Mile 22 (2018): Perfect Bait


Review Share to
Sutradara: Peter Berg
Penulis: Lea Carpenter, Graham Roland
Pemeran: Mark Wahlberg, Iko Uwais, Lauren Cohan, John Malkovich, Ronda Rousey
Genre: Action
Durasi: 94 Menit

Tiga tahun lalu ada tajuk “Fight of The Century” yang mempertemukan Manny Pacquiao dan Floyd Mayweather.  Dua petinju welterweight yang sedang berada di puncak karir tinju profesional mereka. Kala itu puluhan bahkan mungkin ratusan juta pasang mata tertuju pada kedua nama tersebut dan berharap sebuah laga menghibur dan penuh tensi terhidang di atas ring MGM Grand Garden Arena, Las Vegas. Namun alih-alih menyaksikan laga penuh determinasi dan emosi, justru menyaksikan laga tersebut seolah menonton kucing-kucingan, “melempem” dan kurang bergairah untuk dinikmati.

eits, ga kena

Memang secara teknis laga tersebut merupakan sebuah laga penuh aspek taktik dari kedua petinju guna memenangkan pertandingan, tetapi untuk sebuah laga dengan gaung “Fight Of The Century”, yang berhasil meraup jutaan dollar dan memancing mereka yang awam tinju untuk turut menyaksikan, laga tersebut kurang memikat. Sama halnya dengan menyaksikan sebuah pertandingan All Star Weekend pada NBA, namun hingga quarter 1 habis skor pertandingan hanya 2-2 dimana kedua tim banyak gagal memasukkan bola. Ini All Star Weekend atau Bogor Weekend *eh.

 

Situasi yang sama terjadi pada Mile 22. Mengedepankan nama-nama yang sudah tidak asing malang-melintang dalam perfilman Hollywood seperti Mark Wahlberg, Lauren Cohan, Ronda Rousey, dan John Malkovich, film ini seolah dapat menjadi sebuah sajian yang menjanjikan. Tambah menjanjikan dengan bergabungnya Iko Uwais, salah satu aktor laga Indonesia yang saat ini sudah mulai menapaki langkah menuju aktor laga papan atas Asia, bahkan mungkin dunia. Sejak perilisan promo awal, setidaknya di Indonesia sendiri film ini menjadi salah satu “highly anticipated movies”, tentunya sebagian besar karena faktor Iko.

 

Tetapi sayangnya promo serta deretan casts yang tersaji bagi saya tidak cukup mampu untuk memenuhi ekspektasi. Peter Berg sang sutradara, yang sebelumnya sukses dalam menyajikan Deepwater Horizon dan Lone Survivor, justru membuat film ini kurang nyaman untuk dinikmati. Sejujurnya premis cerita film ini, meskipun mainstream layaknya action spionase pada umumnya, cukup solid dan memiliki peluang untuk memiliki twisted ending apabila dikemas dengan lebih rapi.

Lea Carpenter seolah kurang greget dalam mengaplikasikan cerita dari Peter Berg dan Graham Roland dalam script yang solid, di samping itu gaya penyutradaraan Peter Berg untuk film ini seolah kembali pada film Battlefield. Jangan bicarakan tentang pembangunan karakter di film ini, jangankan membangun karakter, berusaha untuk memberikan nafas dan  pengertian lebih kepada penonton saja film ini cukup terseok-seok. Mencoba menjalin cerita dengan alur campuran dan tempo tinggi, menyaksikan film ini justru seperti berada di tengah perang sarung saat terawehan atau tawuran anak-anak sekolahan. Alih-alih menjaga tensi untuk adegan aksi, justru tempo cepat serta alur campuran menghancurkan jalinan cerita terhitung sejak prolog berakhir.

 

Mile 22 seolah tidak bermaksud untuk meninggalkan kesan lebih dalam, dan menyia-nyiakan deretan cast serta peluang cerita solid. Memajang nama Iko Uwais, Mile 22 seakan ingin menjadikan Iko sebuah “test market”, dimana bagi saya, tanpa bermaksud menjadi an overproud Indonesian, justru tampil memukau disini. Sangat disayangkan dengan kualitas akting yang meningkat pesat sejak Headshot, dan kesempatan beradu akting dengan nama besar Hollywood, justru filmnya kali ini yang kurang bersinergi.

Ada beberapa adegan tidak perlu dan tidak jelas juntrungannya, seperti ketika gadis kecil yang mendadak out of nowhere ikut-ikutan di baku tembak, atau Mark Wahlberg yang terus menerus memainkan karet kuning di lengannya. Like, “you wanted to build a character, but without effort”. Penonton disuruh menerka sendiri kenapa Mark Wahlberg selalu marah-marah sepanjang film, dan memainkan karet tersebut. Kalau tadi di studio, ada yang dengan jenius nan sotoy bilang “itu dia kena gangguan cemas. Kayanya punya pengalaman buruk dulunya sampe dia gitu, biasanya kalau kerja di militer atau polisi kaya gitu”, ada yang malah risih: “Ini ape si karet dicepret-cepret mulu”, bahkan ada yang ngomentarin “itu karet gak melar-melar apa ya”. Absurd. Dialog-dialog yang dilakukan pemeran pun terlalu memaksakan untuk menyelipkan kata-kata kasar, entah maksudnya apa, mungkin biar dibilang keren.

Cukup banyak plot hole yang tidak dirapikan yang justru membuat saya menyayangkan film dengan prospek menjanjikan, tersia-siakan. Namun on the brightside, saya amat puas menyaksikan akting Iko disini, selain dia diberi kebebasan untuk menggunakan our mother languange yang memaksa Lauren Cohan ikut berbicara dalam bahasa kita, pembawaan iko pada suatu karakter meningkat berkali-kali lipat. Peran yang dimainkannya pun cukup vital dan dapat dikatakan menjadi core yang cukup kuat dalam film ini. Sayangnya adegan pamungkas terbaik di film ini, yang tentunya melibatkan Iko, dan partner fighting(yang juga stunt doublenya), Ramadhan Sugandi, dapat dinikmati secara legal di youtube pada promo mereka.

Overall, untuk keutuhan satu film, Mile 22 hanya menjadi Hollywood Flick yang tidak menawarkan kepadatan serta cerita yang membekas. Namun sebagai orang Indonesia, kita patut berbangga, karena tanpa Iko Uwais, praktis saya hanya akan melakukan apa yang biasanya dilakukan oleh orang-orang di negara dunia ketiga untuk mencari hiburan, nunggu Blu-Raynya keluar. Itu pun kalau tidak sayang kuota(Ini becanda, jangan nonton bajakan ya!). Oh anyway, the title of the review, juga bersinergi dengan plot dan ending film ini. This Movie is about a “Perfect bait” that also propose the perfect bait for the audience. 

Last but not least, for me Iko didn’t just stole the show here, he is the show. Wish him had more screentime than he does, because watching Iko Uwais with less fight scene, is just like spelling me without you. Gak lengkap. (Eh ini apa sih).

 

Memorable Line:
Nurse; “Kalau harga diri yang paling rendah itu adalah. .
Li: “What did you just say?”
Nurse: “Pengkhianat


Kutu Klimis

Just sit and talk about football, Manchester United, or movies, and we will be good buddies in no time.