Leave No Trace (2018): Trauma, Keintiman, dan Jejak Baru


Review Share to

Sutradara: Debra Granik
Screenplay: Debra Granik & Anne Rosellini
Pemeran: Ben Foster, Thomasin Hartcourt McKenzie, Dale Dickey, Jeff Kober
Genre: Drama
Durasi: 109 Menit

Di dalam sebuah taman nasional yang terletak di Portland, Amerika hidup seorang anak perempuan bernama Tom (Thomasin McKenzie) bersama ayahnya, Will (Ben Foster), seorang veteran perang yang menderita Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Mereka hidup dalam keadaan yang hampir terisolasi dari dunia luar, dan hanya mengunjungi perkotaan untuk membeli kebutuhan-kebutuhan pokok saja.

Keseharian mereka diisi dengan aktifitas-aktifitas monoton. Mencari makanan, bermain catur, dan hampir tak ada perbincangan yang intim antara ayah dan anak tersebut. Kata-kata yang keluar dari mulut Will hanya berisi komentar-komentar kecil dan komando untuk anaknya.

Tom, biar bagaimanapun adalah seorang remaja. Meskipun hidup dalam isolasi seperti itu sejak lama, ia tetaplah seorang anak dengan rasa ingin tahu yang tinggi, lengkap dengan kecerobohannya. Dan karena kecerobohannya itulah, akhirnya mereka masuk kedalam sebuah konflik, yang mengubah keadaan dengan drastis.

Mereka ditangkap oleh otoritas, dan pada akhirnya mau tidak mau harus mengikuti anjuran untuk memulai hidup baru. Beruntung mereka tak dipisahkan dan malah mendapat fasilitas yang terbilang cukup baik. Sang ayah mendapat pekerjaan baru, dan sebagainya.

Namun, hal tersebut tak bertahan lama. Will tetap gagal untuk beradaptasi dan akhirnya membawa anaknya untuk kembali menjalani kehidupan lama mereka.

Kritik Sosial

Leave No Trace merupakan sebuah film adaptasi dari novel ciptaan Peter Rock yang berjudul My Abandonment. Dengan fase penceritaan yang cukup lambat, Debra Granik dengan sangat baik memotret keintiman antara ayah dan anak tersebut, yang semakin lama semakin terlihat klise.

Pada permukaan kita bisa dengan jelas melihat Will sebagai seorang ayah yang egois dan Tom merupakan korbannya. Dan PTSD ibarat sebuah apologi atas tindakannya tersebut. Kondisinyalah yang membuatnya seperti itu, mengisolasi dirinya dan anaknya dari dunia luar. Traumanya membuat ia menjadi orang yang paranoid, tak nyaman berada di sekitar orang lain kecuali Tom.

PTSD memang kerap diderita oleh veteran perang. Dan dalam gambaran yang lebih besar, cerita ini juga mencoba untuk memotret kenyataan tersebut. Bagaimana dampak sebuah perang bagi mereka yang terlibat di dalamnya. Terlebih lagi, ketidak-becusan pemerintah (Amerika) mengurus kesejahteraan para prajurit pasca perang, orang-orang yang telah melakukan pelayanan dengan mengorbankan hubungan dengan orang-orang terdekatnya hingga mempertaruhkan nyawa demi negara.

Jukstaposisi Antar Generasi

Seperti yang sudah sedikit dibahas di atas, Debra Granik memotret keintiman antara ayah dan anak yang semakin lama semakin terlihat klise. Will, dengan traumanya menjelma menjadi orang yang sangat dingin, kaku, dan tak suka orang asing. Sementara Tom, meskipun memiliki sedikit kemiripan dengan ayahnya, ia tetaplah seorang remaja, masih plastic. Artinya, ia masih cenderung mudah dibentuk. Terbukti, setiap kali ia ‘masuk’ kedalam lingkungan baru ia cenderung lebih mudah beradaptasi dibanding ayahnya. Rasa ingin tahu khas remajanya tak pernah hilang meskipun telah lama hidup dalam isolasi.

Leave No Trace

Duet jempolan Ben Foster-Thomasin McKenzie mampu menyampaikan keintiman antara dua karakter dengan ciri berbeda tersebut dengan baik. Terutama Ben, ia dengan intens menampilkan karakter traumatik-dingin-tertutupnya.

 

“The same thing that’s wrong with you isn’t wrong with me.”

 

Pada akhirnya, gesekan tak disadari yang terus terjadi sedari awal menyebabkan Tom untuk lepas, memutuskan sendiri bagaimana dia akan hidup dan tidak mengikuti kemauan ayahnya lagi, memilih untuk hidup dengan cara dan di dalam lingkungan yang ia sukai. Tinggal dengan rasa aman di dalam lingkungan yang begitu hangat.

Will pun akhirnya harus menerima keputusan anaknya tersebut. Dalam dialog-dialog terakhir, kegetiran yang ia rasakan terasa menular. Ekspresinya menggambarkan kekhawatiran dalam kepasrahan yang dipaksakan.

Konklusi

Kisah dalam Leave No Trace tidaklah sefantastis Captain Fantastic (2016). Hari-hari Tom dan ayahnya begitu monoton, dingin, dengan ketakutan dan ketidakjelasan yang membayangi dimana-mana. Menciptakan teka-teki yang kadang terjawab dengan sendirinya sementara yang lain tetap menjadi teka-teki yang tak kunjung terjawab hingga film habis.

Positifnya, hal semacam itu menciptakan ruang bagi penonton untuk kembali merenungi isi dalam film. Meskipun terkesan datar dengan alur yang lambat, Debra Granik sukses menyuguhkan tontonan provokatif. Ia juga dengan sabar membangun emosi secara perlahan, yang pada akhirnya begitu terasa saat penutupan.

Dan yang tak kalah penting adalah, Leave No Trace membawa kita untuk menyaksikan suatu gambaran realita yang tidak kita rasakan. Bahkan skenario kehidupan yang hanya muncul dalam imajinasi.

Leave No Trace

Kutu Biru

Wanna die nyender