Star Wars : The Last Jedi (2017); The End Of An Era


Review Share to
Sutradara: Rian Johnson
Penulis: Rian Johnson, George Lucas (Kreator)
Pemeran: Carrie Fisher, Mark Hamill, Daisy Ridley, Oscar Isaac, John Boyega, Adam Driver, Benecio Del Toro, Andy Serkis, Lupita Nyong'o, Domnhall Gleeson, Anthony Daniels, Gwendoline Christie, Kelly Marie Tran, Laura Dern
Genre: Action, Adventure, Fantasy
Durasi: 152 Menit

Before we start,  let’s take a moment of silence for our beloved Princess, Carrie Fisher a. k. a Leia Organa.  May the force always be with her.

Untuk pertama kalinya (serius, pertama kalinya) semenjak saya memulai sok jadi tukang review di Kutu Film, saya menonton sebuah film tanpa membuat highlight atau note dari poin film tersebut. Biasanya saya akan menyiapkan notes digital di hp saya, dan memulai mencatat poin-poin yang akan saya sampaikan, bahkan ketika film baru memasuki layar dimana Bapak Ahmad Yani Basuki pamer tanda tangan dengan latar layar hijau.

Khusus untuk The Last Jedi, saya tidak melakukan hal tersebut.

“duh pasti bagus banget ya!?”,

Hmmmm

 “pengen nikmatin filmnya ya?”

saya sedikit multi tasking kalau lagi nonton

“diomelin sebelahnya ya? “

saya justru yang mau ngomel dia bawa anak-anak yang tiap adegan nanya “ini Iron Mannya kapan muncul?”

Jadi meskipun tidak salah,  tetapi bukan,  bukan karena 3 poin tersebut. Sejujurnya saya urung membuat notes karena hp saya low bat dan power bank saya ikut koalisi kehabisan daya.  Alhasil review ini harus saya tulis mengandalkan memori saya yang sejujurnya terkadang 11-12 sama Dory yang sekali belok kanan lupa jalan pulang.

Tapi ayo kita coba menggali kembali ingatan saya tentang 152 menit penuh decak kagum, gelengan kepala, mata berbinar, dada sesak, dan umpatan “anjir” beberapa kali yang membuat bapak-bapak bawa anak yang nanya Iron Man tadi mendelik sinis kepada saya khawatir anaknya meniru ucapan saya, dan tentunya elemen haru dan nostalgia dari sebuah cerita,  in a galaxy far far away.

Dua tahun terasa begitu cepat ketika diingat bahwa terasa baru kemarin saya teriak girang melihat Han dan Chewie memasukki Milenium Falcon dan berakhir dengan rasa sesak melihat Han harus berakhir tragis di tangan si Malin Kundang, Kylo Ren. Atau ketika sebuah perjalanan nostalgia selama kurang lebih 140 menit dalam Force Awakens berakhir dengan teriakan girang lainnya dan rasa penasaran maha dahsyat ketika Rey menemui seseorang dengan jubah lengkap dengan hoodie di pinggir tebing, yang awalnya saya kira adalah tour guide pulau tersebut tapi akhirnya diketahui bahwa orang tersebut adalah Luke Skywalker untuk kemudian film ditutup dengan kamera zoom out dramatis.

“Anak durhaka”

Dua tahun sudah saat itu berlalu. Rasa penasaran saya terobati dengan berbagai hiruk pikuk rutinitas, Batman yang berbagi sisi sentimentil dengan Superman, King Kong masuk kota, sampai transisi tempat kerja yang membawa saya lupa bahwa franchise buah dari pikiran liar George Lucas ini memiliki “hutang” yang masih belum terbayarkan. Hingga akhirnya seminggu lalu, (bahkan baru seminggu lalu!) saya baru sadar The Last Jedi akan segera tayang. Atas nama gengsi dan rasa penasaran saya pun rela sepulang kerja langsung belok ke bioskop terdekat untuk kembali menyaksikan lanjutan dari kisah perang antar galaksi ini.

“Really? 2 Years already?”

Oke,  oke sudah terlalu panjang basa-basi agar tulisan ini setara sekitar 800 kata. Ayo kita masuk ke inti.

Star Wars : The Last Jedi dapat saya katakan merupakan sebuah paket big box dari PHD untuk Anda. Banyak macam, dan tetap enak. Durasi 152 menit dimanfaatkan dengan baik oleh Rian Johnson yang lebih dikenal dari film ‘Looper’ yang juga berperan sebagai penyusun cerita. Alur cerita yang sistematis dan mengalir membuat film ini berjalan dengan alur yang cukup lambat dan teratur. Lambat dalam artian film ini betul-betul melangkah selangkah-demi selangkah dan mencoba untuk meraup setiap detail yang ada. Dalam film (dan terutama trilogi sekuel sejak dimulai oleh Force Awakens) ini Star Wars seolah sedang mencoba “mewariskan” segala hegemoni dari bahu Luke,  Leia, Han, dan Vader kepada Rey, Kylo, Finn, dan Poe. (Bukan, mereka bukan Teletubbies).

Jalinan cerita seakan bercabang 4 dan mencoba untuk menebalkan garis takdir dari masing-masing karakter untuk final dari trilogi ini. Cerita Rey yang berusaha memenuhi takdirnya sebagai Jedi, Poe yang seolah merepresentasikan Han Solo muda, Finn yang awalnya hanya terlihat sebagai pelengkap tetapi mulai menunjukkan perannya dalam Resistance, dan Kylo si anak durhaka yang saya tidak tahu kenapa, Leia belum mengutuknya jadi batu nungging, yang juga sedang memenuhi takdirnya untuk menjadi pewaris Lord Vader.

“Fulfilling their destiny”

Musik pengiring antara elemen baru dan klasik berpadu untuk menambahkan kesan bahwa penonton sedang melakukan petualangan antar galaksi ketika menyaksikan film ini, visual yang amat sangat istimewa menambah excitement dalam menyaksikan film ini. Ada beberapa momen dan adegan yang terasa kikuk, namun secara keseluruhan kualitas akting dari Daisy Ridley, Adam Driver, John Boyega, dan Oscar Isaac sebagai core cerita betul-betul meningkat drastis dibandingkan Force Awakens dalam menghidupkan karakter masing-masing. Konflik yang disajikan bercabang dan dapat dikatakan bercampur aduk, namun disajikan dengan amat tertata yang membuat emosi penonton turut terbawa di dalamnya.

Saya tidak akan memberikan spoiler tentunya, tetapi dapat saya pastikan bahwa apabila Kawan Kutu penggemar Star Wars, The Last Jedi adalah salah satu episode yang akan membuat kita menaiki roller coaster ketika menyaksikannya. Memang agak sulit menyaksikan film ini tanpa mengikuti 7 film terdahulu, namun meskipun begitu The Last Jedi tetap mencoba ramah kepada penonton baru dengan tetap memberikan sedikit latar belakang singkat tentang core character yang membuat penonton baru mungkin akan penasaran dan berminat menonton film terdahulunya. Unsur komedi yang diselipkan pada beberapa adegan untuk menjaga tensi film pun cukup tepat sasaran. Drama yang dihadirkan pun membuat emosi cukup terkuras.

“Anak durhaka 2”

Pada akhirnya,  jika boleh jujur saya tidak tahu apa yang saya tulis beberapa paragraf ke atas. Terlalu banyak momen yang terlewat untuk dirangkum dalam tulisan ini, dan tentunya The Last Jedi termasuk kategori film yang harus Kawan Kutu saksikan langsung. Bukan kategori film yang akan Kawan Kutu tanyakan “gue liat di aplikasi Gejok pas halaman awal ada poster film gambarnya cewe angkat tangan, pegang lightstick. Ini film tentang fans jeketi 58?” bukan, ini bukan film seperti itu. Jadi sebelum bioskop penuh dalam beberapa hari ke depan dan sekeliling Anda membicarakan, coba langsung tonton filmnya, meskipun Anda bukan penggemar Star Wars sekalipun. The visual, the characters, the story, the ambience, “the duel”, and of course the Legendary Jedi and the Princess will make you instantly fell for this franchise. Terutama untuk The Princess, mengingat ini adalah film terakhirnya.

“No, it’s not a paid promote”

Sebelum tulisan ini makin ngelantur dan membuat bahasa saya seperti bahasa orang from a galaxy far far away, saya akan mengakhiri tulisan ini dengan satu kalimat untuk merangkum semuanya :

“Please jangan bawa anak-anak yang masih kecil dan boongin mereka kalau ada Iron Man bahkan Pink Unicorn di film ini yang bikin mereka teriak-teriak pas film lagi seru-serunya. Makasih”
“Fighting the old boss”

Overall : 9/10

Memorable Line : “It’s time for the Jedi to end.” – Luke Skywalker


Kutu Klimis

Just sit and talk about football, Manchester United, or movies, and we will be good buddies in no time.