Oleh-Oleh Dari UI Film Festival 2018


News Share to
(kutu film)

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sinematografi Universitas Indonesia mengadakan UI Film Festival 2018 yang dilaksanakan mulai tanggal 25 hingga 29 September 2018. Tema yang diangkat pada festival kelima kali ini adalah “FANTA51: Bebas Bicara, Bebas Berkarya.” Menurut rilisan penyelenggara, “Terminologi fantasi muncul sebagai sebuah analogi tentang wujud kebebasan yang nyata.”

Memang, dalam fantasi seseorang bebas untuk mengekspresikan dirinya sendiri dalam bentuk apapun dan bagaimanapun. Imajinasi liar yang dapat membawa orang jauh melampaui dirinya sendiri adalah salah satu kenikmatan berfantasi. Dengan imajinasi dan fantasi juga seseorang dapat membawa dirinya untuk melihat suatu fenomena dari berbagai macam perspektif dan bebas pula untuk memaknainya.

Di UI Film Festival 2018 ini penyelenggara mengadakan berbagai serangkaian acara mulai dari kompetisi film pendek oleh mahasiswa dari berbagai kampus, pemutaran film pendek, hingga diskusi. Kami berkesempatan untuk hadir dalam salah satu rangkaian acara di Aula Terapung yang terletak di area Perpustakaan Pusat UI. Acara tersebut bertajuk “Shorties D: Suara Nusantara.” Pada hari Jum’at 28 September kemarin.

Suasana diskusi setelah pemutaran film (kutu film)

”Shorties D: Suara Nusantara” diisi dengan penayangan film-film pendek, dan seperti namanya, dalam kategori ini film yang ditampilkan merupakan film-film dengan tema kearifan lokal Indonesia. Sebagaimana kita tahu, Indonesia terdiri dari banyak sekali pulau dengan budaya yang sangat beragam, namun seringkali perhatian hanya tertuju kepada kehidupan di Pulau Jawa saja. Dan pada acara ini, penyelenggara mengambil inisiatif untuk menampilkan film-film yang berasal dan mengangkat tema tentang kehidupan di luar Pulau Jawa.

Terdapat 4 film yang ditampilkan dalam kategori ini yaitu;

Amak (2017/14 Menit)

Film karya Ella Angel ini berkisah tentang kehidupan seorang ibu yang harus hidup sendiri di rumahnya di Minangkabau setelah ditinggal merantau oleh anak perempuannya yang bernama Rabina, sementara sang suami telah meninggal. Dalam film yang nyaris tanpa dialog ini, potret kesepian sang ibu yang begitu intens ditampilkan dengan sangat ciamik di tiap frame. Pencahayaan, warna, hingga efek suara bergabung dengan rapi untuk menciptakan kesepian sang ibu yang juga dapat dirasakan penonton.

A Long Day (2017/9 Menit)

A Long Day merupakan film kedua yang ditayangkan, film ini berkisah tentang seorang pemuda yang bertahan hidup setelah berhasil lolos dari kerusuhan yang terjadi di desanya dengan cara menceburkan diri di sungai hingga mencapai suatu hutan. Di hutan, ia bertemu korban kerusuhan lain yang sedang sekarat sebelum akhirnya dibunuh oleh para pelaku kerusuhan sementara sang pemuda telah berhasil kabur terlebih dahulu. Lewat pergerakan kamera dan efek suara (yang kadang terkesan berlebihan), film karya Saifullah Mechta ini cukup berhasil menempatkan penonton dalam atmosfir yang cukup thrilling.

Munysera (2017/27 Menit)

Munysera merupakan sebutan bagi seorang pembawa kabar buruk (kematian), tugas seorang Munysera adalah menyampaikan kabar tersebut kepada sanak saudara mendiang yang sering kali berada di lain desa bahkan sisi lain pulau. Konon, nama Munysera diambil dari nama burung yang menurut mitos jika suaranya terdengar maka berarti ada kabar duka di sekitar.

Poster Munysera (imdb)

Dalam film karya Ali B Kilbaren ini, cerita berpusat pada perjalanan seorang Munysera bernama Yance yang sedang menggantikan ayahnya untuk menyampaikan kabar buruk kepada keluarga mendiang Opa Jossy yang berada di desa lain. Dalam perjalanan panjang tanpa kendaraan itu, Yance berjumpa banyak orang-orang yang tinggal di Pulau Masela.

Kehidupan sederhana masyarakat Pulau Masela yang terletak di Kabupaten Maluku Barat Daya ditampilkan dengan sangat baik dalam film ini, sambil mengangkat tema tak biasa tentang fenomena “Munysera” yang masih ada hingga saat ini karena di pulau tersebut belum terdapat akses transportasi dan komunikasi yang memadai.

Prosuder film yang hadir di UI Film Festival juga membagikan beberapa kisah menarik tentang film ini. Contohnya, pemeran Pak John (Munysera, ayah Yance) ternyata merupakan penduduk asli Pulau Masela, tak memiliki pengalaman akting sama sekali, bahkan baru pertama kali melihat kamera. Selain itu, cerita ketika proses produksi film ini pun tak kalah menarik. Dengan budget hanya 50 juta Rupiah, mereka harus pergi ke Pulau Masela yang terletak cukup berdekatan dengan perbatasan dengan laut Australia  dengan menggunakan kapal yang kecil. Adalagi kisah lucu tentang kru yang dicurigai oleh aparat sebagai LGBT, kru-kru tersebut menurut penuturan sang produser berambut gondrong dan tinggal dalam satu kamar sehingga dicurigai. Ada-ada saja ya Kawan Kutu.

Kamae Daeng Imang? (2016/14 Menit)

“Kamae Daeng Imang?” yang berarti “Di mana Pak Iman?” merupakan film karya M. Agung Budiman yang berisi gambaran kehidupan masyarakat desa di Makassar dan disampaikan dengan selipan komedi di sepanjang film. Kisahnya tentang penduduk desa yang sedang menunggu kedatangan Pak Iman untuk memimpin acara syukuran di rumah Daeng Kammisi. Pak Iman yang juga tak ada ketika dicari di berbagai tempat oleh anak-anak Daeng Kammisi ini akhirnya datang pada menit terakhir. Ternyata Pak Imam ini lupa, karena sibuk berkampanye.

Cukup kocak, dengan penampilan kehidupan pedesaan yang bersahaja dan sederhana, film ini juga menampilkan interaksinya dengan teknologi dan hasil perkembangan jaman lainnya.

___

Acara UI Film Festival 2018 memang berakhir hari Sabtu ini, namun Kawan Kutu jangan bersedih dulu, mari kita sama-sama berharap acara ini akan diadakan kembali tahun depan. Selain sebagai panggung bagi para mahasiswa agar karyanya dapat ditampilkan di depan khalayak, tentu acara semacam ini juga dapat memantik semangat bagi mereka yang ingin berkecimpung di dunia perfilman. Dengan adanya kategori Suara Nusantara, UIFF kali ini juga berhasil membawa narasi yang selama ini kerap dipinggirkan dan tetap menjaga adanya keberagaman.


Kutu Biru

Wanna die nyender