Della Dartyan & Adipati Dolken di Love for Sale 2 (Credit: cultura.id)

Love for Sale 2 (2019): Kebahagiaan itu Bisa Disewa


Review Share to
Della Dartyan & Adipati Dolken di Love for Sale 2 (Credit: cultura.id)
Della Dartyan & Adipati Dolken di Love for Sale 2 (Credit: cultura.id)

Sutradara: Andibachtiar Yusuf
Penulis: Andibachtiar Yusuf
Pemeran: Della Dartyan, Adipati Dolken, Ratna Riantiarno, Ariyo Wahab, Bastian Steel, dll.
Genre: Drama
Durasi: 92 Menit

SPOILER WARNING!

Saya yakin bahwa yang namanya kebahagiaan adalah sesuatu yang subjektif. Setiap orang bisa dan berhak menentukan apa yang membuatnya bahagia. Walau bila ditelaah kembali, pada dasarnya inti dari kebahagiaan itu sama. Soal kesenangan dan ketentraman hidup secara lahir dan batin. Ya, setidaknya itulah definisi yang tercantum di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Karena begitu subjektif, maka standar kebahagiaan tiap orang bisa berbeda. Masing-masing memproyeksikan hal-hal apa yang bisa membuatnya senang dan tentram dalam hidup. Sayangnya hal itu terkadang malah menimbulkan masalah karena bersinggungan dengan orang lain.

Terbentur Standar Bahagia Orang Lain

Persoalan itu cukup tergambar di film Love for Sale 2. Cerita film ini berpusat pada Ican (Adipati Dolken) yang sedang dilanda kegelisahan karena adanya tuntutan dari sang ibu (Ratna Riantiarno). Seperti pemuda dewasa pada umumnya, Ican didesak agar segera menikah.

Dari situ bisa terbaca bahwa Ican sedang terbentur dengan proyeksi kebahagiaan orang lain. Sebagai anak, Ican tentunya ingin membahagiakan orang tua. Namun di sisi lain, ia sendiri tidak mau terburu-buru untuk menikah. Sebuah dilema batin yang mungkin Kawan Kutu pernah (atau akan) rasakan. Situasinya memang menyebalkan. Beruntung Andibahctiar Yusuf dan M. Irfan Ramly memberi penggambaran motif kuat.

Tekanan pada Ican sebenarnya tidak hanya dari keluarga, tetapi ada juga faktor-faktor pendukung. Seperti contohnya masalah agama. Ican yang tumbuh dari orang tua muslim religius sering dibujuk menikah supaya bisa menghindari zina. Bahkan sempat ada adegan di mana sang ibu menyarankan untuk nikah siri terlebih dahulu.

Adipati Dolken di Love for Sale 2 (Credit: tirto.id)
Adipati Dolken di Love for Sale 2 (Credit: tirto.id)

Faktor lainnya datang dari lingkungan. Ya, Indonesia sendiri memang punya rata-rata menikah di usia 25 tahun. Dilihat dari angka itu, wajar jika muncul tekanan karena ia telah sedikit berbeda, yaitu telah menginjak 32 tahun dan belum menikah.

Kedua faktor itulah yang juga menjadi penguat motif sang ibu untuk mendesak Ican. Awalnya ingin bahagia dengan melihat sang anak menikah. Namun di sisi lain seolah timbul perasaan “malu” pada orang lain.

Ironi Pernikahan

Dibanding film pertamanya, Love for Sale 2 menyelami pernikahan lebih dalam. Selain soal latar keluarga, di sini juga disinggung soal masalah dalam pernikahan.

Pertama, stereotip tentang menantu dan mertua. Pengangkatan ide ini brilian, karena membuat konfliknya lebih kompleks.

Tentunya kita pernah dong mendengar kalau menantu itu jarang akrab dengan mertua. Di sini jelas digambarkan bagaimana sikap sang ibu terhadap menantunya, yaitu Maya (Putri Ayudya). Oh ya, Maya adalah istri dari kakaknya Ican, si Ndoy (Ariyo Wahab).

Maya kesulitan memenangkan hati sang mertua meski selalu bersikap baik. Alasannya adalah latar pernikahan Maya dan Ndoy. Dari yang saya tangkap, sebelum menikah dengan Ndoy, Maya adalah seorang janda dengan dua anak. Status Maya itulah yang membuat sikap sang mertua selalu ketus pada Maya.

Ratna Riantiarno, Ariyo Wahab, Adipati Dolken, & Bastian Steel (Credit: beritagar.id)
Ratna Riantiarno, Ariyo Wahab, Adipati Dolken, & Bastian Steel (Credit: beritagar.id)

Masalah kedua datang dari adiknya Ican, Buncun (Bastian Steel). Ini yang paling krusial karena menyangkut perceraian. Diceritakan bahwa penyebab mereka berpisah adalah karena Buncun seorang “pemakai”. Konfliknya juga jadi berlapis dengan masalah hak asuh anak. Belum lagi latar pernikahan Buncun adalah karena hamil di luar nikah.

Satu anak menikah dengan janda, yang satunya lagi menikah karena hamil duluan. Dua hal yang selalu dianggap tabu oleh masyarakat. Sudah pasti dihindari oleh para orang tua, terutama yang sibuk mementingkan komentar orang lain.

Ironi memang. Seolah kita diberi gambaran singkat bahwa masalah akan selalu tetap ada, termasuk dalam sebuah pernikahan.

Posisi Arini

Di tengah-tengah permasalahan Ican dan keluarganya, muncul Arini (Della Dartyan). Sosok wanita paling tega dan tak terduga sedunia akhirat.

Arini tiba-tiba datang memberi nuansa baru di keluarga Ican. Bagi sang ibu, Arini adalah sosok menantu idaman. Cantik, bisa masak, murah hati, penuh sopan santun, dan yang paling penting adalah satu suku.

Efek Arini ternyata besar bagi keluarga Ican. Sikap sang ibu perlahan berubah pada Maya dan Ndoy. Ia pun jadi lebih bersemangat dan terlihat bahagia. Karena seolah memiliki anak perempuan dan calon menantu yang didambakan.

Della Dartyan di Love for Sale 2 (Credit: cinemags.co.id)
Della Dartyan di Love for Sale 2 (Credit: cinemags.co.id)

Walaupun kehadiran Arini tidak selamanya, tetapi pada akhirnya ia memberikan kebahagiaan untuk keluarga Ican. Mereka jadi lebih terbuka dan harmonis.

Namun kesan kuat yang ditinggalkan oleh Arini malah menyisakan luka. Terutama untuk Ican dan sang ibu. Ican kehilangan kekasih, sedangkan sang ibu gagal mendapat orang yang telah dianggap sebagai anak perempuannya sekaligus calon menantu dambaan.

Kehangatan keluarga Ican pun sepertinya sedikit membuka sosok Arini. Karena ada beberapa adegan yang sedikit menyiratkan latar belakangnya.

Bagaimanapun Arini telah sukses menjalankan misi sesuai yang ia katakan. “Aku suka memberi kebahagiaan orang lain”, itulah kata-kata Arini (kalau gak salah) saat ditanya mengapa ia rela melakukan pekerjaannya oleh Ican.

*****

Memang kebahagiaan itu subjektif. Namun bila melihat kisah Arini dan keluarga Ican, mungkin kita bisa mengamini apa yang pernah dikatakan oleh Richard Lazarus, yaitu

“Kebahagiaan itu mewakili suatu bentuk interaksi antara manusia dengan lingkungan.”

Harus diakui memang bahwa dengan adanya interaksi, berarti juga timbul potensi masalah. Namun di sisi lain juga pernyataan tersebut menjelaskan bahwa kebahagiaan bisa dibagi ke orang lain. Bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang egois, hanya karena sifatnya yang subjektif. Ya, buktinya meski hanya dalam waktu singkat, Arini bisa memberi kebahagiaan untuk keluarga Ican.

Karena sesungguhnya, kebahagiaan memang tidak bisa dibeli.

Namun kebahagiaan bisa disewa.


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater