Kill Your Friends (2015): One Man’s Perspective


Tulisan Pembaca Share to

Sutradara: Owen Harris
Penulis: John Niven
Pemeran: Nicholas Hoult, James Corden, Georgia King, Craig Roberts
Genre: Comedy, Crime, Thriller
Durasi: 103 menit

Credit: IMDb

Walaupun pada dasarnya musik adalah sebuah seni, setiap orang memaknainya dengan cara berbeda-beda. Ada yang menganggap musik sebagai sesuatu yang bernilai, bagaimana musik dapat menjadi sebuah sarana untuk menyiratkan pesan yang ingin disampaikan oleh si pencipta kepada pendengarnya. Ada juga yang menjadikan musik sebagai hiburan semata, sejauh ia dapat menikmati hasil karya komposer kesukaannya, ia merasa bahagia.

Lalu, ada segelintir orang yang menjadikan musik sebagai alat untuk mengejar tujuan pribadinya. Film Kill Your Friends, memperkenalkan sosok Steven Stelfox (Nicholas Hoult), yang merupakan bagian dari segelintir orang tersebut. Stelfox berkecimpung di industri musik dengan bekerja sebagai manajer A&R bagi salah satu perusahaan label rekaman di Inggris, UNIGRAM.

A Tough Job

Terlibat di industri musik, terlebih lagi bekerja di dalamnya, tak semudah atau semenarik yang dikira. Orang A&R bertanggung jawab terhadap hadirnya lagu-lagu mendadak terkenal di publik, serta munculnya bintang baru yang tiba-tiba menarik perhatian media. Oleh karena itu, mereka haruslah visioner, (dituntut) memiliki selera musik yang bagus, punya kemampuan untuk melihat kapasitas dari sebuah musik; apakah memiliki selera pasar, atau sulit diterima oleh publik. Hal ini diamini oleh Stelfox. Ia menarasikan tantangan-tantangan yang selalu dihadapi seorang “Artist and Repertoire” secara detail dan interaktif, tanpa membuat penonton merasa digurui–akan selalu ingat betapa seksinya logat British seorang Hoult!

Namun, bukannya mencari musisi bertalenta yang sanggup menciptakan lagu-lagu berkualitas, Stelfox hanya peduli bagaimana alunan nada yang disusun sedemikian rupa tersebut dapat menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya bagi perusahaan label rekaman tempatnya bekerja. Unsur artistik sebuah musik? Bodo amat deh!

Lain halnya dengan Parker-Hall, seorang Kepala A&R ternama yang musikalitasnya tinggi, memiliki kharisma, dan selalu bisa menarik perhatian musisi untuk menandatangani kontrak dengan label yang mempekerjakannya. Stelfox mengakui bahwa dirinya kalah jauh dibanding Parker-Hall. Tetapi ia tidak peduli, ia ingin menaklukannya.

Ironisnya, pandangan Stelfox ini mempengaruhi kemampuannya dalam “melihat” musik. Ia terlanjur benci ketika harus menyeleksi demo-demo band, dan tidak mengindahkan rekomendasi dari rekan kerjanya. Berbeda dengan Darren, anak didik/bawahannya, yang memiliki prinsip bahwa merekrut musisi bertalenta itu bagian dari makna hidupnya. Tentu saja prinsip lugu ini dicibir oleh Stelfox, seolah Darren baru saja terlibat di dalam industri.

Credit: IMDb

A Tough Industry

Film Kill Your Friends menceritakan bagaimana industri musik merupakan dunia penuh persaingan, rekan-rekan bisa menusuk dari belakang kapanpun ketika mereka perlu melakukannya, dan hukum rimba pun juga berlaku. Tidak sanggup bersaing atau bertahan? Bersiaplah tersingkir.

Nampaknya sudah menjadi rahasia umum, bahwa industri musik juga merupakan sebuah bisnis, dan akan ada pihak yang rela “mengotori tangan” mereka untuk menggapai sukses. Stelfox berambisi tinggi dan temperamental. Ia akan melakukan segala cara demi mendapatkan apa yang diinginkan, dan bisa menyingkirkan semua yang menghalangi proses untuk mencapai ambisinya. Termasuk menghabisi musuhnya rekannya, dalam arti yang sebenarnya.

A Tough Record

Performa memukau oleh aktor Nicholas Hoult, layaknya binatang buas yang berusaha memperluas teritori kekuasaannya. Sebagai sebuah film satir mengusung tema industri musik, Kill Your Friends, sedang mencoba membuat hit record menggunakan sudut pandang Steven Stelfox. Baginya, band adalah seburuk-buruknya musisi, dan musik electronic dance merupakan jawaban atas apa yang akan menjadi tren di Inggris. Stelfox menjadi kunci utama dalam menggiring alur cerita. Ia adalah orang serba tahu, dan hal ini tidak jarang menghantarkannya menuju masalah.

Meskipun karakternya berkembang sesuai ekspektasi, tetapi sangat disayangkan, Stelfox (baca: sutradara) tidak sanggup mengendalikan cerita agar tetap fokus. Alurnya terpecah-pecah. Di satu waktu, penonton akan dibawa ke realita industri, lalu beberapa saat kemudian berganti ke perkembangan permasalahan yang dibuat oleh para tokohnya.

Selain itu, tidak ada “bibit unggul” dari aktor-aktor lain. Peran mereka selain kurang mendapatkan screen-time yang layak, aktingnya juga tidak cukup kuat membentuk karakter tokoh yang mereka perankan. Dengan kata lain, Owen Harris menjadikan Hoult anak kesayangannya.

Film Kill Your Friends juga hanya sebatas mencemooh, tanpa memperlihatkan “sisi terang” industri tersebut. Sebagai film suspense dengan adegan kekerasan, film hanya sanggup memberi perasaan tegang yang terkesan setengah-setengah. Setidaknya, percakapan pada film ini menarik, banyak perkataan Stelfox yang cukup quotable.

Kehadiran Junkie XL sebagai komposer merupakan pilihan yang tepat. Hasilnya? Musik yang dibuat dan dipilih olehnya sanggup membentuk atmosfir dalam suatu adegan. Kepiluan seorang Stelfox terasa bermakna melalui lantunan “Karma Police” oleh Radiohead, ketika ia berada di titik terendah dalam karirnya.

Kill Your Friends, a film which taking one man’s perspective about music industry that is so bad in thrilling you even murder scene wasn’t enough.

Rating: 4.5/10

– Amelia, Yogyakarta
(Penulis adalah pemilik blog Marry the Fiction)


Kutu Butara

Biasanya demen nonton film ruang sempit dan serial crime/thriller.