Pengabdi Setan (2017) ; Ibu Tidak Pernah Pergi


Review Share to

Sutradara : Joko Anwar

Genre : Horor

Durasi : 104 menit

Pemeran : Tara Basro, Dimas Aditya, Bront Palarae, Endy Arfian, Ayu Laksmi, Elly Luthan, Nasar Annuz, Arswendy Being Swara, Egi Fedly, M Adhiyat, Fachri Albar, Asmara Abigail

Pengabdi Setan bukanlah film yang asing bagi saya. Saya ingat ketika saya duduk di bangku sekolah dasar, Om saya membawa VCD dan berkata “malam minggu sekarang rasanya bakal kaya malam jumat”.  1 jam 30 menit kemudian,  Pengabdi Setan yang kala itu merupakan film karya sutradara Sisworo Gautama Putra,  berhasil membuat saya menjadi sosok penakut selama hampir seminggu. Kurang lebih 20 tahun kemudian,  Joko Anwar mengeluarkan statement bahwa ia akan membuat remake film Pengabdi Setan. Hal yang menumbuhkan rasa penasaran dan keinginan hebat untuk menyaksikannya. Bukan hanya dari sisi sutradara dan cast, film Pengabdi Setan seolah memiliki kenangan tersendiri bagi saya. Ada rasa nostalgia yang ingin saya hidupkan dalam menyaksikan remake ini.

Track record yang dimiliki oleh sang sutradara,  membuat saya yakin bahwa Pengabdi Setan akan kembali “bangkit” dari tidur panjangnya.  Meskipun seingat saya  film ini merupakan film panjang pertama dari Joko Anwar dengan tema pure horor,  tetapi bukan kali ini saja ia menelurkan karya serupa. Film pendek karyanya yang bertajuk “Grave Torture”  membuktikan bahwa Joko Anwar amat patut diperhitungkan untuk membuat film dengan genre serupa. 26 September kemarin,  akhirnya saya menuntaskan rasa penasaran saya dengan menghadiri special screening untuk film yang mendapuk Bront Palarae dan Tara Basro sebagai pemeran utama,  juga didukung oleh Endy Arfian,  Nasar Annuz,  Ayu Laksmi,  M. Adhiyat,  Dimas Aditya,  Egy Fedly,  Asmara Abigail,  dan Fachry Albar. 104 menit kemudian saya mengamini bahwa Joko Anwar telah menyelamatkan film Horror Indonesia, dimana setelah selama ini kita hanya disuguhi horor paha dada ditambah jumpscare berlebihan yang membuat hantunya malah terlihat seperti pelaku video prank.

Film ini memang tidak sempurna, ada beberapa plot hole yang membuat kita terkadang hilang arah serta adegan yang saya rasa merupakan sebuah adegan kunci, tetapi tidak ada kelanjutannya. Pace cerita pun sedikit melambat di tengah-tengah film, selain itu ada beberapa dialog yang kurang jelas sehingga kurang dapat ditangkap maksudnya. Ada beberapa adegan yang tenggelam dalam kegelapan layar, meskipun tidak panjang.  Selain itu pemilihan Bront sebagai sosok ayah terasa kurang pas saat mengetahui anak pertamanya adalah Tara Basro,  meskipun akting aktor asal Malaysia ini patut diacungi jempol. Tetapi mari kesampingkan itu semua.  Terlepas dari beberapa minus yang saya rasakan,  saya amini Pengabdi Setan merupakan film yang well crafted. Komentar sang sutradara yang mengatakan bahwa Pengabdi Setan original merupakan salah satu alasan dia menjadi movie maker,  juga usaha gigihnya mengejar Rapi Film selama 10 tahun untuk membuat remake tercermin dari detailnya Ia dalam mengemas film ini.  Perombakan besar  terutama terasa dari segi plot.  Namun esensinya tetap berusaha untuk mengakar pada pendahulunya.  Selain itu dari segi cerita,  film ini dibuat lebih rumit dan memiliki plot twist bila dibanding Pengabdi Setan sebelumnya yang memiliki cerita straight forward.  Selain itu ending film akan membuat kita geleng-geleng kepala, bahkan apabila kurang cermat kita merasa harus mengulang untuk menonton film tersebut untuk dapat menangkap maksudnya. Bukan Joko Anwar namanya bila tidak memberikan kejutan dalam filmnya, bukan?

Build up yang dilakukan dalam membangun elemen horor suatu adegan dilakukan selangkah demi selangkah sehingga membuat penonton menjajaki satu per satu level kengerian untuk kemudian diberi pengalaman ngeri yang maksimal di ujung. Dialog serta narasi yang disusun seolah mudah untuk dapat dipelajari,  diserap dan diaplikasikan dengan baik oleh para pemeran,  khususnya 2 orang aktor belia,  Nasar Annuz dan M Adhiyat. Usaha Joko Anwar untuk membangun chemistry mereka dengan Endy Arfian yang juga berperan sebagai adik Tara Basro ini sukses ditampilkan di layar. Selain itu sosok Ibu yang menjadi icon di film ini meninggalkan kesan yang cukup dalam dan membuat beberapa orang mungkin akan bermimpi buruk karenanya.  Ensemble cast yang ada pun seolah mampu saling melengkapi satu sama lain, selain itu akting prima dari seluruh pemeran membuat efek ketakutan begitu terasa dari raut wajah mereka, yang membuat penonton terseret ke dalam rasa takut tersebut.

Pengabdi Setan memang bukan film horor yang melulu mengandalkan jumpscare, meskipun elemen ini menjadi salah satu daya tarik dalam film.  Pendapat saya, justru kekuatan di film ini ada pada suasana serta elemen kengerian yang dibentuk,  mulai dari tone, camera work, latar, setting,  sinematografi,  hingga musik pengiring. Music director film ini patut diberikan apresiasi lebih, karena mampu memberikan scoring yang pas untuk membangun adegan. Lagu Kelam Malam yang juga menjadi salah satu core film ini terdengar kelam,  sendu, dan creepy secara bersamaan.  Alunan lagu yang mendayu-dayu seolah menjadi mantra untuk memanggil sosok ibu hadir ke tengah-tengah kita. Rumah yang dijadikan setting film yang berlokasi di Pangalengan, mampu menambah efek horor yang dibutuhkan. Selain itu setan-setan yang hadir disini tidak ada satupun yang menggunakan teknik animasi atau CGI melainkan menggunakan special make up effect yang membuat kengerian yang dihadirkan begitu terasa. Peralihan besar memang terasa dimana film Pengabdi Setan tahun 80 merupakan film dengan tema horor religi,  dimana pada film tersebut disematkan pesan agama yang disampaikan kepada penontonnya. Untuk versi remake, sang sutradara lebih berfokus pada inti kehororan tanpa terlalu mengeksploitasi sisi agama,  meskipun tetap ada karakter seorang Ustadz disini.  Di luar itu, secara mengejutkan film ini tetap diselingi bumbu humor yang diselipkan dalam beberapa adegan dan dialog yang membuat tensi film stabil dan terjaga.

 

Film ini memberikan kengerian yang aneh bagi saya pribadi. Bukan hanya kengerian pada sosok karakter ibu,  namun film ini seolah mencoba memberikan efek trauma dan paranoid pada kita setelah selesai menyaksikannya. Jalanan kosong dan koridor gelap seolah menjadi tempat yang akan membuat kita untuk berpikir 2 kali sebelum melewatinya. Buang air kecil di malam hari, bersenandung, bahkan shalat, seolah tidak luput untuk disusupi rasa ngeri untuk kita jalankan. Bahkan mungkin,  selesai menyaksikan ini suara lonceng tidak akan terdengar sama lagi di telinga kita.

A horror movie that Indonesia deserve.

8,8/10

Memorable Line :  “MAU APA KALIAAAN?!” – Rini 

 

 

P.S : Siapa tahu ada yang belum menyaksikan "Grave Torture", silakan langsung klik


Kutu Klimis

Just sit and talk about football, Manchester United, or movies, and we will be good buddies in no time.