Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI’ (1984): Kendaraan Besar Sang Jenderal


Featured Share to
Credit: tempo.co

Berbicara tentang film Indonesia, tentu kita tak bisa mengesampingkan kehadiran film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI. Sebuah film ambisius dari sang pemimpin kala itu, Soeharto. Film yang telah menjadi propaganda besar dan berlangsung selama kurang lebih 13 tahun, sebelum akhirnya beliau mundur dari jabatannya.

Film ini muncul pada tahun 1984 dari hasil buah karya Arifin C. Noer, salah satu sineas terbaik Indonesia yang pernah ada. Ya atau tepatnya 19 tahun setelah peristiwa Gerakan 30 September terjadi. Pengkhianatan G 30 S PKI adalah film komersil pertama yang menampilkan kejadian tahun 1965 tersebut, ya dengan versi yang diakui pemerintah tentunya.

Meski memiliki durasi hingga 4 jam lebih dan banyak mengandung adegan kekerasan, pemerintah kala itu mewajibkan rakyat untuk menontonnya. Ironisnya, anak-anak sekolah pun tak lepas dari kewajiban dari menyaksikan film ini. Bukan hal aneh jika pada akhirnya film ini memecahkan rekor penonton hingga nyaris mencapai 700 ribu orang.

Di tahun yang sama dengan perilisannya, pemerintah Orde Baru memutuskan untuk menggunakan Pengkhianatan G 30 S PKI sebagai propaganda. Caranya dengan menayangkan film ini di setiap tanggal 30 September. Nieke Indrietta, jurnalis Tempo, dalam tulisannya menyatakan bahwa film ini disiarkan oleh jaringan TVRI milik negara dan juga stasiun swasta setelah didirikan.

Bahkan dari survei yang dilakukan majalah Tempo pada tahun 2000 juga membuktikan bahwa sekitar 97 persen dari 1101 siswa yang disurvei telah menyaksikan film ini. Sekitar 87 persen di antaranya menontonnya lebih dari dua kali. Ya, saya juga termasuk ke dalamnya.

Jika ditanya apakah film ini hanya satu-satunya senjata dari pemerintah terkait peristiwa 1965? Tentu tidak. Lalu apakah propaganda lewat film ini berhasil? Mungkin bisa dibilang begitu.

Sen dan Hill dalam bukunya yang berjudul Media, Culture and Politics in Indonesia juga mengungkapkan di akhir 1980-an hingga awal 1990-an, sedikit sekali perdebatan tentang akurasi sejarah yang ada di film Pengkhianatan G 30 S PKI. Bahkan bisa dibilang film ini menjadi satu-satunya yang diperbolehkan dalam wacana terbuka. Hal itu juga menjadi parah karena film ini menjadi satu-satunya pedoman orang-orang tentang  peristiwa 30 September 1965.

Namun di pertengahan 1990-an, mulai muncul publikasi-publikasi kecil dan beberapa komunitas yang mempertanyakan isi dari film ini. Ada sebuah pertanyaan menarik yang terlontar dari milis atau grup di internet kala itu, “Jika hanya sebagian kecil dari kepemimpinan PKI dan agen militer mengetahui kudeta seperti di film, bagaimana bisa lebih dari satu juta orang tewas dan ribuan orang harus dipenjarakan, diasingkan, dan kehilangan hak-hak sipil mereka?”

Untuk menjawab pertanyaan itu, Sen dan Hill memiliki pendapat yang menarik. Mereka menyatakan bahwa ada kemungkinan bahwa Arifin C. Noer memang telah menyadari maksud pemerintah untuk menjadikan film itu sebagai propaganda. Dengan demikian dia membuat semacam “pesan politik” yang menentang dalam film ini.

Akhirnya film ini pun dihentikan seiringan dengan jatuhnya era Orde Baru. Menteri Penerangan Yunus Yosfiah mengatakan film ini tak akan diedarkan lagi, dengan alasan berbau rekayasa sejarah dan pengkultusan Soeharto.

Meski menjadi karya paling kontroversial dari Arifin C. Noer, namun dirinya tetap menuai apresiasi dari hasil kerjanya. Hal tersebut terutama dari segi artistik dan visualnya yang bisa dibilang mengagumkan. Seperti yang diungkapkan oleh Hanung Bramantyo, “Shot big close-up mulut-mulut sedang diskusi atau menghisap rokok, sangat menohok. Bayangkan saja, di layar besar semua gelap. Hanya mulut yang tampak. It’s brilliant.”

Selain itu ada pernyataan menarik dari buku Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup D’etat in Indonesia, karya John Roosa. Menurutnya, film Pengkhianatan G 30 S PKI seolah mengalahkan dirinya sendiri. Karena penggambarannya yang jauh dari kenyataan, yaitu fakta bahwa operasi kudeta ini dipimpin oleh orang-orang yang “keheranan, ragu-ragu, dan tidak terorganisir”.

Ya, kejadian pemberontakan memang benar terjadi, tetapi film ini menggambarkannya dengan kesan yang boleh dibilang berlebihan.

Kini kita semua tahu bagaimana sebuah film ternyata juga bisa memberi pengaruh yang begitu besar. Tak bisa dipungkiri juga bahwa Pengkhianatan G 30 S PKI selalu melekat dalam sejarah perfilman Indonesia. Bagi yang belum tahu, boleh saja menontonnya. Namun kalian juga jangan pernah lupakan apa tujuan utama dari film ini.

 

*Catatan:

Seperti yang telah dibahas di atas, patut diingat bahwa film ini menuai kontroversi perihal fakta sejarah yang dimunculkan. Perihal anggapan sisi mana yang benar, keputusan kembali lagi pada diri kita masing-masing. Namun setidaknya, sebelum mengambil keputusan kita harus mau melihat sesuatu secara menyeluruh, dan mendasar. Ya, terutama jika kita berbicara tentang hal yang diperdebatkan selama bertahun-tahun lamanya.


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater