A Man Called Ahok (2018): Kisah Ahok yang Menohok


Review Share to

Sutradara: Putratama Tuta
Penulis: Putratama Tuta dan Ilya Sigma
Pemeran: Daniel Mananta, Eric Febrian, Denny Sumargo, Chew Kin Wah, Jill Gladys
Genre: Drama

Saat saya pertama kali tahu tentang sosok figur Ahok, saya yakin dia akan mencetak sejarah bahkan akan dibuat film adaptasi tentang kehidupannya. Saya akui, Ahok merupakan pribadi yang sangat saya puja. Saya menonton hampir seluruh wawancara tentang dia, dan saya pun hampir tahu seluruh cerita hidup masa kecilnya. Jadi saya sedikit tahu garis besar tentang cerita hidupnya, dari kecil hingga dewasa.

Saya akui film ini belum sepenuhnya sempurna, namun berhasil memenuhi ekspektasi. Perlu diingat kalau film ini, menceritakan tentang kisah Ahok dari kecil sampai dewasa, jadi Kawan Kutu tidak akan menemukan cerita tentang kasus penistaan agama yang menimpanya (walaupun diceritakan sedikit).

Diadaptasi dari buku dengan judul yang sama, film ini berhasil menceritakan premis dan pengembangan karakter dengan baik. Dari bagaimana susahnya kondisi di kampung asal Ahok hingga bagaimana caranya menghadapi keruwetan birokrasi korup dengan gaya yang tegas dan cenderung keras. Kita juga bisa melihat bagaimana sulitnya ekonomi pada zaman dahulu, terutama di desa yang notabene jauh dari perkotaan.

Film dibuka adegan makan dengan perkenalan tiap masing-masing karakter. Ayah Ahok yang masih muda (Denny Sumargo), memberi nasihat kepada seluruh anak-anaknya jika tumbuh dewasa nanti mereka harus menjadi orang yang berguna, agar bisa membangun kampungnya sendiri. Di sini kita juga bisa melihat sikap tegas Ahok didapatkan dari mana. Ya, dari sang ayah. Makanya kita pasti sering mendengar peribahasa, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Ayah Ahok yang biasa dipanggil “Tauke” yang artinya bos besar. Digambarkan sebagai pribadi jujur, tegas, dan tanpa kompromi namun rela menolong tetangganya yang sedang susah butuh uang, sekalipun Tauke sendiri sedang mengalami kekurangan. Konflik suami-istri pun acapkali ditunjukkan, seperti istri yang tidak akan selalu setuju dengan keputusan suami. Namun, kedermawanan itu pun tidak akan sia-sia, pasti akan dibalas secara langsung ataupun tidak. Hal ini pun digambarkan dengan baik dalam film. Ahok pun akhirnya mencontoh apa yang dilakukan bapaknya.

Konflik pertama tampak pada saat ada oknum pemerintah yang meminta suap agar proyek timah milik Tauke tidak diganggu. Dengan tegas Tauke menolak membayar suap, yang akhirnya usaha timahnya pun terancam bangkrut. Ahok kecil pun menyaksikan ketegasan bapaknya agar terus berperilaku jujur, walaupun dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Dari situlah kita bisa melihat, kalau Ahok bersumpah pada dirinya agar menjadi pribadi yang berguna dan akan membangun kampungnya sendiri.

Oknum pemerintah yang korup (Donny Damara) dibuat sebagai antagonis utama dalam film ini. Bagaimana upaya liciknya dilakukan demi menjatuhkan Ahok, dari black campaign sampai penutupan paksa usaha Ahok. Liciknya oknum tersebut sayangnya digambarkan kurang kuat, sehingga perjuangan Ahok melawan birokrasi korup tak tergambarkan dengan baik.

Saya juga melihat upaya “bermain aman” dalam film ini, yaitu dengan tidak menyinggung agama sedikitpun. Padahal salah satu konflik utama sesungguhnya dari hidup Ahok adalah saat dia diperlakukan berbeda karena agamanya. Namun saya juga mengerti dengan keputusan filmmaker, lebih bagus bermain aman saja, daripada harus “playing with fire” dengan membawa isu agama. Saya akui isu agama memang masih sensitif di Indonesia.

Ditambah juga dengan minimnya peran salah satu adik Ahok, yang seolah tidak diberikan latar belakang cerita sama sekali. Terkesan bahwa adik Ahok itu hanya ada sebagai pelengkap dalam cerita.

Secara keseluruhan, film ini memiliki banyak potensi, namun memang belum mampu dimanfaatkan dengan baik. Selain itu, A Man Called Ahok juga mempunyai momen-momen terbaiknya sendiri, seperti konflik antara Tauke dengan Ahok, sehingga saya masih memaklumi kekurangannya. Daniel Mananta pun memerankan Ahok dengan SANGAT BAIK, dari bahasa tubuhnya sampai suaranya benar-benar mengingatkan saya kepada Ahok, saya juga sempat skeptis dengan Daniel Mananta namun rasa skeptis tersebut berhasil ditepis. Daniel, kau hebat!

Saya tetap memberikan rekomendasi untuk menonton A Man Called Ahok, karena film ini mengajarkan banyak hal.

Rating: 8/10

*Tambahan:

Stay tune for the credits, karena momen-momen terbaiknya juga ada di akhir film. Oh ya, apa ada yang merasa kalo Ahok kecil itu mirip banget ama Rio Dewanto? Atau cuma gue doang? :p


Kutu Kamar

Penulis serta penjelajah juga idealis & semua pasti dijamah.