Jessica Jones – Season 3: Area Abu-Abu


Review Share to

Kreator: Melissa Rosenberg
Pemeran: Krysten Ritter, Rachael Taylor, Eka Darville, Benjamin Walker, Carrie-Anne Moss.
Genre: Drama, Crime, Superhero
Distributor: Netflix

Di season ketiga ini, cerita Jessica Jones hadir dengan tema yang menarik, yaitu tentang heroisme.

Berkali-kali muncul momen yang menyinggung pemikiran tentang pahlawan. Apa yang membedakan seorang hero dengan vigilante? Bagaimana tentang aksi-aksi yang dilakukan oleh seorang superhero? Apakah itu wajar? Apakah tak masalah bila bersebrangan dengan hukum atau norma yang berlaku? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang mengelilingi cerita Jessica Jones di season ketiga ini.

Perdebatan tentang heroisme didukung oleh tiga karakter, Gregory Sallinger (Foolkiller), Trish Walker (Hellcat), dan Erik Gelden (Mind-Wave). Mereka bertiga berperan dalam membangun narasi heroisme di season ini.

Pertama dari Sallinger. Di season ini, Gregory dengan jelas hadir sebagai villain. Seorang psikopat murni dengan kemampuan fisik dan otak yang mumpuni. Dalam melakukan aksinya, ia selalu berhati-hati dan mendetail. Maka dari itu, ia sulit untuk dikalahkan.

Selain itu, hadirnya Sallinger juga memberi tantangan tersendiri bagi Jessica Jones. Pada dasarnya, Sallinger adalah orang biasa, dan ia paham betul akan hal itu. Maka ia membuat Jessica mau tak mau harus menempuh jalur hukum untuk mengalahkannya. Karena bila tidak, Gregory akan membuat Jessica yang bersalah akibat main hakim sendiri tanpa bukti yang kuat.

Di sisi lain, Trish Walker mengalami pengembangan karakter yang signifikan. Ia perlahan berubah dari wanita manis menjadi pembunuh keji di season ini. Trish punya pandangan beda terkait cara menangani orang-orang jahat. Dia memilih untuk langsung “menghakimi” para orang jahat tersebut, tanpa jalur hukum.

Tentu hal itu sangat mengganggu dan menimbulkan dilema bagi Jessica. Karena ia mau tak mau harus mengalahkan orang jahat sekaligus saudara tirinya. Terlebih ia harus menghadapi Trish yang kini punya kekuatan super, tapi kesulitan mengontrol emosi dan amarahnya.

Tokoh terakhir yang berperan besar dalam permasalahan heroisme adalah Erik Gelden. Gelden hadir sebagai karakter baru di kehidupan Jessica. Ia adalah awal dari konflik besar di season ini.

Erik pun ternyata memiliki kekuatan khusus. Namun berbeda dengan yang dimiliki Jessica atau Trish yang punya kemampuan fisik melebihi rata-rata manusia. Kekuatan Erik adalah ia mampu merasakan keburukan dalam diri seseorang. Dia akan merasa sakit kepala saat berada dekat dengan orang jahat. Semakin jahat seseorang, maka sakit kepalanya akan bertambah dan terasa luar biasa sakit.

Menarik untuk melihat kemampuan Erik yang cukup menyiksa dirinya. Dalam persoalan heroisme, Erik muncul sebagai “hakim” yang mampu menentukan baik dan buruk seseorang. Namun dia tak langsung tahu keburukan apa yang dilakukan oleh orang-orang jahat yang membuatnya sakit kepala. Dia tetap harus menelusuri demi membuktikan kemampuannya.

Secara keseluruhan, season ini menghadirkan story telling yang kuat. Tema heroisme dibungkus dengan hadirnya berbagai elemen yang menimbulkan pertanyaan seputar baik dan buruk. Tentunya hal itu berputar di sekeliling Jessica, orang yang cuek di luar tapi sangat rapuh di dalam.

Sebagai penutup, saya rasa tema dan cara penceritaan yang disajikan menjadi sesuatu yang manis. Karena season ini tak hanya penutup bagi serial Jessica Jones, tetapi untuk keseluruhan serial Marvel di Netflix.

Terakhir, tiga kata untuk Jessica Jones – Season 3:

Judge. Jury. Executioner.


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater