Jalan Panjang ‘The Other Side of the Wind’


News Share to

 

The Other Side of the Wind (Sumber: geektyrant.com)

Venice Film Festival yang ke-75 telah usai, nama-nama seperti Damien Chazelle, Coen Brothers, Luca Guadagnino, Alfonso Cuaron hingga Yorgos Lanthimos, telah menampilkan film-film terbaru milik mereka. Hingga tidak lupa sineas Indonesia juga mengukir beberapa prestasi menarik, Aditya Ahmad, dengan film pendek terbarunya berjudul Kado (A Gift) dan Garin Nugroho  dengan filmnya yang berjudul Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body).

Damien Chazelle dengan First Man menjadi film pembuka di festival yang saat ini sudah berusia 75 tahun. Coen Brothers dengan The Ballad of Buster Scruggs diganjar dengan penghargaan Best Screenplay. Alfonso Cuaron dengan Roma diganjar dengan penghargaan tertinggi, Golden Lion.

Salah satu hal yang menjadi kejutan di festival film tertua dunia ini yaitu hadirnya karya terbaru dari sineas legendaris Orson Welles yang berjudul The Other Side of the Wind. Setelah lama diisukan beredar, film ini akhirnya mendapat tempat untuk diperkenalkan kepada penonton di Venice Film Festival.

Menariknya setelah 33 tahun kematian sang sutradara, film ini berhasil direkontruksi kembali. Bob Murawski (The Hurt Locker, Spider-Man, Darkman) selaku penyunting gambar dipercaya oleh pihak Netflix untuk menyunting potongan-potongan gambar yang telah ditinggalkan Welles.

Welles sebenarnya memulai produksi film The Other Side of the Wind pada tahun 1970, ketika dia berusia 55 tahun. Namun pada saat itu hari-hari Welles sangat berbeda. Hari keemasannya sudah tiada, semenjak debut film panjang pertamanya yang berjudul Citizen Kane, akhirnya untuk melanjutkan drama semi-otobiografi eksperimentalnya terpaksa tersendat, dan ia meninggal pada tahun 1976.

Netflix dengan berani, membiayai produksi film The Other Side of the Wind. Mereka setidaknya harus menyortir lebih dari 100 jam rekaman untuk membuat film yang telah dikonsepkan oleh Welles, sebagian bentuk kolase dengan beberapa bagian dalam bentuk yang berwarna dan hitam-putih. Dan adegan film ini diambil dalam berbagai format (35mm, 16 mm, dan Super 8).

Welles meninggalkan banyak catatan tetapi tidak ada naskah yang benar-benar definitif. Hingga melalui kerabat dekat Welles, Bob Murawski telah mengukir sesuatu yang harus dibuat sebagai perkiraan terbaik apa yang dipikirkan oleh Welles. Sehingga tidak ragu bagi Venice Film Festival untuk mengganjar Bob dengan penghargaan Campari Passion for the Cinema Award.

The Other Side Of The Wind yang dibintangi John Huston sebagai Jake Hannaford, menceritakan tentang seorang sutradara yang mencoba untuk menghidupkan kembali karirnya di ‘New Hollywood’.

Setelah diputar, beberapa kritikus telah menanggapi dengan ulasan yang positif. Banyak yang terpesona dengan kekhasan Welles dalam bertutur. Namun tak sedikit yang merasa bingung dan bosan.

Menarik untuk dinantikan. Setelah kematiannya, film ini seharusnya menjadi contoh paling dasar bagi seorang cinephile. Betapa Welles dan semua orang yang telah terlibat dalam produksi panjang untuk merealisasikan film ini, telah berhasil menunjukkan sebuah bentuk dedikasi yang nyata dalam sinema.


Kutu Laut

a man who loving the film without thinking too much when the film is bad