Robert Wise: Seniman yang Tak Kenal Batas


Tokoh dan Sejarah Share to

Ada sebuah hal penting dalam berkarya, yaitu tentang ciri khas. Bisa dibilang hal inilah yang menjadi pembeda antara satu karya dengan lainnya. Dengan adanya ciri tertentu, orang-orang juga akan lebih mudah mengenali dan mengingat karya tersebut.

Bagi si pencipta suatu karya, misalnya seniman, ciri khas acap kali menjadi faktor yang membuat mereka muncul ke permukaan. Tak terkecuali dalam dunia perfilman. Dari begitu banyaknya sineas, tentu ada alasan mengapa hanya segelintir yang bisa dikenal luas. Kenyataannya memang merekalah yang bisa memanfaatkan ciri khasnya dengan baik.

Lalu apa hubungannya dengan Robert Wise? Boleh dikatakan bahwa Robert adalah salah satu sineas yang punya ciri khas tertentu dalam berkarya.

Namun ciri khas yang dimiliki Robert terkesan sedikit berbeda dibanding para sineas lain. Dia tak seperti Alfred Hitchcock dengan konsistensi tema ceritanya. Wise juga jauh dari tipen sineas seperti Stanley Kubrick, yang memberi sentuhan berbeda dalam tema tertentu. Ciri khas dan kemampuan terbesar Robert Wise adalah “menyempurnakan”.

‘Menyempurnakan’ bisa diartikan sebagai membuat sesuatu menjadi sempurna (tidak kurang satu pun). Atau bisa juga menjadi menyelesaikan dengan sebaik-baiknya.

Apa yang dilakukan oleh Robert sebenarnya cukup sederhana. Dia hanya berusaha sebaik mungkin untuk mengatasai berbagai kendala di dalam pembuatan sebuah film.

Fleksibilitas Terhadap Genre Film

Salah satu keunggulan yang membentuk ciri khasnya adalah fleksibilitas. Dari film-film garapannya, Robert tak pernah terpaku dengan satu genre atau formula. Sepanjang kariernya, Robert pernah membuat film drama, fiksi ilmiah, horor, noir, western, hingga musikal. Yang membuatnya dikagumi adalah tentang kesuksesan yang tetap hadir meski menghadirkan film dengan genre yang variatif.

Seperti contohnya I Want to Live! (1958), film yang membawa pertama kalinya Robert masuk ke nominasi Golden Globes dan Academy Awards untuk kategori Sutradara Terbaik. Film dengan genre drama kriminal ini bahkan meraih total 6 penghargaan dan 16 nominasi lainnya dari berbagai ajang. Robert juga menuai pujian karena dianggap bisa mengeluarkan talenta hebat seorang Susan Hayward.

Robert beserta para pemeran dan kru Star Trek: The Motion Picture (1979)/Credit: IMDB

Bukti lainnya adalah dari deretan film lain yang memenangkan atau masuk nominasi penghargaan, juga berasal dari berbagai genre. Seperti film drama musikal The Sound of Music (1966) dan West Side Story (1962), atau The Haunting (1963) dengan genre horornya. Jangan lupakan juga drama romantis The Sand Pebbles (1966), film crime-noir The Set Up (1949), atau sci-fi Star Trek: The Motion Picture (1979).

Cakupan genre yang luas membuat Wise cukup disegani di dunia perfilman, terutama Hollywood. Kasarnya, pihak studio tak perlu khawatir jika ingin bertarung di genre tertentu. Karena di tangan Robert Wise, apa pun bisa diubah menjadi karya yang luar biasa.

Etos Kerja dan Pentingnya Riset Mendetail

Mungkin kita bertanya-tanya apa rahasia kesuksesan Robert Wise. Bagaimana bisa dia membuat film dengan sama baiknya di tiap genre. Jawabannya adalah etos kerja dan kegigihannya, termasuk dalam melakukan riset.

Robert Wise memang dikenal sebagai pribadi yang tekun dan tak mudah menyerah. Dia selalu ingin menampilkan yang terbaik, apa pun kendala yang dihadapinya. Bahkan masalah bujet film pun bukan hambatan untuk Wise, tetapi menjadi sebuah tantangan tersendiri baginya.

Hal tersebut berkat pengalaman di awal kariernya. Dia memulai peruntungan di dunia perfilman dengan bekerja sebagai penyunting suara dan editor musik untuk RKO Pictures. Saat itu sekitar tahun 1930, RKO masih berupa studio kecil dengan keterbatasan sumber daya. Dari sini dia belajar bagaimana mengutamakan etos kerja yang kuat serta mengedepankan sisi artistik dan esetika.

Wise memang bekerja keras untuk mencapai tempat yang diinginkan. Dia pun sempat bekerja sebagai asisten editor film untuk William “Billy” Hamilton. Baru pada 1939, dia memulai karier sebagai editor utama untuk Bachelor Mother.

Nama Robert Wise pun mulai melambung saat dirinya bekerja dengan sineas legendaris, Orson Welles. Mereka berkolaborasi untuk menghasilkan apa yang disebut-sebut sebagai film terbaik sepanjang masa, Citizen’s Kane (1941). Wise pun masuk nominasi Oscar untuk pertama kalinya.

Citizen’s Kane tak hanya melambungkan nama Wise saja, tetapi juga menambah wawasan Wise dalam masalah pembuatan film. Salah satunya adalah tentang teknologi optical printer, yang ia gunakan dalam film-filmnya di masa depan seperti West Side Story.

Selain perihal teknik editing, Wise juga dikenal sangat memperhatikan detail dalam film. Dia juga tak ragu untuk melakukan berbagai riset untuk kebutuhan filmnya.

Seperti contohya film Until They Sail (1957), yang menggunakan latar Selandia Baru pada Perang Dunia II. Sebelum proses produksi, Wise pergi ke Selandia Baru untuk mewawancara seorang wanita. Dia Lebih tepatnya dia mencari orang yang punya pengalaman atau kemiripan kisah dengan tokoh yang akan dihadirkan di film. Dia juga mengambil beberapa gambar dari berbagai tempat untuk kru “second unit”, meskipun proses syuting akan dilakukan di California.

Natalie Wood, Robert Wise, dan Rita Moreno di set film West Side Story (1961)./Credit: IMDB

Bahkan untuk film bujet rendah pun, Wise tetap melakukan hal yang sama. Contohnya adalah film Mystery in Mexico (1948). Demi film yang bisa dikategorikan sebagai B-Movie ini, Wise memilih untuk melakukan syuting di Mexico City langsung.

Robert juga dikenal tak segan menuangkan pemikirannya terhadap isu tertentu dalam film-filmnya. Salah satunya adalah tentang toleransi terhadap perbedaan ras dan agama. Seperti hadirnya karakter native american, muslim, dan africa-american di film Two Flags West (1950), This Could Be the Night (1957), The Set-Up (1949), dan Odds Against Tomorrow (1959). Atau film The Sand Pebbles yang menceritakan tentang pasangan yang berbeda ras.

Selain tentang ras, Wise juga dengan lihai memperlihatkan sisi gelap politik dan feminisme di film Mademoiselle Fifi (1944). Salah satu film ternama Wise, The Set-Up bercerita tentang kekejaman dan eksploitasi di dunia olahraga, terutama tinju. Lalu film The Day the Earth Stood Still (1951), sebuah thriller fiksi ilmiah, yang mengingatkan penontonnya tentang bahaya perang dan penggunaan bom atom.

****

Ciri khas yang dimiliki Robert memang unik. Dan memang ciri khas tersebut sulit untuk dilihat secara sekilas. Ya, dan harus diingat bahwa keunikan Wise adalah hasil dari jerih payah dan kegigihannya selama berkarier. Bisa dibilang Robert Wise adalah seniman sejati, yang tak kenal batas dan selalu membuat sesuatu menjadi indah namun tetap memberikan makna tertentu di dalamnya.


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater