Bohemian Rhapsody (2018): Flamboyan di Luar, Rusak di Dalam


Review Share to
(Sumber: vox.com)

Sutradara: Bryan Singer
Penulis: Anthony McCarten
Pemeran: Rami Malek, Lucy Boynton, Gwilym Lee, Ben Hardy, Joseph Mazzello, dll.
Genre: Drama, Biografi, Musikal
Durasi: 134 Menit

Flamboyan. Sebuah kata yang rasanya tepat bila disematkan kepada seorang Freddie Mercury. Dengan suara yang melengking serta kostum eksentriknya, persona Freddie di atas panggung begitu menawan dan sulit dilupakan. Ditambah dengan lirik-lirik lagu yang ia nyanyikan bersama bandnya, Queen, membuat sosok Freddie Mercury menjadi ikonik.

Namun dibalik kemegahan penampilannya di atas panggung, Freddie memiliki kehidupan yang berliku-liku. Ada sisi gelap dan pilu dibalik gemerlap popularitas dan deretan mahakaryanya. Hingga pada akhirnya ia harus pergi selama-lamanya. Menyisakan kesedihan dan penyesalan mendalam bagi orang-orang terdekat dan penggemarnya.

Tahun 2018, sebuah film berjudul Bohemian Rhapsody dirilis untuk menghormati kisah Freddie Mercury dan Queen. Ironisnya film tersebut seolah-olah mencerminkan kisah Freddie, flamboyan di depan khalayak namun ada keburukan yang menggerogoti dari dalam.

Biopik Tanggung

Proyek ini pertama kali merebut perhatian dunia ketika foto Rami Malek, yang berperan sebagai Freddie Mercury, diedarkan. Padahal jauh sebelumnya, ide film ini sudah muncul sejak 2010. Saat itu gitaris Queen, Brian May, mengungkapkan hal ini ketika diwawancara oleh BBC.

Dari foto tersebut, ada satu pertanyaan besar yang terlintas di benak saya. Apakah film ini tentang Freddie Mercury atau tentang Queen? Karena bila berbicara seorang Freddie, otomatis kita juga berbicara soal Queen.

Tentunya kemunculan pertanyaan tersebut didukung oleh kemalasan saya untuk mengkonsumsi trailer dan segala promo lain dari sebuah film, kecuali memang terpaksa. Hingga pada akhirnya pertanyaan ini terjawab setelah menonton filmnya.

Ya, pertanyaan di atas memang terjawab tetapi jawabannya kurang kuat. Alasannya memang fokus cerita dari film ini jelas terlihat tanggung.

Bila film ini disebut sebagai biopik Queen rasanya kurang tepat. Karena di sepanjang film, terlihat karakter Freddie Mercury begitu mendominasi. Padahal band asal London, Inggris ini terdiri dari empat orang yang tentunya punya keunikannya masing-masing.

(Sumber: time.com)

Padahal dari awal film dimulai, timbul sebuah harapan kecil bahwa Bohemian Rhapsody ini mungkin akan menghadirkan cerita seperti yang ditunjukkan oleh Straight Outta Compton (2015). Film yang rilis pada tahun 2015 tersebut berkisah tentang perjalanan karier grup N.W.A.

Mengapa harus dibandingkan dengan Straight Outta Compton? Karena menurut saya, formula yang ditunjukkan pada film tersebut terbilang sukses dan memang nyaman untuk disaksikan. Selain itu, secara kasar ada banyak kemiripan yang dimiliki oleh Bohemian Rhapsody dan Straight Outta Compton.

Baik N.W.A. dan Queen adalah grup musik yang fenomenal. Keduanya sama-sama memiliki pengaruh yang signifikan, baik itu untuk genre yang mereka usung dan juga bagi industri musik. N.W.A. di hip hop sedangkan Queen di genre rock. Kemunculan mereka di dunia hiburan, dengan keunikannya masing-masing, tak hanya sekadar memberi warna baru tetapi juga mendobrak batasan-batasan yang ada.

Unsur penting yang diangkat menjadi dasar di kedua film pun serupa, yaitu lagu yang fenomenal dan juga ikonik. Lebih tepatnya F*ck tha Police dari N.W.A. dan Bohemian Rhapsody dari Queen. Kedua lagu ini disebut-sebut sebagai tonggak dalam menuju puncak kepopuleran masing-masing grup.

Selain itu, satu lagi elemen penting yang juga bisa dibilang mirip. Baik Straight Outta Compton dan Bohemian Rhapsody sama-sama diakhiri dengan kematian terkait HIV/AIDS.

(Sumber: gq.com)

Tentunya Bohemian Rhapsody punya potensi melakukan hal yang sama dengan Straight Outta Compton. Terutama terkait potensi soal dinamika hubungan antar anggota band Queen serta bagaimana kehidupan pribadi masing-masing karakter.

Namun kenyataannya, hal itu tak pernah benar-benar muncul hingga film usai. Malah bisa dibilang bahwa Bohemian Rhapsody lebih condong kepada Freddie Mercury sebagai sosok sentral di film ini.

Tak jadi masalah sebenarnya. Sayangnya, apa yang diceritakan tentang Freddie pun kurang mendetail dan mendalam. Ada banyak hal yang masih bisa dieksplorasi lagi. Seperti bagaimana kehidupan masa kecilnya, apakah itu berpengaruh terhadap pembentukan karakter Freddie? Atau tentang musisi-musisi serta hal-hal yang menginspirasi, mempengaruhi, dan menjadi referensinya hingga pada akhirnya Freddie menjelma menjadi seniman yang disegani.

Pada akhirnya, Bohemian Rhapsody menjadi biopik yang tanggung. Dibilang biopik Queen, tapi tidak membahas lebih lanjut soal band dan anggota-anggotanya. Bila disebut sebagai biopik Freddie Mercury pun rasanya masih kurang mendalami.

Momen Penting yang Hilang

Sebagai film yang bersandar pada kisah nyata, Bohemian Rhapsody melakukan hal yang cukup berbahaya. Lebih tepatnya, film ini meninggalkan berbagai momen penting dan bersejarah.

Salah satunya adalah tentang pembuatan logo Queen, yang juga dikenal dengan sebutan Queen’s Crest. Logo mereka dibuat oleh sang vokalis, Freddie Mercury, sebelum Queen merilis album perdananya. Keunikan dari logo ini adalah tampilannya yang menghadirkan kemegahan.

Logo Queen terdiri dari sebuah kombinasi elemen zodiak para anggotanya. Dua singa (Leo) untuk Deacon dan Taylor, seekor kepiting (Cancer) untuk May, dan dua peri (Virgo) untuk Mercury. Selain itu para hewan-hewan ini dipadukan untuk mengelilingi huruf “Q” yang besar dan terdapat mahkota di dalamnya. Perpaduan elemen-elemen tersebut dilengkapi oleh seekor phoenix yang besar.

Tentunya kehilangan momen pembuatan logo patut disayangkan. Karena logo adalah simbol yang mewakili sesuatu. Ada dasar filosofi yang ingin disampaikan oleh Mercury dan anggota-anggota lainnya di situ. Mengingat filmnya pun berpusat pada sosok Mercury, momen penting seperti ini tentu bisa mempertebal karakter sang vokalis.

Contoh lainnya adalah pengambilan foto untuk sampul album kedua mereka, Queen II. Ya, bila melihatnya tentu kita sadar bahwa foto ini menjadi sesuatu yang ikonik dari Queen. Foto tersebut pun menjadi landasan ide untuk produksi video musik lagu Bohemian Rhapsody. Memang unsur tersebut tetap ada, tetapi lebih seperti easter egg biasa ketimbang sebagai suatu momen yang penting.

Sampul Album Queen II (Sumber: amazon.com)

Namun yang menurut saya cukup bermasalah adalah tentang masa-masa sebelum Live Aid. Di film digambarkan bahwa ada konflik di antara Freddie dan anggota Queen lainnya. Bahkan seolah-olah mereka tidak saling bicara untuk beberapa waktu. Padahal kisah aslinya tak seperti itu.

Mudahnya, selama masa itu Queen tetap memproduksi album The Works yang rilis pada 1984. Bahkan mereka tetap melakukan tur ke berbagai negara. Dalam artian, harmoni mereka tetap terjaga. Berbeda dengan apa yang ada di film.

Memang secara kasar, hal-hal seperti itu wajar. Karena baik sutradara atau pun penulis skrip juga berhak memutuskan tentang bagian mana saja yang akan dimasukkan ke dalam filmnya. Namun ketika membuat film yang bersandar pada kisah nyata, penyelewengan fakta adalah sesuatu yang fatal akibatnya.

Terkendala Masalah Internal

Melihat masalah yang telah dibahas di atas, tentu awal permasalahannya berasal dari dalam. Ya, entah itu dari sang sutradara, penulis skrip, produser, atau juga narasumber anggota Queen yang juga punya pengaruh kreatif terhadap filmnya.

Memang sepanjang perjalanan pengembangan proyek ini, ada beberapa kejadian yang cukup rumit. Pertama soal pemeran Freddie Mercury. Awalnya peran ini diambil oleh aktor dan komedian Sacha Baron Cohen. Namun karena ada perbedaan soal kreativitas.

(Sumber: nme.com)

Dari artikel Deadline, Cohen ingin film ini lebih berorientasi pada audiens dewasa, sedangkan pihak Brian May dan Roger Taylor berpendapat lain. Mereka ingin membuatnya dengan pendekatan family-friendly. Cohen pun gagal menjadi Freddie di film ini. Peran tersebut pun akhirnya jatuh pada Rami Malek. Selain itu juga ada perbedaan pendapat lain tentang masalah subjek dan event di film ini. Terutama terkait dengan kelanjutan cerita setelah Freddie tiada.

Selain itu, masalah juga terjadi pada sutradara Bryan Singer. Pada Desember 2017, Singer dipecat dari proyek ini oleh pihak 20th Century Fox karena dianggap tidak profesional dalam bekerja. Ia dikabarkan sempat absen selama tiga hari berturut-turut, dengan alasan keluarga.

Bryan Singer dan Dexter Fletcher (Sumber: pagesix.com)

Pihak 20th Fox pun merekrut Dexter Fletcher sebagai sutradara untuk merampungkan film ini. Terhitung hanya tersisa beberapa minggu saja untuk target penyelesaian Bohemian Rhapsody. Karena tercatat pada 29 Januari 2018, beberapa pemeran mengabarkan melalui media sosialnya bahwa proses syuting telah rampung.

Dari sini bisa dilihat bagaimana Bohemian Rhapsody terbentur dengan masalah internal. Mulai dari pendekatan soal nuansa filmnya hingga sutradara yang bermasalah. Bisa jadi hal itulah yang menjadi alasan mengapa film ini terkesan tidak maksimal hasilnya. Meskipun tak boleh dibilang buruk juga.

Tertolong oleh Rami Malek

Sekarang kita tahu bahwa dari segi cerita, Bohemian Rhapsody memiliki berbagai masalah. Namun kekurangan itu hampir tidak terasa saat menonton filmnya. Alasan utamanya adalah karena Rami Malek, sang pemeran Freddie Mercury.

Rami Malek sebagai Freddie Mercury (Sumber: nydailynews.com)

Ya, penampilan Rami sunggu menawan. Tentu memerankan salah satu sosok paling ikonik dan kharismatik di dunia tak semudah membalikkan telapak tangan. Terlihat ada riset yang mendalam dari seorang Malek.

Hal itu bisa dengan mudah tercermin dari bagaimana gestur dan pembawaannya di sepanjang film. Bahkan butuh beberapa waktu untuk Malek berlatih berbicara menggunakan gigi prostetik demi penyesuaian dan pendalaman karakternya. Ia benar-benar menjelma menjadi seorang Freddie Mercury. Ya, jangan heran bila namanya nanti muncul dalam sebuah anugerah penghargaan.

***

Secara keseluruhan, film Bohemian Rhapsody bukanlah sesuatu yang bisa dikatakan buruk. Film ini cukup mewakili bagaimana perjalanan hidup Freddie Mercury dan juga sepak terjangnya bersama Queen. Sepanjang film pun kita disuguhkan dengan reka ulang momen-momen keren dari Queen, tentang bagaimana kemegahan musik dan penampilan mereka di atas panggung. Namun harus diakui juga bahwa ada berbagai kekurangan di bagian ceritanya.

Ironis memang. Film ini seolah-olah menjadi cerminan Freddie Mercury. Flamboyan dan megah, tetapi ada kegelapan yang menggerogoti dari dalam.


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater