Legenda yang Sulit Dihubungi


Tokoh dan Sejarah Share to
Bill Murray (Sumber: thedailybeast.com)

Bill Murray tidak hanya sekadar aktor senior yang telah lama malang melintang di Hollywood. Pengalamannya selama 40 tahun bekerja di dunia hiburan pun diiringi oleh berbagai penghargaan. Total ia telah memenangkan 52 penghargaan dan 78 nominasi lainnya. Termasuk di antaranya adalah nominasi Oscar untuk Lost in Translation (2003). Ya, Bill Murray telah menjelma menjadi seorang legenda perfilman.

Terlepas dari berbagai penghargaan dan apresiasi atas kemampuan berlakonnya, pria bernama lengkap William James Murray ini memang dikenal sebagai pribadi yang unik. Mungkin sah saja bila “unik” di sini diganti menjadi “aneh”. Cukup banyak kisah-kisahnya yang agak nyeleneh dan tak terduga.

Salah satu hal yang paling dikenal dari Bill Murray adalah fakta bahwa kini ia menjadi sosok di Hollywood yang paling sulit dihubungi. Alasannya, pria kelahiran 21 September 1950 ini tak memiliki agen maupun manajer untuk mewakili dirinya.

Bill Murray dan Scarlett Johansson di Lost in Translation (2003)

Robert Schankenberg pernah menyinggung hal ini pada bukunya yang berjudul The Big Bad Book of Bill Murray. “Pada 2000, ia memecat agennya – dikabarkan karena terlalu sering menelponnya – dan menggantinya dengan nomer otomatis 1-800,” tulisnya yang dikutip oleh Washington Post.

Keputusannya tersebut membuat para produser dan sineas kesulitan menghubungi Bill. Jika pun mau, mereka hanya bisa menghubungi nomer 1-800 yang ada dan meninggalkan pesan. Ya, meninggalkan pesan ke sebuah mesin yang jarang diperiksa oleh Murray. Terkadang bisa sampai berminggu-minggu ia mengabaikan pesan-pesan yang telah dikirim.

Bahkan Sofia Coppola pun harus menelpon dan meninggalkan pesan hingga ratusan kali, serta menunggu tujuh bulan untuk membujuk Murray agar mau melihat naskah Lost in Translation (2003). Pada waktu itu, Sofia pun tak memiliki keyakinan bahwa Bill akan tampil di filmnya hingga ia benar-benar muncul saat hari pertama produksi di Tokyo.

Di balik anehnya kelakuan Bill Murray terkait masalah akses terhadap dirinya, tentu ada alasan mengapa hal ini menjadi sesuatu yang penting.

Bill Murray di Ghostbusters (Sumber: indpendent.co.uk)

Bill Murray dikenal sebagai aktor yang sulit ditebak, terutama dalam pemilihan film yang akan dimainkannya. Mungkin sebagian aktor bekerja untuk mendapatkan uang melimpah, sebagian lainnya ingin menguji kemampuannya dengan memerankan karakter yang berbeda.

Namun untuk Bill, ia tak punya pola atau syarat khusus dalam memilih film. Yang tersirat hanyalah Murray akan memainkan film yang memang ia inginkan saja. Tentu saja ini bukanlah sesuatu yang baru bagi Murray. Di awal 80an, dia tampil di Tootsie (1982) dan juga menjadi bintang utama film komedi populer, Ghostbusters (1984). Lalu sedikit beralih haluan ke drama The Razor’s Edge (1984).

Memasuki era 1990 dan 2000an, filmnya pun semakin beragam. Ia menjadi bagian penting karya-karya Wes Anderson di Rushmore (1998), The Life Aquatic with Steve Zissou (2004), Moonrise Kingdom (2012), The Grand Budapest Hotel (2014), hingga Isle of Dogs (2018). Memerankan Franklin D. Roosevelt di Hyde Park on Hudson (2012) dan mengambil peran kecil di Get Smart (2008).

Dilihat dari judul-judul film yang telah ia bintangi, tak semuanya mendapatkan apresiasi positif. Ya, jangan lupakan bahwa ia juga pernah menjadi pengisi suara Garfield. Kontras tentunya bila membandingkan film Garfield dengan Lost in Translation. Namun keduanya memiliki satu hal yang sama. Ya, sama-sama menarik perhatian seorang Bill Murray.

Bill Murray di Film Rushmore (1998)

Selain masalah ketertarikan pada naskah atau ide yang disampaikan oleh para sineas, ada berbagai alasan lain yang juga membuat ia gagal direkrut untuk bermain di sebuah film. Robert Schankenberg pun merangkum alasan-alasan itu di bukunya. Cukup beragam memang, mulai dari masalah aktor yang akan menjadi lawan mainnya, jadwal yang terlalu sibuk, atau menghindari film dengan “tipe” tertentu. Namun yang paling  mendominasi adalah menolak tanpa alasan sama sekali. Ya, ia menolak (atau mengabaikan) berbagai macam proyek tanpa menjelaskan alasan tertentu.

Tak jarang film yang diabaikan adalah proyek-proyek besar. Contohnya seperti film Iron Man (2008), Monster Inc. (2001), Boogie Nights (1997), Forrest Gump (1994), Rain Man (1988), hingga Toy Story (1995).

Namun yang harus digaris bawahi adalah ia tak pernah terlalu menyesali pilihan yang telah diambilnya. “Saya pikir kita semua seolah-olah terpenjara – atau setidaknya terikat pada – pilihan-pilihan yang kita buat, dan menurut saya semua orang di bisnis ini ingin membuat keputusan yang tepat,” ucap Bill pada Esquire. “Kau ingin mengatakan tidak pada waktu yang tepat dan mengatakan ya secara ‘hemat’,” lanjutnya.

Wajar bila kita beranggapan, untuk apa repot-repot mengejar aktor yang sulit dihubungi. Toh masih banyak talenta lain yang juga bisa dimanfaatkan.

Opini seperti itu memang rasional. Namun Bill Murray punya keistimewaan tersendiri. Meski tingkahnya acuh tak acuh, tetapi pria kelahiran Evanston, Illinois ini tak pernah main-main bila berurusan dengan akting.

Nilai komitmen yang ditunjukkan Bill pada setiap karyanya banyak dipengaruhi oleh kedekatannya dengan Del P. Close. Di Amerika, Del Close adalah sosok guru dan orang penting dalam akting dan berkomedi, terutama terkait teknik improvisasi. Selain Bill Murray, murid-murid Close juga banyak yang menjadi pilar penting di ranah Hollywood seperti Dan Aykroyd, John Belushi, Stephen Colbert, Jon Favreu, Bob Odenkirk, hingga Tina Fey.

“Ia mengajarkan untuk berkomitmen,” ungkap Bill tentang Del Close pada Esquire. “Kamu harus keluar dan berimprovisasi, dan jangan pernah takut untuk mati. Kamu harus bisa mengambil kesempatan untuk mati. Dan kamu harus mati berkali-kali. Kamu harus mati setiap saat,” lanjut Murray.

Maka dari itu, dengan segala pengalaman, popularitas, dan komitmennya saat bekerja, Bill Murray adalah aset bagi para produser dan sineas. Bisa bekerja sama dengan orang sekelas Murray adalah sebuah kehormatan dan keberuntungan tersendiri. Meski hanya Tuhan dan Bill Murray yang tahu kapan ide-ide mereka akan direspon.


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater