Melihat Gerak-Gerik Tren Eco-Villains


Featured Share to

 

Orang jahat, seperti pada pengertiannya, mereka melakukan hal-hal buruk. Namun agar mereka melakukan hal-hal buruk itu dan melayani fungsi narasi, mereka memaksa para pahlawan protagonis untuk melakukan tindakan, mereka harus memiliki alasan.

Karena, jika kita melihat apa yang dilakukan oleh Thanos hingga Carlton Drake, sepertinya motif para penjahat yang digambarkan oleh Hollywood baru-baru ini memang telah berubah.

Jadi apakah ini sebuah tren baru?

Secara istilah umum, penjahat seharusnya menjadi sebuah karakter yang seharusnya menakutkan, cara mudah untuk mengenali hal-hal ini adalah melihat pada karakter-karakter seperti badut dalam IT atau Joker, rasisme dalam Get Out (2017), bahkan tentang pernikahan di Gone Girl (2014). Terkadang koneksi antar karakter-karakter penjahat bisa menjadi sedikit halus, sebagai contoh, melihat perbedaan antara Monster Frankenstein yang diceritakan oleh James Whale atau Mary Shelley. Dalam James Whale tentang penggambarannya mengenai Frankenstein, sebuah makhluk yang kaku, dia monster yang memiliki cara berbicara dengan artikulasi yang kurang jelas. Sementara dalam novel asli karangan Mary Shelley, Franskenstein adalah makhluk yang fasih berbicara serta lincah.

Melihat pada tingkat historis, sebenarnya hal ini sedikit menyinggung pada peradaban di Amerika Serikat pada awal abad ke-20. Tepatnya tentang bagaimana penyakit polio, yang menjadi sebuah ketakutan besar yang dihadapi oleh masyarakat Amerika pada saat itu.

(Sumber: wall.alphacoders.com)

Pada masa kini, bumi selalu bergerak, membuat manusia harus siap menghadapi perubahan-perubahannya, seperti perubahan iklim yang saat ini menjadi pembahasan yang sangat hangat dalam kehidupan abad ini. Pertama, kualitas iklim bumi yang terus menghawatirkan, sehingga harus membuat manusia terus bergerak, melesat ke luar angkasa untuk mencari tempat yang baru. Kedua, perubahan iklim ini bisa dibilang mempengaruhi kehidupan tata surya, dan bila itu telah terjadi, maka tak ada jalan keluar. Ketiga, hal ini memang nyata adanya. Pada laporan di konferensi PBB, perubahan iklim yang sedang terjadi benar-benar menakutkan, kita setidaknya butuh waktu 12 tahun untuk membalikkan keadaan ini.

Namun pertanyaan tentang 12 tahun untuk membalikan keadaan ini, siapa yang bisa melakukannya? Ya, siapa lagi kalau bukan para sekelompok milliarder kelas kakap dengan segala sumber kekuatan finansialnya. Dengan kekuatan tersebut dia bisa mempekerjakan para scientist ataupun alat-alat yang dibutuhkan atau mungkin dengan Thanos, beserta segala sumber kekuatan ghaib dan ambisinya.

Singkat cerita, ketika mengetahui semua ini, maka pergeseran tentang makna penjahat menjadi berubah. Kebangkitan eco-villains dalam film-film Hollywood baru-baru ini sangat menjadi masuk akal.

Eco-Villains sendiri sebenarnya adalah para penjahat yang berusaha menjarah lingkungan, mereka mengeksploitasi kurangnya pengetahuan banyak orang yang tidak bersalah mengenai isu-isu lingkungan untuk mencari serta mencapai keuntungan pribadi.

Melihat pada karakter Thanos serta Carlton Drake pada Venom, sepertinya menjadi teori yang paling menarik untuk dilihat. Bagaimana genosida acak yang dilakukan oleh Thanos adalah menjadi permasalahan serius tentang kehidupan di planet. Secara implisit hal ini merupakan sebuah respon terhadap perubahan iklim yang membawa bencana, yang sebenarnya terjadi karena revolusi manusia yang akhirnya menciptakan ketidakseimbangaan dalam kehidupan di bumi. Atau tindakan Carlton Drake mengenai koeksistensi manusia-simbiot akan menjadi kunci bagi keberadaan serta keberlangsungan hidup manusia dan bumi. Dan hal ini, patut dilihat sebagai sebuah tren baru dalam menciptakan sebuah karakter penjahat.

Namun sebenarnya narasi yang berpusat mengenai iklim ini sebenarnya sudah dimulai pada era 90-an, bagaimana film seperti The Saint (1997) & Chain Reaction (1996), memiliki narasi ilmuwan heroik yang menemukan ‘solusi’ untuk permasalahan mengenai permasalahan global melalui penemuan energi yang nyaris ajaib, namun akhirnya menjadi rumit ketika karakter-karakter penjahat mulai merusak rencana tersebut.

Dalam narasi eco-villains baru-baru ini, para pahlawan protagonis tidak benar-benar memiliki solusi untuk masalah yang disajikan oleh perubahan iklim dan kelebihan populasi untuk melawan mereka yang didukung oleh karakter penjahat, yang akhirnya meninggalkan dua kemungkinan impilkasi. Apakah perubahan iklim itu sebenarnya bukan masalah, karena hal tersebut bukanlah sebagai bahan untuk diperdebatkan, namun itu hanyalah fakta yang memang harus diterima. Akhirnya jika dilihat secara etika dan moral hal ini menjadi tercela, sebab manusia-manusia yang memiliki jiwa dan berhati baik tidak berhak melakukannya.

Para pahlawan protagonis hanya bertindak dan melawan penjahat tersebut tanpa mempertanyakan serta memedulikan isu tentang perubahan iklim ini dengan klaim mereka melindungi bumi dari orang-orang jahat yang berusaha mencelakai manusia, dan ini sebenarnya menjadi pesan yang menakutkan, dan mungkin hal baru mengenai tren eco-villain ini menjadi salah satu yang paling menakutkan.

Mungkin cara yang paling tepat adalah dengan apa yang dilakukan oleh Anne Hathaway dan Matthew McConaughey melalui cinta kasih sayang dan sandi-sandi morse yang rumit. Mereka berhasil menemukan planet B dan hidup tentram dalam Interstellar, sepertinya.


Kutu Laut

a man who loving the film without thinking too much when the film is bad