Michael Garza dan Zoe Margaret Scolletti di Scary Stories to Tell in the Dark (2019)

Scary Stories to Tell in the Dark (2019): Horor Klasik yang Diolah dengan Cerdik


Review Share to
Michael Garza dan Zoe Margaret Scolletti di Scary Stories to Tell in the Dark (2019)
Michael Garza dan Zoe Margaret Scolletti di Scary Stories to Tell in the Dark (2019) – via vox.com
Sutradara: André Øvredal
Penulis: Dan Hageman & Kevin Hageman
Pemeran: Zoe Margaret Scolletti, Michael Garza, Gabriel Rush, Austin Zajur, Natalie Ganzhorn, dll
Genre: Horor
Durasi: 108 Menit

Scary Stories to Tell in the Dark adalah film yang mengadaptasi buku anak-anak dengan judul yang sama karya Alvin Schwartz. Scary Stories berisi kumpulan cerita pendek horor yang terangkum menjadi tiga buku. Ada Scary Stories to Tell in the Dark (1981), More Scary Stories to Tell in the Dark (1984), dan Scary Stories 3: More Tales to Chill Your Bones (1991).

Ada kontroversi yang sempat menyelimuti popularitas seri Scary Stories. Hal yang dimasalahkan adalah tentang isinya yang dianggap kental akan unsur kekerasan untuk pembaca anak-anak. Meski begitu, Scary Stories memang populer di Amerika Serikat. Bahkan pada 2017 dilaporkan bahwa serial buku ini terjual hingga 7 juta kopi.

Fakta-fakta di atas itu kebetulan saya baca sebelum menonton filmnya. Lalu ada satu pertanyaan yang mengganjal, yaitu tentang isi dari film ini. Apakah isi filmnya berupa kumpulan kisah-kisah pendek seperti film Thailand, Phobia (2008)? Atau hanya mengangkat satu cerita saja, untuk selanjutnya dikembangkan menjadi franchise besar?

Jawabannya ternyata menarik. Karena bisa dibilang kedua pertanyaan itu terjawab sekaligus.

Film yang diproduseri oleh Guillermo del Toro ini tetap hadir membawa cerita-cerita pendek dari bukunya. Namun bukan secara terpisah seperti antologi pada umumnya, tetapi dalam suatu keutuhan narasi besar. Menurut saya ini langkah brilian karena menjadi kekuatan utama dari film Scary Stories.

Adegan Stella (Zoe Margarett Scolletti) Memegang Buku Sarah Bellows
Adegan Stella (Zoe Margarett Scolletti) Memegang Buku Sarah Bellows – via nerdist.com

Cerita-cerita pendek tersebut dijahit melalui antagonis utama, si hantu Sarah Bellows. Sosok hantu yang tak sengaja bangkit karena ulah remaja-remaja di malam Halloween tahun 1968. Mereka berkunjung ke rumah yang dulu ditinggali keluarga Bellows. Lalu mereka menemukan dan membawa pulang buku catatan berisi kisah-kisah menyeramkan yang ditulis oleh Sarah.

Kutukan pada buku Sarah Bellows itulah yang menjadi penghubung bagaimana cerita-cerita pendek dari Scary Stories bisa berada dalam satu keutuhan cerita.

Patut diketahui bahwa cerita-cerita pendek tersebut memiliki keunikan tersendiri. Maka dari itu filmnya tak terasa membosankan karena tiap kisah menghadirkan dimensi ketakutan yang berbeda. Selain itu, yang menarik juga muncul perasaan tegang yang mirip ketika kita menonton Final Destination. Yaitu pikiran seperti, “okay, who’s next and what will happen?

Natalie Ganzhorn di Scary Stories to Tell in the Dark (2019)
Natalie Ganzhorn di Scary Stories to Tell in the Dark (2019) – via rollingstone.com

Sutradara André Øvredal memang patut diapresiasi. Dia dan penulis duo Hageman lebih mengutamakan cerita kuat ketimbang mengandalkan jumpscare murahan. Andre juga terlihat luwes dalam mengatur tempo dan mengontrol ketegangan para penontonnya.

Kemampuan mereka terlihat dari setiap kisah horor yang menimpa masing-masing anak. Contohnya pada kisah The Big Toe yang menimpa Auggie (Gabriel Rush). Sensasi yang timbul dari adegan di kolong tempat tidur, menurut saya, adalah salah satu momen terbaik dari film ini.

Tentu sebagaimana film horor pada umumnya, ada jeda hening yang timbul pada sang protagonis, yang biasanya disusul oleh jumpscare besar. Ya, formula klasik itu hadir pada adegan tersebut. Namun yang menjadi pembeda, para penonton seolah gagal menebak timing kapan jumpscare itu muncul.

Auggie (Gabriel Rush) di kisah The Big Toe
Auggie (Gabriel Rush) di kisah The Big Toe – via news.avclub.com

Kita dipaksa untuk menahan napas lebih lama, seperti disiksa secara perlahan meskipun sebenarnya kita tahu pada akhirnya akan muncul sesuatu yang mengagetkan. Sensasinya mirip seperti saat roller coaster sedang menanjak tinggi, sebelum pada akhirnya melaju kencang di trek yang menurun curam.

Terlepas dari itu, hal yang paling mengejutkan adalah bagaimana unsur politik terasa kental di sepanjang film. Sebenarnya tak terlalu banyak, hanya saja begitu membekas. Yaitu tentang pemilu saat Richard Nixon menang, dan Perang Vietnam yang menyelimuti para remaja-remaja ini.

Terakhir, 3 kata untuk Scary Stories to Tell in the Dark:

Clever. Spooky. Old-School


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater