Susah Sinyal (2017): Perpaduan Harmonis Komedi dan Drama


Review Share to
Sutradara: Ernest Prakasa
Penulis: Ernest Prakasa & Meira Anastasia
Pemeran: Adinia Wirasti, Ernest Prakasa, Aura Ribero, Refal Hady
Genre: Drama, Komedi
Durasi: 110 Menit

Sumber: Mbah Sinopsis

Sudah lama rasanya tidak menulis, saya bahkan lupa kapan terakhir kali saya menulis. Entah mengapa begitu selesai menonton Susah Sinyal, saya ingin langsung membuat review mengenai brilian nya film yang distradarai oleh si jenius Ernest Prakasa ini. Saya pun fans berat beliau, karena berkat kejeniusannya saya pun terinspirasi juga menjadi seorang “sineas muda”. Penulisan cerita dan karakter dibuat dengan rapi dan ciamik sehingga saya begitu hanyut dan turut bersimpati pada situasi yang terjadi pada tiap karakter.

Menceritakan tentang perjuangan seorang ibu yang berusaha lebih dekat dengan anak remajanya yang semakin beranjak dewasa, Ellen (diperankan oleh Adinia Wirasti) adalah seorang pengacara tangguh dan hebat sekaligus ibu dari anak perempuan remaja Kiara (diperankan oleh Aurora Ribero). Kesibukan Ellen sebagai pengacara membuatnya semakin jauh dan tidak begitu mengenal dengan sosok Kiara anaknya sendiri, Kiara malah lebih dekat dengan Oma Agatha (diperankan oleh Niniek L. Karim), ibu dari Ellen. Karena hubungan Ellen dengan Kiara begitu renggang, Ellen pun memutuskan untuk berlibur bersama anaknya ke Sumba. Dari sinilah plot utama film yang ditulis oleh Ernest Prakasa dan Meira Anastasia dimulai.

Dari film pertamanya, Ngenest dan film keduanya, Cek Toko Sebelah, Ernest berhasil membuat ekspetasi saya begitu tinggi terhadap film-film yang ditulis dan disutradarainya. Ekspetasi begitu tinggi ini layaknya pedang bermata dua. Bila film nya lebih bagus dari sebelumnya maka dikatakan “berhasil”, bila jelek maka dikatakan “gagal”. Tidak semua sutradara berhasil “memenuhi” ekspetasi yang begitu tinggi ini, namun hebatnya, Ernest disini berhasil.

Drama dan komedi merupakan dua genre utama yang pasti mudah dimengerti dan “relateable” sehingga dipastikan banyak orang yang menontonnya. Dalam film Cek Toko Sebelah, perpaduan komedi dan drama menurut saya perbandingannya 60:40 , komedinya lebih kuat. Sedangkan dalam film ini, perpaduan antara komedi dan drama pun dibuat dengan begitu imbang 50:50 (Sesuatu yang sulit dan tidak mudah menurut saya). Di satu sisi film ini membuat tertawa namun di sisi lain film ini membuat kita menangis terharu (sampai teman saya tidak bisa berhenti menangis) mengingatkan betapa pentingnya nilai-nilai keluarga. Nilai-nilai keluarga digambarkan begitu kental dan hangat dalam film yang dirilis 21 Desember ini. Ini pun menancapkan “trademark” tersendiri buat Ernest, bahwa genre drama komedi keluarga merupakan keahliannya. Kredit tersendiri pun saya berikan kepada Meira Anastasia, istri dari Ernest yang juga sebagai penulis utama dari film ini. Meira pun juga berbakat sebagai sineas.

Walaupun begitu baik, tapi pasti tetap ada kekurangannya. Ernest tampaknya sudah mulai memakai formula “Pemilihan casting yang ‘sama’ dalam setiap filmnya”. Adinia Wirasti yang sebelumnya berperan sebagai pemeran pembantu kali dalam Cek Toko Sebelah kali ini menjadi pemeran utama. Saya pun masih bisa melihat beberapa pilihan casting yang sama dari film Cek Toko Sebelah dalam film Susah Sinyal. Hal sebenarnya ini lumrah ditemui termasuk dalam Hollywood. Sutradara David Fincher & Brad Pitt, Christopher Nolan & Christian Bale, Martin Scorsese & Leo Dicaprio dan banyak lagi. Menurut saya ini bisa menjadi typecast tersendiri dan dapat berujung hal kurang baik kepada aktor dan aktrisnya. Penonton pun bisa “jenuh” bila Ernest terus menerus memilih pemeran yang “sama” dalam tiap filmnya. Ditambah lagi menurut saya beberapa dialog yang menggunakan kalimat bahasa inggris yang membuat saya agak sedikit “cringe” karena entah kenapa jarang sekali orang menggunakan kalimat-kalimat bahasa inggris dalam percakapan sehari-hari.

Terlepas dari kekurangannya, film ini begitu indah dan manis. Karena sesungguhnya uang itu sungguh tidak bernilai dibanding kasih sayang dari keluarga terdekat. Untuk apa kita kaya banyak uang tetapi kita miskin kasih sayang keluarga? Itulah nilai dan pesan utama dari film ini. Saya tunggu film Ernest selanjutnya, ditunggu ya koh!

Bila Kawan Kutu belum menonton film ini, ayo tonton sekarang juga! Dukung industri perfilman nasional dengan nonton langsung di bioskop~

Rating: 9,5/10


Kutu Kamar

Penulis serta penjelajah juga idealis & semua pasti dijamah.