Men in Black: International (2019) – Pembaruan yang Kering


Review Share to
Sutradara: F. Gary Gray
Penulis: Art Marcum dan Matt Holloway
Pemeran: Chris Hemsworth, Tessa Thompson, Rebecca Ferguson, Kumail Nanjiani, Liam Neeson, dll
Genre: Action, Komedi, Sci-Fi
Durasi: 115 Menit

Men in Black: International hadir membawa ciri khas dari film-film terdahulunya, ringan dan menyenangkan. Perpaduan antara aksi, komedi, dan fantasi memang terasa sepanjang film. Namun sayangnya, bila dilihat secara keseluruhan, film ini terbilang membosankan.

Kalau diperhatikan, ciri khas dari Men in Black ada di dua elemen. Yaitu tentang alien dan cerita yang berpusat di sebuah tim yang berisikan dua agen dengan karakter yang berbeda.

Men in Black menggambarkan alien sebagai makhluk hidup pada umumnya. Mereka punya karakteristik tertentu, bisa berinteraksi dan hidup bersama dengan makhluk lain (termasuk manusia), serta punya sisi baik dan buruk. Ya, seperti makhluk lain, beberapa ras alien juga maju hingga memiliki peradaban tersendiri.

Elemen berikutnya adalah tentang duo agen MIB. Pada film terdahulu ada Agent K (Tommy Lee Jones) dan Agent J (Will Smith). Tentu menyenangkan menonton plot ala buddy cop seperti itu. Ya, tentang bagaimana dua kepribadian berbeda yang pada akhirnya akan saling melengkapi.

Patut diingat bahwa dinamika keseharian duo agen tersebut berurusan dengan alien. Jadi ada perpaduan antara aksi dan juga fantasi. Yang membuatnya lebih menarik adalah perpaduan tersebut dikemas dengan nuansa komedi yang kuat

Sisi positifnya dari International adalah dua elemen tersebut kembali dihadirkan. Bahkan plot besarnya cenderung mirip, yaitu tentang bagaimana seorang agen baru yang dipasangkan dengan agen berpengalaman. Lalu mereka berdua terlibat dalam menangani permasalahan yang serius. Di film ini, dua tokoh tersebut adalah M (Tessa Thompson) sebagai agen baru dan H (Chris Hemsworth) menjadi agen senior.

Tentu pengulangan itu sah saja. Namun yang menjadi kekecewaan adalah bagaimana chemistry antara M dan H terasa datar. Padahal inilah salah satu kekuatan utama dari cerita MIB. Dugaan saya, penyebab utamanya adalah dari pengembangan karakter yang tanggung.

Padahal secara karakter sebenarnya cukup familiar. Agen M hadir dengan tipikal anak baru. Pintar, ambisius, dan sok tahu. Namun sepanjang film, hanya sedikit momen yang mampu menggambarkan karakteristik itu. Hasilnya pun karakter agen M terasa samar-samar saja.

Untuk agen H, dia adalah tipikal lone hero. Bekerja sendirian, berpengalaman, punya skill mumpuni, tetapi agak ceroboh. Kalau dari karakter H terbilang lebih baik dari M. Hanya saja ada momen yang patut dipertanyakan, yakni ketika beberapa karakter lainnya berasumsi bahwa H telah berubah setelah “misi besar”. Masalahnya adalah hal itu tak pernah dijabarkan secara jelas perbedaannya. Ya, itu cukup mengganggu.

Terlepas dari itu, MIB memang menyenangkan. Mayoritas unsur komedi hadir dari karakter Pawny (Kumail Nanjiani). Itu pun melalui kata-kata yang terlontar dari mulutnya. Sisanya malah terasa hambar, karena komedinya tidak dirancang secara situasional. Namun hanya seperti menyisipkan lelucon-lelucon saja.

Secara keseluruhan, Men in Black: International hadir sebagai alternatif hiburan kita di bulan ini. Filmnya ringan dan menyenangkan. Namun tanpa menghadirkan sesuatu yang baru dan eksekusi yang lemah, Men in Black: International hanya seperti replika murahan.

Terakhir, 3 kata untuk Men in Black: International:

Flat. In. Black.


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater