Marlon Brando: Hollywood’s “Godfather”


Tokoh dan Sejarah Share to

“Tell me, do you spend time with your family?”
“Sure I do”.
“Good. Because a man who doesn’t spend time with his famliy can never be a real man”.

Percakapan di atas terjadi antara Vito Corleone dengan Johnny Fontaine di film The Godfather. Kalimat terakhir dari kutipan di atas adalah salah satu yang paling terkenal dan diingat oleh banyak orang selain “I’m gonna make him an offer he can’t refuse”. Sejak pertama kali menonton film tentang lika-liku kehidupan mafia Corleone, kutipan di atas masih membekas hingga kini. Tak hanya itu, ketika mendengar, membaca, atau teringat kata-kata tersebut selalu ada bayangan seorang Marlon Brando di kepala.

The Godfather yang disutradarai oleh Francis Ford Coppola ini memang dikenal luas di seluruh dunia. Bahkan seperti ada aturan tak tertulis kalau film ini adalah “film wajib tonton” hingga kini. Dari sinilah nama Marlon Brando mulai mendunia. Penampilannya di film ini begitu khas sehingga ketika melihat gambar atau foto wajah Brando, nama Vito Corleone langsung teringat.

Sejak melakukan debut di layar lebar melalui film The Men (1950), Brando adalah salah satu aktor yang telah diakui oleh banyak pihak sebagai orang yang paling berpengaruh di dunia perfilman. Dia masuk ke dalam daftar American screen legend versi American Film Institut yang dirilis pada 1999, menempati peringkat ke-4 di bawah Humphrey Bogart, Cary Grant, dan James Stewart. Bahkan Brando juga menjadi bagian dalam Time 100: The Most Important People of the Century oleh majalah TIME. Variety pun memasukan namanya ke dalam Icons of the Century.

Sepanjang karirnya, pria yang lahir 3 April 1924 ini sudah membintangi lebih dari 40 judul film. Debutnya di dunia film hadir pada 1950 dengan film drama, The Men. Namanya mulai dikenal saat dia berperan sebagai Stanley Kowalski di film keduanya, A Streetcar Named Desire tahun 1951. Ia masuk ke dalam nominasi Oscar kategori aktor terbaik tapi kalah dari Humphrey Bogart dengan African Queen-nya. Sejak itulah Marlon Brando mulai meramaikan era keemasan Hollywood.

Kemampuan akting seorang Marlon Brando semakin diakui di tahun-tahun berikutnya. Tercatat dia masuk ke dalam nominasi Academy Awards secara beruntun hingga 1955. Dari tiga kesempatan lainnya, dia berhasil memenangkan Oscar pertamanya melalui film On the Waterfront, film keluaran 1954. Dua kesempatan lainnya melalui Viva Zapata! dan Julius Caesar, Brando hanya masuk ke nominasi kategori aktor terbaik. Dia juga kembali masuk nominasi tahun 1958 lewat film Sayonara.

Vivien Leigh & Marlon Brando di A Streetcar Named Desire (1951)

Sayangnya, setelah melewati enam film pertamanya, Marlon seperti kesulitan mempertahankan performa di film-film berikutnya. Meski tetap menjadi salah satu aktor yang dinanti, Brando seolah berada dalam bayang-bayang kesuksesannya. Kritik pun berdatangan, sebagian besar melihat bahwa pria kelahiran Omaha ini melakukan pekerjaannya dengan setengah hati. Maka dari itu, gaungnya sempat hilang di beberapa ajang penghargaan besar.

Sekitar tahun 1963 hingga 1971, Brando menyetujui kontrak dengan Universal Studios untuk berperan di lima judul film. Namun, di era inilah karir seni peran seorang Marlon Brando terjun bebas. Dari semua film yang dibintanginya saat itu, The Ugly American, Bedtime Story, The Apaloosa, A Countess from Hong Kong, dan The Night Following Day mendapat kritik tajam dan gagal secara finansial.

Titik balik karir Marlon Brando hadir pada tahun 1972, yaitu saat dirinya berperan sebagai Vito Corleone di The Godfather. Saat itu, Francis Coppola dan kepala produksi Paramount Pictures, Robert Evans sempat mempertimbangkan nama Laurence Olivier untuk berada di filmnya. Namun akhirnya semua, termasuk Mario Puzo yang bertindak sebagai penulis setuju untuk memberi peran pada Marlon Brando.

Akhirnya, Brando bisa membawa film The Godfather melambung tinggi jauh dari perkiraan banyak orang. The Godfather sukses memikat hati para insan film di Amerika, terbukti dari raihan 11 nominasi Academy Awards. Brando pun kembali hadir menghiasi Oscar dengan memenangkan aktor terbaik. Bahkan, seperti yang telah disebutkan di awal tulisan, film ini menjadi penanda sukses seorang Marlon Brando.

Karirnya memang nak turun setelah tampil di The Godfather. Setahun setelah menjadi Don Corleone, Marlon kembali masuk nominasi Oscar aktor terbaik lewat Ultimo Tango a Parigi (Last Tango in Paris). Butuh waktu lama hingga ia kembali masuk nominasi Academy Awards. Tahun 1990, namanya kembali dengan film A Dry White Season, film drama-thriller karya sutradara Euzhan Palacy.

Brando bersama Maria Schneider di Ultimo tango a Parigi (1972)

Kemampuan akting seorang Marlon Brando memang telah terlihat sejak ia masih anak-anak. Beberapa orang terdekatnya mengatakan bahwa dia memiliki kemampuan untuk menirukan sesuatu atau seseorang, atau sering disebut mimic. Dia bisa menirukan perangai anak-anak lain dan menampilkannya secara dramatis. Brando juga dikenal memiliki pandangan berbeda dan sisi realisme yang tinggi dalam berperan.

Ada cerita unik ketika dia mempelajari seni peran di American Theater Wing Professional School. Stella Adler, mentor Brando saat itu, meminta anak asuhnya untuk berakting seperti ayam, dia menambahkan situasi dengan memberi tahu bahwa akan ada bom nuklir yang akan jatuh. Alhasil, seluruh murid berkokok dan lari kocar-kacir. Namun hanya Brando yang duduk tenang dan berpura-pura sedang mengerami telur. Adler bertanya mengapa dia bereaksi seperti itu, dan Brando menjawab, “I’m a chicken. What do I know about bombs?

Brando juga dikenal sebagai orang yang berperan dalam memberi contoh tentang Stanislavski system of acting. Sistem Stanislavski adalah sebuah pengembangan teknik untuk melatih aktor dan aktris. Tujuannya adalah untuk membentuk karakter yang benar-benar meyakinkan. Sistem ini berfokus pada melatih seseorang dalam mengontrol suatu kinerja yang tak terlihat dan aspek tingkah laku manusia yang sulit dikendalikan, contohnya adalah emosi dan kepekaan pada seni.

Karir akting Marlon Brando berakhir dengan The Score, film pertama dan terakhir dirinya berada dalam satu layar dengan Robert De Niro. Di akhir masa hidupnya, Brando mengalami kesulitan dalam mengendalikan berat badan hingga mengalami obesitas. Selain itu dia juga didiagnosis mengidap dua tipe diabetes dan pneumonia.

1 Juli 2004, Marlon Brando menghembuskan nafas terakhirnya di UCLA Medical Center. Dia mengalami kegagalan sistem pernapasan. Brando tidak dimakamkan melainkan dikremasi. Abunya disimpan oleh dua orang sahabat kecilnya, Wally Cox dan Sam Gilman.

Marlon Brando. Salah satu aktor terhebat yang pernah ada di dunia. Hingga kini, semua perjuangan, inovasi, dan karyanya tetap menjadi contoh dan panutan di ranah film dan seni peran.

Bagaimana Kawan Kutu, do you spend time with your family?


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater