Milly & Mamet (2018): AADC Universe yang Penuh Potensi


Review Share to

Sutradara: Ernest Prakasa
Penulis: Ernest Prakasa dan Meira Anastasia
Pemeran: Sissy Priscillia, Dennis Adhiswara, Julie Estelle, Yoshi Sudarso, Ernest Prakasa.
Genre: Drama, Komedi
Durasi: 101 Menit

Sebelumnya saya senang sekali dengan film Ada Apa Dengan Cinta (AADC), film itu merupakan film klasik yang semua orang di Indonesia pasti sudah menonton dan membentuk masa remaja saya. Dari film itu juga saya mengenal Dian Sastrowardoyo, sosok idola yang sangat saya kagumi. Saya pun sempat kaget saat film AADC akan dibuat film spin-off nya sendiri berjudul Milly & Mamet, dua tokoh pendukung yang ada di film pertama.

Dalam film ini diceritakan tentang perjalanan cinta Milly dan Mamet, dari adegan pertamanya yang menceritakan awal mula “kisah jatuh cintanya.” Menurut saya kisah pacarannya bisa lebih dieksplorasi dan terasa singkat, namun saya juga paham keputusan Ernest untuk membuat cerita pacarannya sesingkat mungkin karena Milly & Mamet lebih fokus ke kisah rumah tangga mereka. Kita juga bisa melihat sedikit hubungan cerita dengan film AADC sebelumnya, namun tidak terlalu signifikan bila Kawan Kutu belum menonton AADC dan sekuelnya. Di sini juga ada cameo pemeran AADC seperti Carmen (Ardinia Wirasti), Maura (Titi Kamal) bahkan Cinta (Dian Sastrowardoyo) sendiri.

Mamet, seseorang yang dikenal culun dan cenderung diremehkan oleh banyak orang (termasuk ayah mertuanya sendiri) berusaha membuktikan bahwa dia memang seorang laki-laki yang pantas menikahi Milly. Dari konflik pribadi Mamet sendiri yang bahkan merembet ke istrinya sampai ke sahabat-sahabatnya diceritakan dengan baik di film ini. Diiringi dengan selingan humor-humor ala “Ernest” yang sangat khas membuat film ini terasa relatable sekali, terutama buat Kawan Kutu yang sudah menikah. Dennis Adhiswara sebagai pemeran Mamet di sini sangat berhasil memerankan karakternya dengan baik, begitu juga dengan Sissy Priscillia. Bahkan di sini juga ada cameo penyanyi terkenal (Kawan Kutu pasti tahu) yang sangat saya sukai dan menurut saya sangatlah mungkin dijadikan film spin-off nya sendiri karena karakter dan humor uniknya.

Di sini pahitnya pernikahan digambarkan dengan sangat baik. Kawan Kutu pasti selama ini melihat pernikahan sesuatu yang indah dan pasti berlangsung tidak terlupakan, namun jarang ada film yang menceritakan tentang pahitnya pernikahan seperti apa. Menurut saya film ini berhasil menggambarkan pahitnya pernikahan, dari sikap keras mertua dan ketidakpastian pilihan karier. Konflik tajam pun terkadang dibuat intens namun tidak lupa juga diselingi dengan humor. Saya juga sedikit melihat ada formula cerita yang sama dengan film pertama Ernest, Ngenest dengan film ini tentang kerasnya hidup setelah pernikahan.

Dari segi komedi, saya akui film ini lebih menitikberatkan kepada drama keluarga dibanding humornya sendiri. Sangat berbeda dengan film Ernest yang lain, Cek Toko Sebelah yang lebih banyak menghasilkan gelak tawa (sampai saat ini masih menjadi film favorit saya). Walaupun begitu film ini juga memiliki kelemahan, seperti salah satu karakter yang kurang begitu penting dalam perkembangan cerita. Seolah bila karakter itu tidak ada, plot tetap berjalan normal seperti biasa. Akan lebih baik bila kedepannya Ernest membuat seluruh karakter yang mempunyai impact pada filmnnya sendiri. Tapi selebihnya film ini berhasil menghibur saya secara keseluruhan, dan membuat saya terus menantikan film Ernest selanjutnya.

Overall: 8/10

Kutu Kamar

Penulis serta penjelajah juga idealis & semua pasti dijamah.