Review Film TENET (2020) – Dalam Tetapi Dangkal


Review Share to
Robert Pattinson dan John David Washington
Robert Pattinson dan John David Washington

Pertama kali menyaksikan trailer Tenet, saya langsung takjub dengan sinematografinya. Apakah ini film time travel? Bukan. Atau ini film dengan konsep original dan fresh? Dilihat dari rekam jejak film-film Christoper Nolan sebelumnya, kemungkinan iya.

Nolan memang terkenal sebagai penggebrak diantara gempuran film remake, sekuel, reboot, prekuel. Kita dibuat untuk terus menebak ceritanya seperti apa. Fix! Ini memang Nolan banget! Bermain dengan konsep ruang dan waktu.

Sang protagonis (ya, serius itu nama karakternya) di awal film berusaha menjalankan misi penyelamatan, yang pada akhirnya direkrut menjadi organisasi khusus bernama “Tenet”. Sebuah organisasi yang memiliki kemampuan “Inversion“, yang artinya memutar balik kejadian tertentu (Ini sudah Kawan Kutu lihat di trailer).

Inversion itu bisa dijalankan dari mesin khusus bernama “turnstile“. Sang protagonis berusaha menyelamatkan mesin itu jatuh ke tangan orang yang salah. Itulah premis utama dari film Tenet. Saya tidak akan memberikan deskripsi lebih detail karena pasti Kawan Kutu pusing membacanya. Saya saja yang menonton filmnya masih bingung.

John David Washington, aktor utama film Tenet
John David Washington, aktor utama film Tenet

Oke, saya akui untuk sebuah konsep ide film, Tenet memang top markotop. Segar, unik dan terasa “sci-fi banget”. Ciri khas Nolan adalah mengutak atik konsep ruang dan waktu. Plotnya begitu kuat dan solid, sampai saya sendiri agak kesulitan untuk menemukan plot hole-nya (tidak seperti film Nolan sebelumnya The Dark Knight Returns).

Mata kita dimanjakan dengan visualisasi practical effect yang begitu indah dan original (ciri khas Nolan). Diiringi oleh aransemen musik original score yang begitu apik dan cocok. Mengejutkannya, biasanya Nolan selalu bekerja dengan Hans Zimmer, komposer yang diandalkan dalam film-film sebelumnya (The Dark Knight, Interstellar, Inception). Namun kali ini, dia bekerja sama dengan Ludwig Goransson, seorang komposer yang karyanya adalah original score dalam film Black Panther, Mandalorian, dan Venom. Jadi bisa dibilang film ini lebih terdengar “berbeda musiknya”. Ditambah dengan soundtrack yang dinyanyikan Travis Scott “The Plan“. Keputusan yang sangat unik dari Nolan.

Namun ada kesalahan fatal yang tidak Nolan sadari, kurangnya motivasi tiap karakter dan perkembangannya. Di adegan pertama pun saya bingung dengan motivasi sang protagonis, dia dibuat seolah hanya seorang agen yang menjalankan misinya. Tempo filmnya seolah dibuat begitu cepat dan terburu-buru sehingga kita sebagai penonton dibuat untuk menikmat ceritanya saja tanpa memedulikan karakternya. Karakter dihadirkan supaya plot bisa terus berjalan, tanpa ada kedalaman masing-masing. Tidak heran, saya tidak memiliki simpati kepada apapun yang terjadi pada karakter. Karena dari awal, saya terus dijejali dengan narasi dan eksposisi tanpa emosi yang mendalam sehingga kita serasa lagi kuliah fisika kuantum.

Aksi John David Washington di Tenet
Aksi John David Washington di Tenet

Perlu dimaklumi juga dalam film ini, Christopher Nolan yang biasanya didampingi adiknya, Jonathan Nolan, dalam menulis naskah kali ini dia menulis cerita dan naskah sepenuhnya sendiri (seperti dalam Inception). Jadi saya bisa memahami betapa berat beban yang dipikul Nolan. Ditambah dengan situasi pandemi sekarang semakin mempersulit maka dipastikan Tenet tidak mudah untuk diapresiasi.

Apakah Tenet bagus? Ya dan tidak. Ya, karena kita disuguhkan dengan konsep cerita yang unik dan original. Tidak, karena dibalik kemewahan plot itu, ada karakter yang begitu kosong dan dangkal sehingga kita tidak memiliki simpati apapun.

Empat kata untuk film ini “Inception lebih bagus, hehe.”


Kutu Kamar

Penulis serta penjelajah juga idealis & semua pasti dijamah.