yaitu pergantian warna. Dalam scene satu, kita akan menyaksikan film berwarna, sementara yang lainnya hitam putih. Pada scene-scene hitam putih inilah nuansa noir a la Orson Welles terasa kental, membangkitkan intensitas pada dialog dengan ciamik. Sementara untuk scene berwarna, terutama pada beberapa adegan film-dalam-film pada The Other Side of the Wind, Welles juga menggunakan bayangan sebagai instrumen dengan manis. Terima kasih pula kepada sinematografer, Gary Graver.

The Other Side of the Wind

 

Oja Kodar: Welles’ Yoko Ono?

Welles nampaknya juga memiliki intensi untuk membuat parodi bagi film-film art yang ia tuangkan pada film-dalam-film dengan nuansa artsy-psychedelic yang menurut narasi merupakan karya Hannaford. Oja Kodar tentu memiliki andil dalam membentuk parodi ini, ia juga mengaku bertanggung jawab atas masuknya unsur erotisme yang eksplisit pada film ini.

“Destabilisasi naratif menjadi karakteristik efek Wellesian: parodi menjadi nyata, yang nyata menjadi parodi.” — Alex Ross, Newyorker

Penampilan Kodar dalam film juga menjadi elemen yang penting, tampil sebagai tokoh yang hanya diketahui sebagai ‘The Actrees’, ia menguasai sebagian besar adegan-adegan pada film-dalam-film yang dimainkan bersama John Dale (Robert Random). Bahkan tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Oja Kodar, The Other Side of the Wind

Bermain dalam lingkup erotisme membuat karakternya seolah berada di ambang. Antara subjek pembawa makna atau malah objek yang dianggap mati, yang kehadirannya tak jauh lebih berarti dibanding ornamen. Ambiguitas semacam itu nampaknya memang sifat alami yang dibawa karakter ini, dan tentu diperlukan kehati-hatian dalam mengamatinya agar tak terjebak dalam labirin yang dipenuhi kebingungan. Meskipun tetap sedap dinikmati.

Keberanian dan andil Kodar dalam The Other Side of the Wind serta bagi Orson Welles (Kodar dikabarkan juga menyutradarai sekitar 3 adegan pada film ini) mengingatkan saya pada Yoko Ono bagi John Lennon. Menjadi partner hidup sekaligus berkarya, saling melengkapi, menginspirasi serta memperkaya.

Castings

Jake Hannaford adalah pusat cerita, secara konstan konflik dibangun dengan melibatkan karakter satu ini. John Huston yang memerankannya, menampilkan kepura-puraan sosok yang berusaha tetap tampil tenang dan tak acuh di antara masalah yang ditanggungnya dengan handal. Pembawaan Huston serta penekanannya pada beberapa bagian kalimat yang diucapkan membuat karakternya ini hidup, meskipun di tengah kemalangan yang menerpanya.

Di samping Hannaford, karakter seperti Brook Otterlake yang diperankan Peter Bogdanovich dengan ciamik, juga memiliki andil yang besar. Otterlake adalah murid Hannaford yang sedang naik daun dan mulai menyaingi kesuksesan yang pernah diraih Hannaford. Susan Strasberg bermain sebagai Julie Rich, seorang kritikus yang tajam terhadap Hannaford. ‘Natural’ adalah kata yang nampaknya tepat untuk menggambarkan akting Strasberg dalam film ini.

The Other Side of the Wind memiliki sederet karakter lainnya dengan peran yang cukup signifikan seperti John Dale (Robert Random) pemuda misterius yang berpenampilan mirip Jim Morrison yang berperan sebagai bintang baru Hannaford dalam filmnya dan menjadi salah satu sumber masalah Hannaford. Billy Boyle (Norman Foster) yang kehadirannya seringkali mengundang tawa karena kekonyolannya. Ada juga Mister Pister yang diperankan Joseph McBride, seorang penggemar dan kritikus film. Pada masa itu McBride bukanlah aktor, dapat dibilang ia memainkan peran sebagai dirinya sendiri dalam The Other Side of the Wind.

“Is the camera eye a reflection of reality or is reality a reflection of the camera eye?” — Mr. Pister

Welles’ Farewell

The Other Side of the Wind adalah sebuah sensasi, muncul setelah lebih dari 40 tahun tak tersentuh, tuannya yang meninggal sebelum menyelesaikannya, dan sederetan cerita yang melatarbelakanginya.

Meski bukan lagi merupakan sesuatu yang sangat memukau, The Other Side of the Wind tetaplah suatu peninggalan yang begitu berharga dan sebuah tanda bahwa Orson Welles adalah salah satu sineas terdepan yang visioner pada masanya. Dalam tubuhnya kita dapat merasakan dahaga Welles akan hal baru, eksperimentasinya, dan kegemarannya bermain pada ranah tak terjamah.

Apakah penyelesaian film ini benar merupakan langkah untuk merealisasikan mimpi Welles dan melanjutkan visinya? Atau justru selama sisa hidupnya, Welles sendiri tidak mau menyelesaikannya? Meninggalkan karyanya sebagaimana adanya sebagai sebuah tantangan bagi yang umum, bahwa nilai sesuatu (sebuah karya) tak terdapat pada bentuknya yang akhir melainkan pada prosesnya? Kita tak akan benar-benar tahu.

 


 

artikel juga diterbitkan di medium.com/Nyender


Kutu Biru

Wanna die nyender