Identitas dari Jacques Demy


Tokoh dan Sejarah Share to

La La Land (2016), mungkin harus berutang satu atau dua hal kepada sutradara Prancis, Jacques Demy. Musik yang gemerlap dan warna yang sangat indah secara visual, mencerminkan gaya khas Demy di The Paybages of Cherbourg (1964) dan The Young Girls of Rochefort (1967), dan Damien Chazelle mampu menangkap sesuatu yang melankolis bercampur manis dari ciri khas musikal Demy.

Demy mungkin bukanlah salah satu sutradara Prancis yang paling terkenal, namun film-filmnya memiliki daya tarik sendiri, yang mungkin tidak dimiliki oleh pembuat film lainnya. Bagaimana cara dia memadukan cara bertutur Hollywood dengan budaya Prancis adalah hal yang sangat unik.

Left Bank Cinema (newwavefilm.com)

Demy memulai karirnya di Prancis pada era 1960-an, pada masa “Nouvelle Vague” atau French New Wave. Saat film-film seperti Breathless, Jules dan Jim, The 400 Blows, dan Le Beau Serge, adalah film-film yang ikonik dari gerakan tersebut. Namun, Demy tampaknya sedikit bermain diluar dari gerakan tersebut. Dan lebih sering dikaitkan dengan kelompok Left Bank Cinema yang didalamnya terdapat orang-orang seperti Alain Resnais, Chris Marker, dan istri Demy, Agnes Varda. Karya-karya kelompok Left Bank Cinema sering dianggap sebagai gerakan yang bersifat politis, estetis, dan menuntut sedikit lebih intelektual daripada Godard, Truffaut, dan Chabrol di French New Wave.

Demy sangat menarik karena film-filmnya dianggap lebih sinematis daripada sutradara Left Bank Cinema lainnya. Pada 1964, Demy telah menemukan keseimbangan sempurna antara sinema Hollywood klasik dan Sinema seni Eropa yang dianggap orang saat itu sangat intelektual.

Film-filmnya terlihat mewah, namun visualnya tetap mengkritik tajam tentang kelas sosial, peran gender, dan masyarakat Prancis pada saat itu. Film Demy memang sering menggunakan dunia fantasi, namun ia juga tak luput membahas masalah kehidupan sosial melalui genre musikal seperti Umbrellas, Young Girls, Une chambre en ville.

Kritkus seperti Jonathan Rosenbaum menunjukkan bahwa Demy sering disalahpahami di negara-negara eropa seperti Inggris, karena Demy bukanlah pembuat film yang membuat film politik. Rosenbaum mencatat bahwa Demy memang membuat musikal, dongeng, dan film yang menggambarkan Hollywood klasik, namun Demy juga berurusan dengan dunia nyata dan tempat-tempat nyata, seperti Cherbourg dan Rochefort. Meskipun film-filmnya berlangsung di dunia fantasi, film-film ini juga membahas masalah serius seperti Perang Aljazair, patah hati, serta pemogokan buruh. Rosenbaum menulis bahwa musikal yang dibentuk Demy sangatlah unik, karena isu-isu tersebut dinyanyikan melalui informasi narasi yang disampaikan melalui lagu, daripada menyanyikan lagu yang menghentikan narasi seperti dalam film musikal tradisional.

The Umbrellas of Cherbourg via : http://classiq.me

Film Musikal pertamanya, The Umbrellas of Cherbourg, adalah kisah cinta yang tragis di mana para kekasih muda, yang diperankan oleh Catherine Deneuve dan Nino Castelnuovo, dipisahkan karena Perang Aljazair. Film ini melodramatik dan berwarna-warni, dengan visual yang terlalu canggih yang mencerminkan situasi narasi yang dramatis. Kadang-kadang tampak seolah-olah layar penuh dengan perasaan, yang semakin diperparah oleh kenyataan bahwa karakter menyanyikan perasaan mereka daripada hanya sekedar berbicara. Deneuve dan Castelnuovo berurusan dengan patah hati mereka, karena salah satu dari mereka harus mengabdi untuk negaranya dan ikut berperang, selain itu hal-hal seperti kehamilan diluar rencana, kehilangan anggota keluarga, dan kesulitan untuk kembali ke kampung halaman adalah hal yang paling memilukan. Hanya karena dunia tampak cerah dan orang-orang terus bernyanyi dan menari, tidak berarti bahwa semuanya baik dan bahagia sepanjang waktu. Menjadi jelas jika film ini bukan hiburan tanpa tujuan.

Transporter Bridge via ( http://deeperintomovies.net )

Demikian pula, The Young Girls of Rochefort tidak sama cerahnya seperti The Umbrellas of Cherbourg. Rosenbaum mencatat bahwa film ini dimulai dengan penari tampil di jembatan gantung, yang merupakan referensi untuk masa kecil Demy ketika ia tumbuh di sekitar jembatan gantung. Para penari tampil tidak konsisten sepanjang film – kadang-kadang semua karakter di layar menari serempak, dan lain waktu hanya beberapa orang menari di pinggiran frame film, sementara karakter lain berjalan atau berdiri diam. Rosenbaum mencatat bahwa ketidakstabilan ini memberikan rasa gelisah dan kegembiraan pada saat yang sama, sesuatu yang hanya dapat dicapai Demy. Rosenbaum menyebut ini sebagai “defamiliarizing,” atau sesuatu yang aneh dalam bentuk musikal. Film-filmnya meminjam visual dan isyarat musik dari musikal Hollywood tahun 1950-an – seperti Gentlemen Prefer Blondes, Singin ‘in the Rain, dan An American at Paris.

via : deeperintomovies.net

Di Rochefort, Catherine Deneuve dan Françoise Dorléac berperan sebagai saudara kembar yang berbakat yang ingin pindah ke Paris. Ibu mereka, diperankan oleh Danielle Darrieux, memiliki toko kentang goreng, dan bekerja secara konsisten sambil membesarkan adik mereka, Booboo (Patrick Jeantet). Demy menunjukkan bahwa hanya karena seorang wanita telah membesarkan tiga anak sendiri, tidak berarti dia juga tidak bisa menjadi pengusaha yang sukses. Putrinya tampaknya mengikuti jejaknya, karena mereka hidup mandiri darinya dan menjalani hidup sebagai guru musik dan tari untuk anak-anak. Para wanita dalam film Demy menarik, kompleks, dan sukses. Karakter Deneuve dan Dorléac memiliki kepribadian yang berbeda dan masing-masing menginginkan hal-hal yang berbeda dari kehidupan, namun mereka terus saling mendukung di sepanjang jalan.

Film ini juga menarik secara visual, dicat dengan warna-warna pastel yang cerah untuk membuat dunia film lebih kohesif. Si kembar mengenakan kostum yang sama seperti gaun, topi, perhiasan, dan sepatu yang sama.

Sampai hari ini, tidak ada sutradara lain yang begitu sempurna memadukan melodrama, glamor Hollywood, dan kritik sosial yang keras. Film-filmnya selalu menghibur dan emosional, namun pada saat yang sama mereka menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan tentang kehidupan, khususnya kehidupan Prancis di tahun 1960-an dan 1970-an. Demy mengolah gaya pembuatan film yang aneh tapi indah, dan, bersama dengan istrinya, Agnes Varda, adalah salah satu sutradara Prancis yang paling tak terbendung dan sulit diremehkan sepanjang masa.


Kutu Laut

a man who loving the film without thinking too much when the film is bad