Death Note (2017): Adaptasi yang Sembrono


Review Share to
Sutradara: Adam Wingard
Penulis: Charley Parlapanides dan Vlas Parlapanides
Pemeran: Nat Wolff, Lakeith Stanfield, Margaret Qualley, Shea Whigham, Willem Dafoe
Genre: Drama, Crime
Durasi: 101 Menit
Credit: Netflix

Pada dasarnya, sebuah karya adaptasi memang tak harus selalu sama persis dengan materi aslinya. Tentu dibutuhkan sesuatu yang baru untuk ditawarkan, terutama dari segi sudut pandang. Sering kali hal itulah yang menjadi ciri khas pembeda dan terkadang membuatnya lebih menarik ketimbang aslinya.

Namun membuat perubahan tak semerta-merta menjadikan karya adaptasi menjadi lebih baik. Akan ada banyak faktor lainnya yang ikut mempengaruhi. Sayangnya hal itu kadang terlupakan. Atau lebih parahnya, perbedaan dari materi asli malah membuat sebuah karya adaptasi kehilangan daya tariknya. Dan hal inilah yang saya rasa terjadi pada film Death Note garapan Adam Wingard.

Adam dan jajaran produser memang membuat keputusan yang berani. Mereka tak sekadar “memindahkan” materi Death Note ke medium film. Namun lebih ke arah membuat Death Note versi Amerika.

Ya, berbeda dengan aslinya, Death Note versi terbaru ini berlatar di Seattle, Amerika Serikat. Selain itu, mereka juga menyesuaikan nama-nama karakternya seperti Light Yagami yang diubah menjadi Light Turner. Dan tentunya bahasa yang digunakan juga menjadi bahasa Inggris.

Sebenarnya pendekatan yang dilakukan terbilang menarik. Karena menurut saya, salah satu yang membuat Death Note menjadi istimewa adalah tentang tema dan nuansa yang dihadirkannya. Jadi rasanya jika hal tersebut ingin diterapkan dengan latar yang berbeda, tentu saja akan memberi warna baru bagi Death Note.

Harus diperhatikan bahwa jika ingin membuat versi Amerika, hal itu akan berpengaruh terhadap bagaimana cara  mereka menyampaikan cerita. Ada sebuah risiko besar yang dipertaruhkan di sini.

Dengan mengubah latar dan elemen utama, tentu film ini akan kehilangan kultur aslinya. Dalam kata lain, mereka mengambil risiko untuk kehilangan (salah satu) daya tarik dari Death Note.

Terlepas dari kontroversi soal whitewashing, film Death Note menurut saya telah kehilangan salah satu daya tariknya sejak menit-menit awal. Penyebabnya adalah si tokoh utama, Light. Karakter Light (Nat Wolff) dibuat berbeda dengan versi aslinya. Jangan harap kita bisa melihat Light yang tenang dan tajam. Terasa kental unsur Amerika di sini, di mana Light adalah tipikal remaja yang culun, penyendiri, dan jauh lebih ekspresif.

Berkat pendekatan khas film Amerika, ada beberapa elemen penting yang juga dihilangkan di sini. Contohnya seperti perasaan betapa sakralnya death note. Ada beberapa kesempatan di mana Light dan Mia (Margaret Qualley) membicarakan death note di tempat umum. Seakan-akan tak ada kesempatan sama sekali untuk orang lain mengetahui atau mendengar pembicaraan mereka. Jadi, kita pun merasa bahwa death note bukanlah sesuatu yang maha penting, hanya seperti alat biasa saja.

Jika dilihat lebih luas lagi, permasalahan terbesar dari Death Note bukanlah masalah materi yang diubah. Bukan juga tentang bagaimana pendekatan Adam Wingard terhadap Death Note, melainkan penulisan plot yang lemah dan karakter yang luar biasa membosankan.

Buruknya penulisan sudah terlihat sejak munculnya Ryuk di awal film. Tak ada penjelasan mendetail tentang makhluk apa dia sebenarnya atau dari mana asalnya. Ryuk sendiri pun hanya mempengaruhi Light untuk menggunakan Death Note.

Terbilang sulit untuk menangkap logika dari film ini. Terutama mengingat unsur shinigami sendiri berasal dari budaya dan kepercayaan di Jepang. Lagipula rasanya orang Amerika pun tak terlalu percaya dengan hal mistis. Lalu bagaimana bisa Light yang digambarkan sebagai murid cerdas dengan mudahnya menerima tanpa menanyakan satu hal pun tentang Ryuk?

Credit: Netflix

Selain Ryuk, karakter Mia Sutton juga bermasalah. Menghadirkan “love interest” memang salah satu cara umum agar membuat sebuah cerita lebih menarik. Sayangnya karakter Mia tidak dikembangkan secara mendalam. Yang dia lakukan hanya mendukung Light lalu tiba-tiba terobesesi dengan Death Note. Tanpa ada motif yang jelas dan mendukung. Bisa dibilang hadirnya Mia tak lebih dari sekadar alat untuk merancang twist belaka.

Karakter L juga seperti sia-sia. Adam Wingard seolah menghilangkan daya tarik terbesar Death Note. Terlepas dari L yang secara mengejutkan menjadi begitu emosional, film ini tak menunjukkan persaingan kecerdasan antara L dan Light. Film ini memilih untuk menghilangkan salah satu daya tarik terbesar Death Note.

Pendekatan yang dilakukan oleh Adam Wingard memang menarik. Seperti menambah unsur kekerasan dengan darah yang melimpah dan sinematografi yang baik. Selain itu juga ada iringan lagu-lagu yang menjadi ciri khas film-film masa kini. Namun sayangnya, semua hal itu tertutupi oleh buruknya kualitas penulisan oleh Parlapanides dan siapa pun yang terlibat di dalamnya.

Secara keseluruhan film Death Note memang bermasalah di berbagai lini. Mulai dari masalah whitewashing, penulisan yang buruk, hingga karakter yang membosankan.

Pada dasarnya mengadaptasi suatu karya memang tak boleh sembarangan, dan film ini telah menunjukkannya. Bagaimana mereka telah kehilangan daya tariknya bahkan jauh sebelum filmnya dirilis. Sebuah adaptasi yang sembrono dengan eksekusi yang buruk.


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater