Orang Asia Pertama di Hollywood


Tokoh dan Sejarah Share to

Dalam catatannya pada New York Times (7 September 2007), dari program film Museum Of Modern Art, Sessue Hayakawa: East and West, When Twain Met (September 5 – 16, 2007), Rachel Saltz menulis:

“[Hayakawa] memainkan sebagian perannya sebagai karakter orang jahat dan juga bagian dari non-Jepang. Dalam film-filmnya ia bisa saja berperan sebagai pimpinan pemberontakan dari negara India, seorang pelawak dari Arab, atau seorang Indian-Amerika, bahkan seorang pejuang Tong (jenis organisasi imigran Cina yang tinggal di Amerika Serikat). Dalam The Cheat, film tahun 1915 yang melambungkan namanya menjadi seorang bintang, bercerita tentang seorang pedagang daging dari Burma. Disutradarai oleh Cecil B. DeMille dan direkam dengan indah oleh sinematografer bernama Alvin Wyckoff. “

Apeda Studio

Dalam The Cheat, Sessue Hayakawa berperan sebagai seseorang yang sadis serta sensual. Memaksa istri pejabat yang bercinta dengannya untuk melakukan korupsi, karakternya gelap. Kemudian selama beberapa tahun setelah The Cheat, Hayakawa menjadikan dirinya sebagai bintang film yang paling laku pada saat itu.

Pada saat itu pun ia dipertemukan dengan Rudolph Valentino. Kehidupannya berubah drastis, gaya hidupnya glamor, sering mengadakan pesta mewah, dan para penggemarnya kebanyakan adalah orang-orang kulit putih Amerika. Namun lambat laun ia tersadarkan, bahwa salah satu kehampaan dalam hidupnya adalah tidak mempunyai teman hidup. Akhirnya ia menikah dengan seorang bintang film bernama Tsuru Aoki.

Pada tahun 1919, ia dan istrinya, membintangi film yang berjudul The Dragon Painter, yang diproduksi oleh Haworth Pictures Corporation milik Hayakawa. Para pemeran film tersebut sebagian besar adalah orang Jepang. Satu-satunya pengecualian adalah Edward Piel Sr., yang memerankan seorang pelukis bernama Kando Indara. Dilihat dari filmografinya, Piel Sr. juga sempat memerankan pemimpin Tong, Wong Chong, dalam The Purple Dawn (1923) dan memiliki peran yang tidak diakui sebagai pekerja kereta api tua di Cina dalam film The Iron Horse (1924).

Sessue Hayakawa & Tsuru Aoki (Apeda Studio)

Pada tahun 1921, karena berbagai alasan, Hayakawa harus meninggalkan Hollywood dan bekerja di Eropa serta Jepang. Peruntungannya berubah lebih jauh pada tahun 1930-an, ketika sentimen anti-Jepang mulai tumbuh dan lebih kuat. Kebencian orang-orang Asia di Amerika Serikat berawal setidaknya pada pertengahan abad ke-19, yang terwujud dalam disahkannya Naturalization Act of 1870 (hukum federal Amerika Serikat yang menciptakan sistem kontrol untuk proses naturalisasi dan denda untuk praktek-praktek curang. Hal ini juga dicatat untuk memperluas proses naturalisasi kelahiran Afrika dan orang-orang keturunan Afrika sementara orang Asia tidak dianggap), tak lama setelah berakhirnya Perang Sipil.

Pada tahun 1949, pada usia 60, Hayakawa, yang merupakan salah satu aktor Hollywood bayaran tertinggi pada tahun 1915, pernah menyesal bahwa ia tidak pernah memainkan karakter protagonis sebagai seorang pahlawan. Hayakawa memang tidak pernah memenuhi ambisinya, sebab orang Asia tidak akan pernah memainkan karakter tersebut. Hal ini adalah pakem yang dicanangkan oleh produser-produser Hollywood pada saat itu, karena bagi mereka, hal tersebut tidaklah menjual dan sangat tidak laku.

Hayakawa menerima perhatian yang cukup besar pada tahun 1957 karena berperan sebagai penjahat terhormat bernama Kolonel Saito dalam film David Lean yang berjudul The Bridge on the River Kwai (1957). Menjadi penjahat terhormat, bagi Hayakawa, lebih terasa seperti manusiawi, daripada dianggap sebagai bagian dari simbol kuning (kode untuk Asia dan non-Kristen).

Hayakawa, yang hampir berusia 70 tahun pada saat itu, dinominasikan untuk ajang Academy Award dalam kategori Aktor Pendukung Terbaik atas perannya di The Bridge on the River Kwai (1957). Namun para anggota Akademi lebih memberikan penghargaan Oscar tersebut ke Red Buttons, yang memerankan Airman Joe Kelly di Sayonara (1957) buatan sutradara Joshua Logan.

Sayonara sendiri bercerita tentang seorang pria yang mati demi cinta terlarangnya. Pada kenyataannya, Hollywood saat itu, selalu memenangakan film-film yang bentuknya seperti itu, jualan cinta tetek bengek dengan segala romansanya. Akhirnya hal ini dianggap oleh sebagian kritikus sebagai kekerasan yang kejam dari industri Hollywood itu sendiri.

Para pemeran Sayonara, memainkan peran sebagai seorang pasangan yang menikah antar persilangan ras Amerika-Jepang. Pemerannya adalah Marlon Brando, James Garner, Patricia Owens dan Ricardo Montalban.

Bercerita tentang seorang Kelly, yang ditempatkan di Pangkalan Angkatan Udara Itami dekat Kobe, Jepang, yang bertemu dan akan menikahi seorang wanita Jepang, bernama Katsumi (diperankan oleh Miyoshi Umeki). Katsumi juga memperkenalkan Mayor Lloyd “Ace” Gruver (Marlon Brando) kepada seorang wanita Jepang, Hana-ogi (Miiko Taka). Secara garis besar, sebenarnya Sayonara berbicara mengenai perputaran nasib dua pasangan yang bersilangan ras ini.

Pinterest.com

Atas perannya tersebut, Miyoshi Umeki memenangkan Academy Award untuk Aktris Pendukung Terbaik. Antara tahun 1929, ketika ajang penghargaan tersebut baru pertama kali dibuka, dan sampai sekarang pada tahun 2018, Umeki telah menjadi satu-satunya wanita Asia pertama yang menerima Academy Award.


Kutu Laut

a man who loving the film without thinking too much when the film is bad