‘Okja’ (2017): Kemasan Menyenangkan dalam Kebrutalan Industri


Review Share to

Sutradara: Bong Joon-ho
Penulis: Bong Joon-ho dan Jon Ronson
Pemeran: Ahn Seo-hyun, Tilda Swinton, Paul Dano, Jake Gyllenhaal, Byun Hee-boong, Steven Yeun
Genre: Drama, Adventure
Durasi: 120 menit

(MENGANDUNG SPOILER)

Telah sejak lama manusia hidup berdampingan dengan hewan. Tak hanya sekadar hidup bersama di satu alam, tetapi hubungan kedua makhluk ini telah berubah sedemikian rupa. Bahkan sejak ribuan tahun sebelum Masehi, manusia sudah mengeksploitasi hewan untuk berbagai kepentingan. Salah satunya adalah untuk dikonsumsi sebagai makanan.

Namun seiring berjalannya waktu, muncul pertanyaan yang selalu menimbulkan pro dan kontra. Pertanyaan perihal mengkonsumsi daging lebih tepatnya. Hal inilah yang memberi inspirasi Bong Joon-ho untuk membuat Okja.

Okja adalah seekor babi super yang dipelihara oleh anak kecil bernama Mija (Ahn Seo-hyun). Babi ini memang berbeda dibanding yang biasa, karena Okja sendiri adalah hasil rekayasa genetika dari perusahaan Mirando. Postur tubuh Okja mungkin sama besarnya dengan sebuah mobil, dengan raut wajah yang lebih mirip kuda nil ketimbang babi.

Di film ini dikisahkan bahwa Mirando memiliki sebuah proyek besar dengan menciptakan makhluk untuk memenuhi permintaan daging di dunia. Okja adalah salah satu karya terbaik dari perusahaan yang dipimpin oleh Lucy Mirando (Tilda Swinton) tersebut.

Bagi yang sudah menontonnya, mungkin sadar bahwa film Okja ini menghadirkan nuansa yang sama dengan My Neighbour Totoro-nya Hayao Miyazaki. Seorang anak kecil yang bersahabat dengan “makhluk” yang tidak biasa. Hal itu juga didukung dengan keindahan latar tempat di belantara hutan terpencil di Korea Selatan.

Memang pada intinya, Okja ingin menambah wawasan serta meningkatkan kesadaran tentang industri ternak modern. Namun Bong mengemasnya dengan berbagai elemen menarik yang membuat film ini menjadi hiburan yang menyenangkan. Seperti adegan Mija yang mengejar Okja hingga pemberontakan yang terjadi di akhir-akhir film.

Belum lagi film ini menghadirkan aktor-aktor dengan performa apik. Selain Ahn Seo-hyun dan Tilda Swinton, salah satu pemeran yang patut diapresiasi adalah Paul Dano. Meski hanya sebagai pemeran pembantu, tetapi dia tampil maksimal di tiap adegan. Termasuk saat dia marah pada K (Steven Yeun) di tengah-tengah misi.

Selain itu ada penampilan yang cukup mengejutkan dari Jake Gyllenhaal. Melalui karakter yang diperankannya, seolah Jake membuktikan variasi kemampuannya dalam berakting. Ya, dibanding dengan perannya di film-film terdahulu, terutama beberapa tahun ke belakang, penampilan Jake sangat menghibur.

Namun di beberapa kesempatan saya merasa aktor di film ini terlalu “gemuk”. Ya, sayang rasanya jika melihat aktor sekaliber Steven Yeun, Lilly Collins, dan Giancarlo Esposito hanya mendapat peran-peran kecil.

Film Okja juga menampilkan sinematografi yang ‘wah’. Lumayan banyak adegan yang membekas. Mulai dari aksi kejar-kejaran Mija dan truk Mirando hingga penggambaran rumah potong di Amerika. Kemampuan Darius Khonji rasanya memang tak perlu kita ragukan lagi ya.

Perihal Industri Ternak Modern

Terlepas dari berbagai hal di atas, yang paling menarik perhatian saya dari Okja adalah perihal industri ternak modern. Sebagai orang yang pernah menggeluti dunia peternakan secara langsung selama beberapa tahun, saya cukup paham apa yang ingin disampaikan oleh Bong Joon-ho.

Film ini cukup jelas menggambarkan kekejaman manusia terhadap hewan ternak. Adegan yang harus diperhatikan adalah ketika berada di laboratorium dan rumah potong milik Mirando.

Di laboratorium kita bisa melihat ada banyak hasil percobaan yang tak sesempurna Okja. Ya, nyatanya dalam kehidupan nyata penerapan bioteknologi telah berkembang cukup pesat, terutama sejak pemahaman tentang struktur DNA mencuat dan muncul teknik rekayasa genetik. Singkatnya, teknik ini bertujuan untuk menghasilkan molekul DNA yang berisi gen atau kombinasi gen baru yang diinginkan.

Film Okja sebenarnya cukup jelas menggambarkan hal yang menjadi pemicu hadirnya bioteknologi. Yaitu untuk memenuhi permintaan dan ketersediaan produk ternak. Maka dari itu banyak ilmuwan yang mencoba untuk meningkatkan produktivitas ternak melalui bioteknologi.

Hal ini memang terjadi tanpa kita perhatikan. Seperti contohnya ayam broiler, yang merupakan hasil perkawinan silang dengan sistem berkelanjutan hingga mencapai mutu seperti saat ini. Dengan pertumbuhan yang cepat, broiler hanya butuh 4 hingga 6 minggu sebelum mengakhiri masa hidupnya.

Ya, ibaratnya menciptakan Okja adalah suatu impian besar manusia. Bayangkan berapa kilogram potensi daging yang bisa diberikan oleh spesies Okja dari satu ekor.

Satu hal lagi adalah perihal rumah potong. Di film Okja, rumah potong menjadi krusial dalam menggambarkan kebrutalan industri ternak modern. Ya, dibalik daging yang tersaji di piring kita, ada proses yang cukup kejam di dalamnya. Bagaimana hewan-hewan itu seolah tak punya pilihan hidup selain disembelih oleh manusia.

Memang di dunia ini ada yang namanya animal welfare atau yang juga disebut sebagai kesejahteraan hewan. Film Okja juga memperlihatkan bagaimana industri ternak modern sering mengesampingkan hal ini. Ketika Mija berusaha mencari Okja, terlihat bagaimana babi-babi super itu ditempatkan dalam lahan yang terlalu padat. Selain itu ada juga adegan bagaimana mereka digiring paksa dengan cara disetrum untuk masuk ke tempat pemotongan.

Oh ya, Animal Welfare hadir didasari oleh kesadaran dan pertimbangan bahwa hewan yang hidup harus diberi kesejahteraan, terutama ketika mereka digunakan untuk kepentingan manusia. Termasuk dibunuh untuk makanan, penelitian ilmiah, dan sebagai peliharaan.

Ada sebuah cara untuk menilai kesejahteraan hewan yang dikenal dengan konsep Five of Freedom:

Bebas dari rasa lapar dan haus

Bebas dari rasa tidak nyaman

Bebas dari rasa sakit, luka, dan penyakit

Bebas mengekspresikan perilaku normal

Bebas dari rasa stres dan tertekan

Ya, rasanya kita tahu bahwa Okja cukup menggambarkan bagaimana kejamnya manusia bahkan terhadap calon makanannya sendiri.

****

Secara keseluruhan, Okja adalah film yang sangat bagus menurut saya. Terlepas dari isu yang diangkat oleh sang sutradara, film ini memang memiliki banyak keunggulan di berbagai aspek. Selain itu film ini juga seolah melanjutkan kebangkitan film-film Korea.

Pada intinya kita ini seperti Mija, hanya gadis kecil yang tak bisa berbuat banyak melawan korporasi multinasional dan kapitalisme. Tetapi kita bisa kok memulai dari hal-hal kecil dengan mencoba memahami dan menerapkan Five of Freedom animal welfare. Ya, mulailah perhatikan peliharaan kalian dan jangan ragu untuk menegur orang yang lalai.

Namun rasanya film ini tidak cocok ditonton oleh anak-anak, meski pemeran utamanya adalah Ahn Seo-hyun yang masih berusia 13 tahun. Karena kebrutalan yang dihadirkan di beberapa kesempatan. Saran saya juga berhati-hati untuk menonton film ini, terutama untuk para pecinta binatang. Karena mungkin pandangan kalian terhadap ‘daging’ akan sedikit berubah.

Rating: 8/10


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater