Joaquin Phoenix di Film Joker (2019)

Joker (2019): Welcome to the Black Parade


Review Share to
Joaquin Phoenix di Film Joker (2019)
Joaquin Phoenix di Film Joker (2019)/Sumber: culturedvultures.com
Sutradara: Todd Phillips
Penulis: Todd Phillips dan Scott Silver
Pemeran: Joaquin Phoenix, Robert De Niro, Zazie Beets, Frances Conroy, Brett Cullen, dll.
Genre: Drama, Crime, Thriller
Durasi: 122 Menit

Bulan Oktober ini memang bulannya film horor. Film Indonesia jelas, akan punya tiga gacoan pada judul Perempuan Tanah Jahanam dan Ratu Ilmu Hitam untuk film dengan nuansa mistis, dan satu lagi pada Love For Sale 2 untuk nuansa horor realita (ini genre ngarang, tapi filmnya yang paling serem, sih. Hehe). Hollywood tentunya lebih banyak judul, gue lebih pusing milihnya, tapi yang jelas, mereka sudah memulai horror vaganza-nya melalui film yang baru saja rilis kemarin, Joker.

Iya, enggak salah, Joker.

Memang film ini secara genre sama sekali bukan film horor. Namun buat gue, film ini bisa bikin merinding disko dan membuat perasaan benar-benar enggak enak setelah selesai nonton. Joker diproduksi di bawah sorotan yang benar-benar tajam. Bagaimana tidak? Sosok Joker, The Clown Prince of Crime-nya Gotham City, mutlak digenggam oleh mendiang Heath Ledger. Bahkan Jared Leto yang sebelumnya mendapat estafet untuk memerankan tokoh tersebut di Suicide Squad (2016) harus rela menjadi bahan hujatan. Bisa dibayangkan bagaimana nekatnya Todd Phillips menyutradarai film ini? Ia “menyeret” Joaquin Phoenix untuk berdiri di bawah sorotan dan memerankan Joker.

Sebuah langkah yang amat berani. Jared Leto saja yang bermain bukan dalam film standalone, mendapat tatapan mata yang amat banyak untuk perannya. Namun di sini, mereka membuat sebuah film standalone, tentang asal-usul Joker, di mana pada komik dan film saja, Joker ini istilahnya “unknown“.

Kalau diibaratkan, Todd Phillips dan Joaquin Phoenix ini seperti Vin Diesel dan Paul Walker yang berada di dalam mobil dan melihat jurang, lalu bukannya mengerem, mereka malah tancap gas. Todd menengok ke Joaquin Phoenix dan mereka bertatapan lalu berteriak, RIDE OR DIE! Taruhannya kalau enggak ada jalan penyambung, mereka jatuh dan mati. Kalau ada jalan? Ya, lanjutlah. pake nanya.

Beruntungnya (atau gila nya?), they made it.

Todd Phillips dan Joaquin Phoenix
Todd Phillips dan Joaquin Phoenix/Sumber: imdb.com

Joker merupakan salah satu masterpiece di tahun 2019 ini.

Gue bahkan enggak tahu harus memulai dari mana. Yang jelas gue masuk studio dengan perasaan excited, dan keluar dengan perasaan enggak enak. Bukan karena kecewa, tapi enggak enak karena film ini berhasil mengorek sisi kelam dan kenyataan gelap dari kehidupan bermasyarakat kita dewasa ini. Anyway, lupakan deh semua tentang Joker yang ada di animasi atau yang “lahir” dari kecelakaan kimia. Kalau lo semua pernah lihat meme yang tersebar setelah trailer film ini dirilis, sedikit banyak itu cukup menggambarkan. Kita tidak perlu lempar orang ke cairan kimia buat bikin dia jadi Joker, suruh saja dia hidup dalam masyarakat.

Tone film ini, asli, dark banget. Selain karena memang dibuat temaram, jalan ceritanya pun begitu kelam. Ketawa khas Joker yang ikonik itu bisa dibawakan dengan gila oleh Joaquin Phoenix. Ya, ternyata ada alasan di balik ketawa itu dan dijelaskan di film ini, yang membikin gue benar-benar sendu. Alih-alih mencoba untuk menampilkan suatu tayangan yang memiliki adegan heroik, film ini membawa kita untuk berjalan menuruni sebuah tangga, di mana setiap langkahnya akan mengajak kita turun lebih dalam untuk melihat bagaimana proses “terjadinya” Joker.

Todd Phillips menulis skrip filmnya dibantu oleh Scott Silver, penulis 8 Miles (2002) dan The Fighter (2010) yang juga pernah masuk Academy Awards (tapi enggak tahu deh gue, ini saingan atau enggak sama Brush With Danger). Pada suatu wawancara dia bilang kalau Joker versinya sama sekali tidak mengambil adaptasi dari komik. Ya, meskipun sebenernya gue liat ada influence sedikit dari The Killing Joke. Namun secara keseluruhan, memang tidak ada penggambaran atau adaptasi dari cerita komik, dan Jokernya terasa orisinil. Selain Joker, penggambaran Thomas Wayne dan Alfred pun sedikit berbeda dari apa yang biasa kita tahu. Biasanya kita hanya tahu Thomas dari sudut pandang Alfred dan Bruce, kini kita melihat Thomas Wayne dari kacamata Arthur. Oh iya, gue belum sebut ya, karakter Joker di sini bernama Arthur Fleck.

Latar tahun 80an di Gotham City menambah sisi kelam dari film ini. Skrip yang ditulis terasa solid dan berkesinambungan pada setiap adegan, seluruhnya terajut rapi dan utuh. Kualitas Joaquin Phoenix di sini benar-benar dikuras hingga batas maksimal. Gue benar-benar angkat topi, karena bagi gue, dia lebih dari berhasil melepaskan diri dari bayang-bayang penilaian orang akan Joker versi Heath Ledger.

Speaking of Heath Ledger. Sedikit trivia, entah gue terlalu berlebihan atau memang benar, ada beberapa easter eggs yang mungkin merupakan tribute untuk Heath. Lebih tepatnya di scene ketika Joker dibawa dalam mobil polisi, yang mengingatkan kita pada adegan di The Dark Knight Rises (2012). Selain itu ada foreshadowing pernyataan Alfred di film yang sama dalam dialog polisi dengan Joker yang kurang lebih dialognya:

Police: “You caused this city burn“.

Joker: (laugh) “I love it”.

Namun yang paling membuat bergidik dari film ini adalah, lo tahu kalau penggambaran society yang ada di film itu benar-benar mencerminkan apa yang kita jalani sekarang. Todd Phillips berhasil menggambarkan secara seimbang tentang good and evil di film ini. Dengan kata lain, dia berhasil membuat area abu-abu, di mana kita sendiri sebagai penonton akan terbelah dalam menilai film ini, tergantung dari kacamata mana kita menilai.

Joaquin Phoenix di Film Joker (2019) - 2
Joaquin Phoenix Berperan sebagai Arthur Fleck di Film Joker (2019)/Sumber: imdb.com

Lebih jauh lagi, Todd Phillips berhasil menggambarkan sosok Joker bukan hanya sekadar karakter komik, tapi lebih dari itu, Joker merupakan simbol. Simbol keputusasaan, simbol hilangnya harapan, simbol tidak adanya tujuan. Dan dengan realita yang ada, sadar atau tidak, kita saat ini sedang berada di situasi di mana kita sedang membuat orang lain menjadi Joker, atau justru, kita yang menjadi Joker. Menjadi sosok yang antipati, tidak peduli, melihat segala kesenangan dari penderitaan orang lain, dan pada akhirnya, bergabung ke sisi gelap, dan menerima senyuman mereka yang menyambut, “Welcome to the black parade, my friend, let’s watch the world burn, together“.

Memorable line:

“Is it just me, or is it getting crazier out there?”

– Arthur Fleck


Kutu Klimis

Just sit and talk about football, Manchester United, or movies, and we will be good buddies in no time.