Mengenang Sineas Legendaris, Billy Wilder


Tokoh dan Sejarah Share to

22 Juni 1906 adalah hari kelahiran Billy Wilder, orang yang memiliki jasa besar bagi perfilman Amerika dan dunia. Sosok yang telah berkarier lebih dari lima dekade dan kini diakui sebagai salah satu sineas paling brilian yang pernah ada.

Selama kariernya, Samuel “Billy” Wilder meraih begitu banyak nominasi dan penghargaan. Enam kali ia berjaya di Academy Awards melalui The Lost Weekend (1945), Sunset Boulevard (1950), dan The Apartment (1960). Dia juga dianugerahkan Irving G. Thalberg Memorial Award pada 1987. Secara total, ia mengoleksi lebih dari 40 penghargaan dan 55 nominasi sepanjang hidupnya.

Billy Wilder adalah sineas yang tergabung di era yang sering disebut sebagai Hollywood Golden Age. Bersama dengan nama-nama besar lain seperti Alfred Hithcock, Charile Chaplin, dan Orson Welles. Namun ia tak sekadar hanya “kebetulan” hidup dan menelurkan karya di era itu. Wilder tentunya memiliki formula tersendiri yang menjadi alasan mengapa dia disebut sebagai salah satu yang terbaik.

Gaya yang diusung oleh Billy Wilder tercermin dari keyakinan tentang pentingnya aspek penulisan. Hal ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh latar belakangnya sebagai jurnalis. Wilder pun memang mengawali karier perfilmannya sebagai penulis skrip sebelum pada akhirnya menjadi sutradara.

Dari karya-karyanya, Wilder terbilang cukup menghindari penggunaan sinematografi yang terlalu “mewah” seperti apa yang dilakukan oleh Hitchcock atau Orson Welles. Menurutnya, hal itu bisa mengalihkan perhatian penonton dari jalan cerita. Maka dari itu, film-film Wilder cenderung memiliki plot dan dialog yang padat. Tak jarang dialog-dialog yang muncul pun menjadi sesuatu yang paling diingat oleh para penontonnya.

Billy pun dikenal memiliki pendekatan tertentu dalam menghadapi para aktor. Ia percaya bahwa tak peduli betapa besar talenta seorang aktor, mereka tetap memiliki batasan tersendiri. Menurutnya, akan lebih baik hasilnya bila dia bisa menyesuaikan naskah ke dalam kepribadian sang aktor, ketimbang memaksa mereka untuk tampil di luar kemampuannya.

Wilder selalu memvisualisasikan ide-idenya terlebih dahulu dengan aktor tertentu secara spesifik. Hal ini terkadang menembus batasan umum yang ada di Hollywood. Seperti menggunakan aktor yang berlawanan dengan citra yang telah lebih dulu melekat.

Seperti contohnya apa yang ia terapkan pada Fred MacMurray di Double Indemnity (1944). MacMurray adalah aktor dengan bayaran termahal di Hollywood saat itu. Melalui film-film terdahulu, Fred identik dengan karakter pria baik dalam komedi, melodrama, dan musikal. Namun Billy membuat Fred berperan sebagai “bad guy” di film tersebut.

Hal itu juga ia terapkan ke Humphrey Bogart yang melepas citra “tough-guy” di Sabrina (1954), dan James Cagney yang asing dengan ranah komedi ternyata bisa tampil sangat baik dalam One, Two, Three (1961).

Dari situlah, Billy Wilder pun dianggap sebagai orang yang mampu menarik keluar potensi seorang aktor. Namun di antara yang telah disebutkan sebelumnya, Marylin Monroe melalui Some Like it Hot (1959) dianggap sebagai yang terbaik.

Meski dianggap sebagai yang terbaik, Wilder pun tak lepas dari kritik. Salah satunya adalah anggapan bahwa karya-karya Wilder minim unsur politikal dan simpati di dalamnya. Dia dianggap lebih tertarik pada dinamika manusia dan isu yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari ketimbang situasi politik saat itu.

Namun di pihak lain, banyak yang berpendapat bahwa Wilder tak seburuk kritik yang berkembang pada saat itu. Malahan, film-film Wilder dianggap sebagai parodi, secara metafora, dari situasi politik di sekelilingnya.

*****

Tahun 2002, Wilder meninggal dunia di usia 95 setelah berjuang melawan pneumonia dan kanker. Ia dimakamkan di Westwood Village Memorial Park Cemetery, Los Angeles. Sehari setelah ia tutup usia, surat kabar Prancis, Le Monde, memasang judul di halaman utama mereka, “Billy Wilder dies. Nobody’s perfect.” Kalimat yang terinspirasi dari dialog akhir di film Some Like it Hot.

Mari saya tutup tulisan ini untuk mengenang sang legenda Billy Wilder dengan kutipan dari dirinya,

Trust your own instinct. Your mistakes might as well be your own, instead of someone else’s.


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater