The Hitman’s Bodyguard (2017): Kombinasi Hiburan yang Tangguh


Review Share to

Sutradara: Patrick Hughes
Penulis: Tom O’Connor
Pemeran: Ryan Reynolds, Samuel L. Jackson, Gary Oldman, Elodie Young, Salma Hayek
Genre: Action, Comedy
Durasi: 118 Menit

(MENGANDUNG SPOILER)

Jika ditanya genre film apa yang paling mudah membuat kita terhibur, saya rasa jawabannya adalah action-comedy. Rangkaian adegan perkelahian, baku tembak, atau aksi kejar-mengejar saja sudah bisa membuat mata kita berbinar saat menyaksikannya. Apalagi dibalut dengan komedi di dalamnya. Sebuah kombinasi yang sulit dikalahkan dalam soal menghibur penonton.

The Hitman’s Bodyguard adalah salah satu contohnya. Film ini menghadirkan kisah tentang Michael Bryce (Ryan Reynolds), bodyguard papan atas. Di tengah-tengah kemunduran kariernya, Bryce mendapat klien untuk menjaga seorang pembunuh bayaran kelas kakap, Darius Kincaid (Samuel L. Jackson), hingga tiba di Den Haag, Belanda.

Ya tentu saja film garapan Patrick Hughes ini begitu menghibur. Meski mengusung action-comedy, tetapi yang terlihat dominan adalah sisi aksi laganya. Ya memang pantasnya begitu, sih. Karena judulnya saja “action banget”, ada kata hitman (pembunuh bayaran) dan bodyguard (pengawal pribad).

Bisa dibilang aksi laga di film ini cukup intens, bahkan dari awal film. Mulai dari memperlihatkan aksi Bryce sebagai bodyguard, baku tembak Interpol dengan anak buah Dukhovic (Gary Oldman), hingga kejar-mengejar di sebuah sungai di Amsterdam. Tipikal film laga Hollywood pada umumnya.

Menariknya adalah di beberapa kesempatan film ini juga menghadirkan nuansa gelap. Salah satu adegan yang membekas adalah eksekusi mati terhadap wanita dan anak-anak yang dilakukan Dukhovic. Meski tidak diperlihatkan secara langsung, namun tetap terasa tebal. Terutama saat melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Professor Asimov (Rod Hallett).

Kalau diperhatikan lagi, nuansa gelap selalu mengiringi sang antagonis, Dukhovic. Entah itu secara langsung maupun tidak. Memang hal itu diperlukan, karena sebagai antagonis utama, waktu tampil Gary Oldman terbilang sedikit. Namun hal itu ditutupi oleh performa apiknya, di mana ia berperan sebagai diktator yang haus darah dan kekuasaan.

Hadirnya nuansa gelap dengan adegan yang lumayan sadis memang sah saja sebenarnya. Karena film ini pun memiliki rating R (restricted). Namun tenang saja, The Hitman’s Bodyguard tak menampilkan adegan seks atau ketelanjangan. Perihal rating R tak hanya digunakan untuk menampilkan aksi-aksi yang brutal saja. Tetapi hal itu juga dimanfaatkan untuk mengeksplorasi komedi yang ada.

Di film ini, komedi yang dihadirkan bukanlah tipe slapstick seperti pada Central Intelligence (2016). Tetapi lebih banyak dimunculkan lewat dialog, terutama yang terjadi antara Bryce dan Kincaid. Hal itu didukung oleh fakta bahwa mereka diperankan oleh Ryan Reynolds dan Samuel L. Jackson. Ya, dua orang yang fasih melontarkan lelucon-lelucon dengan gamblang.

Salah satu alasan mengapa The Hitman’s Bodyguard ditunggu-tungu banyak orang adalah karena Ryan Reynolds dan Samuel Jackson. Kapan lagi melihat mereka beradu akting dalam satu film. Apalagi film ini memang paling cocok untuk mereka, action-comedy dengan rating R. Terutama jika kalian akrab dengan film-filmnya Jackson dan telah menyaksikan Deadpool (2016), The Hitman’s Bodyguard bagai oase yang dinantikan penggemar film komedi rating R.

Memang ini bukanlah film pertama di mana Reynolds dan Jackson berkolaborasi. Sebelumnya, mereka pernah melakukannya di film animasi Turbo (2013). Hasilnya pun tak terlalu mengecewakan. Reynolds-Jackson kini menambah daftar duo action-comedy yang cukup ikonik, setelah tahun lalu muncul pasangan Ryan Gosling-Russell Crowe di The Nice Guys (2016).

Masalah Pendalaman Karakter

Yang menjadi perhatian adalah masalah pendalaman karakter. Memang Tom O’Conner memberi ruang yang cukup untuk menceritakan lebih jauh tentang Bryce dan Kincaid. Ya, terutama tentang kisah cinta kedua karakter tersebut.

Namun kedua karakter tersebut diberi perlakuan yang berbeda untuk bercerita. Michael Bryce lebih banyak menceritakan latar belakangnya melalui dialog. Selain itu kita diberi kesempatan untuk kilas balik ketika berada di rumah milik Bryce di Amsterdam. Sedangkan Kincaid lebih dari itu, dia bahkan diberi adegan kilas balik yang mengisahkan alasan mengapa dia mulai membunuh.

Sayangnya, O’Connor dan Hughes tidak memberi porsi ideal untuk sang antagonis, Dukhovic. Menurut saya ini adalah hal yang fatal. Padahal masalah ini sering terulang di berbagai film action. Memang ini tantangan tersendiri untuk Hughes, karena Dukhovic tidak bersinggungan langsung dengan Kincaid dan Bryce. Dia hanya menyuruh anak buahnya untuk memburu dua orang itu.

Alhasil, film ini menjadi terlihat lemah dari sisi cerita secara keseluruhan. Padahal ikatan friend-enemy yang dibangun Reynolds dan Jackson terlihat baik. Ya, The Hitman’s Bodyguard seolah menyiakan potensi dari Gary Oldman.

*****

Secara keseluruhan, The Hitman’s Bodyguard bukanlah film yang buruk. Kegigihan untuk mempertahankan formula film action-comedy nyatanya membuahkan hasil. Sayangnya, film ini gagal memenuhi potensi yang ada dari para pemerannya. Lagipula komedi yang dihasilkan pun kurang tebal dalam artian banyak punchline yang meleset dan tertutupi oleh aksi yang menegangkan. Meski begitu, The Hitman’s Bodyguard tetap menjelma sebagai kombinasi action-comedy yang sangat menghibur.

Catatan:

Film ini memiliki rating R (restricted). Di Indonesia pun telah diberi label dengan 17+ atau hanya untuk penonton berusia 17 tahun ke atas. Saya yakin Kawan Kutu paham dengan maksud label tersebut ya.

Karena sejujurnya saya cukup terganggu melihat anak kecil yang terbahak-bahak hanya karena dia mendengar makian atau kata kasar yang terlontar dari Samuel L. Jackson.  Oh ya, ada sekitar 122 kata “kasar” atau makian yang diucap Jackson di sepanjang film.


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater