Keluarga Cemara (2019) : Rasa Duka dan Transformasi yang Menyelimuti


Review, Tulisan Pembaca Share to
Sutradara: Yandy Laurens
Penulis: Yandy Laurens, Ginatri S. Noer
Pemeran: Nirina Zubir, Ringgo Agus Rahman, Adhisty Zara, Widuri Puteri
Genre: Drama, Keluarga
Durasi: 110 Menit

Dalam buku Poetics karangan Aristoteles seorang filsuf beken asal yunani mengatakan, bahwa kisah-kisah semacam gambaran tentang orang baik yang beralih dari nasib baik ke buruk selalu diimbangi bahwa perubahan nasib itu terjadi karena kekeliruan dan bukan karena keburukan moral, tetapi terjadi karena ketidaktahuan sang karakter dalam pusaran cerita yang sedang dijalankan. Kisah-kisah seperti inilah yang sebenarnya bisa menyentuh sentimen emosional dalam diri manusia, ada rasa belas kasihan dan ketakutan yang selalu menghampiri sebab perubahan nasib itu bisa datang kapan saja.

Kisah Keluarga Cemara adalah kisah refleksi semacam hal di atas, perubahan nasib yang terjadi pada Keluarga milik si Abah (Ringgo Agus Rahman) terjadi karena ketidaktahuan si Abah itu sendiri dikarenakan kakak Ipar nya bernama Fajar (Ariyo Wahab) mengambil proyek ilegal yang mengakibatkan rumah si Abah harus disita oleh para Debt Collector, dan membuat keluarga kecil Abah harus beralih ke sebuah rumah milik peninggalan orangtua Abah di satu sudut kota Bogor.

Melalui narasi mengenai peralihan nasib inilah yang membawa Keluarga Cemara menjadi sebuah cerita kehidupan keluarga yang penuh hangat. Yandy Laurens sebagai seorang sutradara debutan berhasil memberikan gagasan ini melalui relevansi pendewasaan karakter terhadap jalan cerita agar padu secara visual, sebab pendewasaan karakter tetap digambarkan secara utuh dengan tambahan visual penuh makna, yang bukan terbatas pada aspek yang terlihat di sebuah layar saja melainkan pada level gagasan serta fungsi film sebagai medium penyampaian pesan yang juga bisa diartikan sebagai medium yang bisa mentransfer persoalan perasaan kebatinan yang mungkin menjadi personal bagi siapapun yang menontonnya.

Abah & Euis Problematika Masa lalu, Ekspektasi dan Kenyataan

Keluarga Cemara dibuka dengan adegan yang memainkan ekspektasi pada karakter di dalamnya, saat itu Euis (ZaraJKT48) sedang mengikuti lomba tingkat nasional bersama dengan teman-temannya dan ada Emak (Nirina Zubir) serta Ara (Widuri Putri) yang sedang menonton, tapi ada satu anggota keluarga yang tidak memenuhi deretan kursi yang meramaikan acara tersebut, karakter tersebut adalah sang Abah. Sampai disini penonton sebenarnya sudah bisa mengidentifikasi bahwa kehidupan karakter Euis akan dipenuhi dengan Ekspektasi dari sang Abah sebab pergerakan serampangan yang diperlihatkan oleh kamera secara track in ini dengan lancangnya menggambarkan kursi kosong yang tidak dihadiri oleh Abah, hingga konflik datang mengenai sengketa proyek ilegal yang saat itu bertepatan dengan Ulang Tahun Euis. Abah pun gagal memenuhi ekspektasi Euis yang sebelumnya sudah berjanji untuk datang pada hari ulang tahun Euis.

Tensi konflik dalam Keluarga Cemara pun terus meningkat dengan disegelnya rumah mereka dan beralih pindah ke sudut kota Bogor, di sebuah rumah peninggalan milik orang tua si Abah.

Saat pindah ke Bogor, karakter Abah menjadi pihak yang mendominasi pada keluarganya sebab keluarga merupakan tanggung jawabnya, dialog-dialog dan tindakan bermuatan narasi dominan dari Abah terus direpetitif, bagaimana ketika Abah terus memaksakan dirinya untuk bekerja walau dengan kondisi yang tidak wajar, serta bagaimana ketika Abah yang marah kepada Euis atas tindakannya yang dianggap tidak memahami kondisi keluarga. Lalu bagaimana dengan Euis sebagai anak yang menjadi korban ekspektasi Abah? Ia pun punya kasus lain. Dirinya memiliki sekelumit kisah tak mengenakan di tempat baru, mulai hinaan bendera Jepang di celananya hingga ekspektasi baru di tempat baru berujung nostalgia bersama temannya di Jakarta yang berujung tak mengenakan, serta ia pun harus berjualan opak demi membantu si emak untuk membantu kebutuhan finansial keluarganya.

Setidaknya dari dua karakter ini, penonton bisa melihat bahwa ada hantu masa lalu yang menghinggapi pengalaman antar dua karakter sehingga konflik terus bermunculan dan disaat yang bersamaan hal ini menjadi bertabrakan pada kondisi masa kini yang jauh berbeda dari kehidupan sebelumnya.

Transformasi sebagai Solusi

Gejolak konflik yang dilalui kedua karakter tersebut sebenarnya hadir bukan tanpa alasan, sebab disanalah sebuah kenikmatan tragis yang dihadapi oleh anggota keluarga milik Abah dapat menghasilkan rasa belas kasihan dan ketakutan, efeknya? menguat pada pendewasaan tiap karakter. Ingat? Bagaimana saat ekspektasi Euis dikecewakan bahwa teman-temannya yang di Jakarta sudah mempunyai personil baru dan Euis merasa bahwa dirinya tidak dibutuhkan lagi dan saat ia pulang, ia mengaku minta maaf dan salah namun respon dari Abah dan Emak malah terdiam dan meninggalkannya. Disinilah Transformasi pada Euis terjadi, kamera membelah pandangan penonton dengan menghadirkan sisi lain dari Euis melalui penampakan di jendela yang memperlihatkan sisi dirinya yang berbeda, pada adegan selanjutnya Euis menatap dirinya di depan cermin dengan Ara yang melihatnya di sudut kamar.

(Credit: Iflix)
(Credit: Iflix)
(Credit: Iflix)

Dalam menginterpretasi maksud dari peranan visual yang diperlihatkan, adegan di atas merupakan refleksi dari konsep Tahap Cermin dari Jacques Lacan, sebuah momen di mana seorang anak dapat mengenali citra dirinya sendiri di sebuah cermin, ia seakan-akan menjadi subjek yang lengkap atas apa yang ia lihat di dalam sebuah cermin dan menjadi sebuah gambaran tentang dirinya secara utuh. Adegan inilah yang berfungsi bagaimana Euis mulai membangun kenyataan terhadap hubungan antara dunianya terhadap dunia di luar dirinya.

Lalu bagaimana dengan Abah? sebagai seorang kepala keluarga, Yandy selalu menempatkan kameranya kepada Abah di tingkatan low angle untuk menunjukan kebesaran dan tanggung jawab dari seorang Abah pada keluarganya, adegan pada saat Abah sedang mengalami konflik batin pada pengacaranya di sebuah pohon, yang gagal memenuhi syarat pengembalian rumahnya di Jakarta, atau konflik bersama Emak dan kedua anaknya Euis dan Ara, tetapi ketika Abah sedang merenungi tindakannya, kamera selalu berada pada tingkatan close up setinggi mata Abah, hal ini memungkinkan penonton “melihat” dari perspektif karakter Abah agar penonton benar-benar lebih dekat memahami perjuangan karakter Abah dalam menanggung dan menghidupi keluarganya.

Efek transformasi Abah terjadi pada dialog sakral saat Abah mengatakan bahwa “Kalian semua tanggung jawab Abah ,” dan dijawab Euis dengan “Kalau gitu, Abah tanggung jawab siapa?” Dari dialog tersebut sebenarnya Staging atau penempatan karakter yang berusaha ditempatkan oleh Yandy sedari awal memperlihatkan karakter Abah yang dominan namun rapuh di dalam, terlihat bagaimana bayangan lain dari sisi abah tampak menghiasi gambar, serta lihat bagaimana pergerakan karakter dari film tersebut yang awalnya merasakan tertekan kemudian menjadi pihak yang akhirnya hancur rapuh dan tak berdaya melalui perlawanan dialog-dialog sakral tersebut dan ini bersifat dramatis serta menciptakan rasa identifikasi yang kuat bagi penonton dan air mata adalah jawaban dari kekuatan permainan staging, penempatan kamera, kekuatan dialog dan kemagisan skenario.

(Credit: Iflix)
(Credit: Iflix)

Akhirnya, disinilah sebenarnya proses transformasi film Keluarga Cemara terjadi. Berbeda dengan film keluarga lainnya, Keluarga Cemara percaya bahwa transformasi akan menghasilkan sebuah proses yang manis sebab pendewasaan tiap karakter tidak berlangsung secara serta-merta. Ada kesadaran tersendiri terhadap proses hidup yang membentuk karakter-karakter tersebut dalam sebuah cerita, khususnya pergulatan mengenai kehidupan keluarga yang seringkali diliputi masalah seperti komunikasi, keuangan dan perbedaan pandangan.

Uniknya, transformasi yang ditampilkan pada Keluarga Cemara adalah semacam pengingat tersendiri dalam kisah milik keluarga Abah ini. Transformasi ini juga yang sebenarnya membawa perubahan hidup mereka agar lebih dekat satu sama lain dengan mengerucut kepada makna dari keluarga itu sendiri.

Di ujung sebelum mencapai tahap resolusi, Yandy sekali lagi dengan cerdik memainkan persepsi dan ekspektasi penonton dengan pengulangan repetitif, bagaimana yang dulunya Abah tak pernah ada untuk Euis akhirnya tiba-tiba memberikan kejutan di hari ulang tahunnya, atau adegan di mana injak kaki semen menjadi adegan yang paling familiar sebagai penutup kisah manis tentang keluarga yang hangat.

Akhir kata Keluarga Cemara adalah sajian paling menarik dari tema tentang keluarga, bagaimana pergulatan mengenai kehidupan keluarga disajikan dengan sangat penuh emosional juga personal melalui narasi dan visual dengan level penuh gagasan dan makna. Penulis akhirnya percaya bahwa film sebagai medium seni adalah medium yang paling tepat dalam persoalan mentransfer sebuah perasaan, melalui format audio visualnya.

Ditulis oleh; Muhammad Aditya Pratama


Kutu Butara

Penonton kasual