Marlina dan Kiprah Film Indonesia di Academy Awards


News Share to

Selasa kemarin (18/9) Komite Seleksi Academy Awards untuk Indonesia (The Indonesian Academy Awards Selection Committee) yang dipimpin oleh aktris senior tanah air, Christine Hakim, mengumumkan judul film yang akan mewakili Indonesia dalam ajang Academy Awards ke-91 di Amerika awal tahun depan. Film tersebut adalah Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (Marlina the Murderer in Four Acts) yang digarap oleh Mouly Surya.

Dari 101 film yang diseleksi komite, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak dianggap sebagai film paling cocok untuk ajang Oscar mendatang. Pasalnya, pemilihan film tak hanya dilihat dari segi kualitas namun dari aspek-aspek lain.

Contohnya, film harus pernah tampil di festival sebelum perilisan secara komersil. Dan tentang itu, Marlina tentu memiliki daya pikatnya sendiri. Ia tayang di Cannes Film Festival dan menjadi film Indonesia yang tayang di sana setelah 12 tahun terakhir. Selain itu, Marlina juga memperoleh sederet penghargaan seperti Best Film pada QCinema International Film Festival di Filipina, Grand Prize di Tokyo FILMeX, dan Best Actress di Sitges Film Festival untuk Marsha Timothy yang berperan sebagai Marlina di film ini.

(pophorror.com)

Film ini digadang-gadang sebagai wakil terkuat yang pernah dikirim Indonesia ke Academy Awards. Tentunya sederetan penghargaan dari berbagai festival di atas menjadi faktor yang banyak diunggulkan. Belum lagi penulisan cerita dan sinematografi yang begitu ciamik, yang tentunya menjadi alasan penting atas pencapaian yang diraih Marlina.

Namun, bagaimana dengan film-film Indonesia di Academy Awards sebelumnya?

Tahun 1987, Indonesia mengirimkan submisi pertamanya pada ajang yang juga dikenal dengan nama Oscar Awards tersebut. Nagabonar, karya M.T. Risyaf adalah film yang dikirim kala itu. Dua tahun setelahnya, film biopik karya Eros Djarot, Tjoet Nja’ Dhien yang dikirim ke Academy.

Setelah itu film-film karya sineas-sineas besar Indonesia bergantian untuk merepresentasikan perfilman tanah air. Tercatat film-film karya Slamet Rahardjo, Arifin C. Noer, hingga Garin Nugroho (yang juga andil dalam penulisan Marlina) juga pernah bersaing dengan film-film karya sineas dari berbagai negara untuk menyabet gelar Best Foreign Language Film di Academy Awards.

Gie (2005) (milesfilms.net)

Mulai dari tahun 2002, Indonesia mulai konsisten mengirimkan wakilnya ke ajang tersebut. Dari tahun 2002 hingga 2017, hanya tiga kali Indonesia absen, yaitu tahun 2004, 2008, dan 2015. Pada medio tersebut muncul nama-nama sineas apik seperti Riri Riza dengan filmnya Gie (2005), Ratna Sarumpaet dengan Jamila dan Sang Presiden (2009), dan Nia Dinata yang memiliki dua karya yang dikirim ke Academy Awards yaitu Ca-Bau-Kan (2002) dan Berbagi Suami atau Love for Share yang dikirim tahun 2006.

Seperti Marlina, beberapa di antara film-film yang menjadi wakil Indonesia sebelumnya pun juga mendapat rekognisi internasional, ditampilkan dan mendapat penghargaan di berbagai festival film internasional. Namun, dari 19 film yang menjadi pendahulu Marlina, tak ada satupun yang berhasil masuk nominasi final untuk kategori Best Foreign Language Film. Bahkan masuk dalam shortlist (daftar pendek) berisikan 9 film yang berpeluang masuk nominasi pun tidak.

Rekam jejak film-film Indonesia di Academy Awards mungkin memang belum sebaik film-film asal Italia, Perancis, ataupun Jepang. Namun, itu bukan berarti menjadi sebuah kegagalan untuk perfilman lokal. Justru hal itu merupakan bagian dari sebuah proses yang terus menerus berjalan dan berkembang.

Semoga saja, Marlina bukan saja merupakan film yang “cocok” namun memang juga yang terbaik dan dapat berbicara banyak pada ajang bergengsi tahunan ini. Rasanya, tak mustahil jika kita menggantungkan harapan yang tinggi pada Marlina. Siapa tahu pencapaiannya nanti akan menjadi momentum yang bisa membangkitkan perfilman tanah air.


Kutu Biru

Wanna die nyender