Sand Castle (2017): Ide yang Terhalang Tembok Besar


Review Share to

Sutradara: Fernando Coimbra
Penulis: Chris Roessner
Pemeran: Nicholas Hoult, Logan Marshall-Green, Tommy Flanagan, Glen Powell, dan Henry Cavill
Genre: Drama, War
Durasi: 113 Menit

Terkadang memang sulit untuk melihat sisi lain dari suatu hal. Karena kita seringkali enggan untuk repot-repot mencari hal yang tak terlihat. Atau sisi lain tersebut tertutupi oleh hal yang jauh lebih besar, dan tentu tak semua orang bisa setuju atau menerima.

Dalam film Sand Castle, sebenarnya banyak hal menarik yang ditawarkan. Pertama adalah fakta bahwa cerita film ini dibuat berdasarkan pengalaman sang penulis skrip, Chris Roessner. Chris memang pernah ditugaskan di Irak, lebih teparnya di area yang dikenal dengan Sunni Triangle pada Juli 2001.

Chris akhirnya pulang dengan jurnal dan foto-foto yang berisi pengalamannya ketika berada di Irak. Lalu ia memutuskan untuk mengembangkan cerita berdasarkan pengalamannya. Namun ia telah menegaskan bahwa ini bukanlah biografi. Dia hanya ingin menuangkan emosi dan memori terkait pengalamannya sebagai prajurit perang. Ya, dan cerita Sand Castle memang fiktif.

Sand Castle bercerita tentang Matt Ocre (Nicholas Hoult), prajurit muda yang bersama timnya dipindahkan ke Baqubah. Di sana mereka diberi tugas untuk membantu memperbaiki pompa air yang rusak akibat perang.

Menariknya dari Sand Castle adalah kisah yang ditawarkannya sedikit berbeda jika dibandingkan film-film perang kebanyakan. Protagonis utamanya bukanlah seperti dongeng yang mengisahkan seorang amatir yang tiba-tiba jadi pahlawan dan menjadi pembeda yang krusial, bukan seperti itu. Ya Matt Ocre adalah orang seperti pada umumnya, dia hanyalah bagian kecil dari sesuatu yang bahkan belum usai ketika dia dipulangkan.

Selain itu, Sand Castle juga bukanlah tipe film perang yang mengandalkan baku tembak atau aksi-aksi lainnya. Film ini seolah ingin benar-benar menggambarkan bagaimana suasana perang dari kacamata prajurit. Ya, meski terkesan keras dan kejam, toh nyatanya mereka juga manusia. Yang mereka inginkan hanyalah menyelesaikan masa bakti dan pulang untuk bertemu keluarga dan kekasihnya.

Ada banyak adegan yang menurut saya dilakukan dengan hati-hati. Karena di film ini terlihat sekali bahwa Chris memang membuat skrip yang unik. Dia tidak mencoba menyusun cerita yang pada akhirnya membelah opini mana yang benar dan salah. Namun dia membuat cerita yang menempatkan para karakternya berada di area abu-abu.

Selain Matt, Chris juga mencoba mengembangkan para karakter pendukung, dan hal itu memang terlihat hasilnya. Seperti Harper (Logan Marshal-Green) si pragmatis, yang terlihat di beberapa adegan bahwa dia adalah tipe orang yang bisa mengesampingkan emosi untuk fokus ke misi dan hal yang akan datang. Lalu ada Chutsky (Glen Powell) yang tak kenal rasa takut namun cenderung sembrono. Juga ada Syverson (Henry Cavill) yang tegas dengan aturan militer.

Itu semua adalah sisi lain yang bisa saya dapatkan dari film Sand Castle. Lalu apa sisi utama yang begitu terlihat dari film ini?

Satu hal yang sangat jelas terlihat dari Sand Castle, membosankan. Ya, saya rasa bagi Kawan Kutu yang sudah menontonnya akan sadar dari 20 menit awal bahwa film ini terlalu membosankan. Menurut saya, ini adalah hal yang fatal.

Salah satu alasannya adalah Matt Ocre, sang pusat cerita malah menjadi protagonis yang terlalu membosankan dan tidak menarik. Entah itu dari dialog atau ekspresi yang dia buat, kita bisa melihat Ocre sendiri kebingungan dengan jati dirinya. Ya kita tak bisa melihat atau bahkan menebak bahwa Ocre itu sebenarnya orang yang seperti apa. Dugaan saya, hal itu mungkin ada pada sutradara Coimbra yang gagal mengeluarkan kemampuan terbaik Hoult.

Selain itu Sand Castle adalah tipe film yang temponya lambat. Ya karena tak ada adegan baku tembak dan aksi lain yang intens seperti pada umumnya. Nah, biasanya tipe film seperti ini akan mengandalkan dialog yang padat. Namun kenyataannya, dialog yang ditampilkan ya biasa-biasa saja. Oleh karena itu konflik yang timbul pun seolah tidak mencuat ke permukaan.

Hal itu jugalah yang membuat Sand Castle tak berbeda dengan film-film sejenisnya. Karena sebenarnya memang tak sedikit film-film seperti ini. Formula yang familiar dengan balutan yang kurang istimewa membuat film ini tak ada pembeda yang signifikan.

Secara keseluruhan, film ini memang menarik dari ide cerita. Namun sayang ide-ide itu harus tertutup oleh suatu tembok yang begitu besar dan sulit ditaklukan, yang bernama membosankan.

Rating: 5/10


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater