Abimana Aryasatya dengan kostum Gundala

Gundala (2019): Candu Baru


Review Share to
Abimana Aryasatya di Gundala (2019)
Abimana Aryasatya di Gundala (2019)
Sutradara: Joko Anwar
Penulis: Joko Anwar
Pemeran: Abimana Aryasatya, Tara Basro, Bront Palarae, Ario Bayu, dll
Genre: Drama, Action, Superhero
Durasi: 123 Menit

*SPOILER WARNING*

AKHIRNYAAA GUE NULIS LAGI!

KAPAN YA TERAKHIR NULIS? KAPAN? Lupa bahkan astaga.

Namun untuk film yang satu ini, gue enggak bisa buat enggak nulis.

Selama satu dekade terakhir, kita udah dibuat kenyang oleh Kevin Fiege dengan semesta Marvelnya, yang membuat Disney selangkah lagi kena undang-undang monopoli kalau mereka sampe going extra miles buat beli Sony juga demi memperjuangkan Spiderman.

Kita juga sedikit diberi selingan lewat semesta DC yang trying too hard untuk tertata seperti Marvel tapi turns out cuma jadi film (yang katanya) hanya dapat dinikmati oleh penikmat hardcore komiknya (HILIIIH). Intinya sudah dalam 10 tahun terakhir kita diberikan kisah-kisah heroik para pahlawan. Mulai yang punya kekuatan super, hingga yang punya kekayaan super. Mulai yang enggak pakai baju, sampai yang bajunya ketat. Saking ketatnya, penonton pun ikutan sesak.

Tidak berhenti di film, serial TV bertema superhero pun menjamur. Ada Flash, Arrow, Gotham, Daredevil, Punisher, Titans, Swamp Thing, Boboboi, ya banyaklah pokoknya. Tidak henti-hentinya kita dijejali satu iconic scene yang menyorot si pahlawan dengan pose heroik dan musik menggugah yang membuat kita merinding disko melihatnya. Bisa karena merasa “wiih keren”, atau “duh kebelet”, yang manapun, signature itu selalu ada.

Lantas, yang tidak ada apa? Apa yang membuat film-film tersebut terasa “hambar”? Adegan apa yang, misalnya, ada di salah satu film itu akan membuat kita-kita (ini mah gue aja sih sebenernya, enggak tahu kalau kalian) merasa ada rasa chill tambahan? Kalau Indonesia masuk ke sana.

Gue inget di film Captain America: The Winter Soldier (2014), aktor senior Ray Sahetapy dikabarin ikut ambil peran, meskipun akhirnya itu tidak terbukti. Yang terbaru adalah di Avengers: End Game (2019). Peta Indonesia ada di globe saat Tony berdongeng untuk Morgan sebelum momen “I Love You 3000”. Itu rasanya girang saja, “Eh ada negara gue”. Se-receh itu ya? Haha.

Ya, bagaimana tidak? Sejak kita (atau gue lagi doang ini mah) kecil, atau setidaknya memiliki ingatan yang bisa di recall, semua perwujudan superhero dijejalkan oleh Jepang dan Amerika pada sosok Rider, Super Sentai, dan Superhero. Ingin rasanya memiliki karakter yang “kita banget”, yang mewakili apa yang ada di realita, yang masuk akal dengan kondisi kita.

Hingga di suatu hari di bulan April, Joko Anwar tiba-tiba mengumukan bahwa ia akan terlibat langsung dalam film Gundala. Lalu 6 bulan kemudian, first look dari karakter tersebut dipertontonkan pada khalayak. Awalnya proyek ini akan dikerjakan oleh Hanung di 2014 lalu, namun karena ada perbedaan visi, proyek ini akhirnya beralih ke tangan Joko Anwar.

Gundala memang bukan benar-benar film Indonesia bertema superhero pertama. Sebelumnya ada Valentine (2017), Garuda Superhero (2015), Jagoan Instan (2016), Wiro Sableng: Pendekar Maut Kapak Geni 212 (2018), bahkan Rafathar (2017). Namun melalui Gundala, pintu Jagat Sinema Bumilangit resmi dibuka. Film superhero yang memiliki proyek jangka panjang, yang memiliki visi ke depan dan keterkaitan cerita antara satu dan yang lainnya kelak. Bagaimana dengan filmnya? Solid!

Gue tentunya bukan tipikal yang “Ini film lokal woi! Bangga dong, dukung dong, nonton dong”. Gue hanya akan menggebu-gebu merekomendasikan film kalau filmnya:

  1. Bagus
  2. Jelek banget.

Gue tentunya enggak akan memaksa orang untuk buang uang dan waktu atas nama “peduli film nasional” atau “dukung karya anak bangsa.” But hell, Gundala ini worth every hype!

Abimana Aryasatya dengan kostum Gundala
Abimana Aryasatya dengan kostum Gundala

Memakai tone yang gelap dan kelam membuat opening Gundala seakan menyaksikan Pengabdi Setan (2017) atau film sejenisnya. Ciri khas Joko Anwar yang selalu menyelipkan karya-karya sebelumnya pada film terbaru, juga dilakukan di film ini. Setidaknya yang saya sadari adalah lagu Kelam Malam yang juga digunakan di film ini. Di sini Sancaka sering teriak “Ibu” pula, untung bukan “Ibu” yang lain yang datang.

Hal yang saya amat gandrungi dari film ini adalah bagaimana Joko Anwar melakukan pendekatan yang cukup detail. Pendalaman karakter pun dilakukan dengan cukup cermat dan dalam, meskipun sebenarnya tanda tanya tentang kekuatan Sancaka yang masih menggantung di kepala saya. Namun dari segi komposisi cerita, yang membahas masa kecil Sancaka di hampir 30 menit durasi cukup menguras emosi dan memberi justifikasi tentang kelahiran sosok Gundala pada dirinya.

Satu detail yang saya kagumi adalah bagaimana Joko Anwar memperhatikan plang The Djakarta Times, tempat kerja Sancaka, untuk dibuat di atas gedung. Meskipun pada scene, hanya ditampilkan bagian belakangnya saja secara sekelebat, itupun hanya setengah bagian. Namun detail seperti itu yang dapat membuat kita tahu bahwa orang-orang yang bekerja untuk film ini tidak sembarangan.

Namun dari detail tersebut, sebenarnya ada hal yang menjadi tanda tanya besar saya. Yakni terkait latar waktu untuk film ini. Pada satu scene ditunjukkan sebuah mobil berhenti dengan masa berlaku plat tahun 2000. Berarti paling tidak, asumsi saya adalah latar waktu diambil di kisaran tahun 1995-2000. Melihat chaos yang terjadi, kemungkinan setting di 97/98.

Abimana Aryasatya & Tara Basro di Gundala (2019)
Abimana Aryasatya & Tara Basro di Gundala (2019)

Namun situasi dan kondisi masyarakat seolah menyindir milenial yang apatis dan lebih mementingkan “update dulu/foto dulu”. Yang jadi masalah, saat itu ponsel yang digunakan belum secanggih itu. Awalnya saya mengira, mungkin latar tempat tidak mengambil di Indonesia, atau mungkin ini universe lain, karena selalu ada sebutan “negeri ini” tanpa menyebut nama negara, tapi kemudian ada satu scene ketika “Indonesia” disebut, yang tentunya berarti latar tempat film ini berada di Indonesia. Memang bukan hal yang terlalu penting, tapi cukup jadi pertanyaan.

Dana besar yang dibutuhkan film ini pun semakin terasa, seiring berjalannya film. Aktor-aktor wahid negeri ini bahkan ada yang berperan “hanya” menjadi preman pasar atau cameo sementara. Keterlibatan media pun terasa ketika akhirnya untuk pertama kali, scene berita televisi pada sebuah film layar lebar Indonesia, menampilkan stasiun TV betulan. SCTV, ANTV, dan TV One ikut andil dalam film ini (ya liat belakangnya juga sih ya). Joko Anwar pun secara cermat menempatkan iklan sponsor dengan penempatan yang rapi, contohnya seperti Bank BRI.

Secara keseluruhan, film ini merupakan angin segar dan harapan baru untuk perfilman Indonesia, genre baru yang menjanjikan banyak hal dan banyak film serupa ke depannya. Seperti kita tahu, bahwa film Gundala merupakan gerbang awal jagat Bumi Langit menuju patriot-patriot lainnya. Bahkan ada penampilan khusus dari salah satu patriot yang memberi petunjuk siapa karakter yang muncul berikutnya. Penasaran? Hmm, kan enggak boleh spoiler ya. Gue kasih clue aja, “PUBG”.

Tentunya ada plus dan minus di film ini. Bagus banget? Tidak juga. Jelek? Tidak tentunya, tetapi ada beberapa kekurangan yang bisa dimaksimalkan di bagian lain. CGI yang ditampilkan meskipun tidak istimewa, tapi cukup. Meskipun asal-usul kekuatan Gundala tidak seratus persen digamblangkan, pendalaman karakter Sancaka dibuat cukup rapi. Hilangnya Awang dan masih misterinya sosok Ibu pun menjadi tanda tanya yang harus dijawab bila tidak ingin menjadi lubang.

Pada akhirnya, bagi gue Gundala merupakan pembuka yang solid untuk Jagat Sinema Bumilangit. Gundala juga menjadi film Indonesia pertama, yang membuat penonton tetap di kursi hingga credit benar-benar berakhir. Meskipun pada salah satu scene, Pengkor mengatakan, “Harapan bagi rakyat adalah candu, dan candu itu berbahaya.Well, film ini merupakan harapan baru bagi perfilman Indonesia, dan kita selayaknya berterima kasih kepada semua yang terlibat telah memberikan candu baru untuk kita nikmati di layar perak kita. Cheers for more of this to come.

Memorable Line:

“Enggak ada gunanya hidup kalau enggak peduli, dan cuma mikir diri sendiri”

Terakhir, tiga kata untuk Gundala:

Fresh. Amusing. Menyambar!


Kutu Klimis

Just sit and talk about football, Manchester United, or movies, and we will be good buddies in no time.