Hereditary (2018): Pengubah Permainan


Review Share to
Sutradara: Ari Aster
Penulis: Ari Aster
Pemeran: Toni Collette, Milly Saphiro, Alex Wolff, Gabriel Byrne
Genre: Drama, Horor, Misteri
Durasi: 127 Menit
Credit: cinapse.co

Genre horor selalu mempunyai tempat tersendiri di hati para penonton film. Mulai dari horor klasik macam The Exorcist (1973), horor dengan elemen sci-fi seperti Alien (1979), slasher di Halloween (1979), gaya found footage di Blair Witch Project (1998) hingga horor modern seperti Saw (2004), Insidious (2010), serta The Conjuring (2013).

Sementara di Indonesia sendiri, genre horor erotis sempat merajai belantika film tanah air pada tahun 2008 hingga 2012. Ditengah industri film yang bergerak cepat dan dinamis serta permintaan penonton akan kualitas cerita yang meningkat, sajian film horor pun berubah.

Dalam beberapa tahun ke belakang pun, pasar dalam negeri masih dikuasai oleh film-film horor yang mengandalkan jump scare namun terbilang masih lemah dari segi cerita. Hingga tahun lalu Joko Anwar seolah membangunkan semua insan film tanah air lewat “Pengabdi Setan.”

Sementara di luar Indonesia, Film-film horor rasa baru sudah mulai bermunculan tiap tahunnya. Sebut saja The Babadook (2014), It Follows (2014) The Witch (2015), Under the Shadow (2016), Get Out (2017), hingga yang masih segar diingatan, A Quiet Place (2018).

Credit: filmaffinity.com

Hereditay kemudian datang membawa nyawanya sendiri dengan memberikan pengalaman yang berbeda dalam menikmati film horor. Debut film panjang Ari Aster ini seperti membawa kita kembali ke masa horor klasik, dimana kualitas cerita dan pengisahan menjadi daya tarik utama.

Trivia: Suara di telepon yang menelepon Annie tentang tanggal pamerannya di Archer Gallery adalah sang sutradara, Ari Aster.

Premisnya sendiri menceritakan sebuah keluarga yang bergejolak setelah kematian sang ibu/nenek. Hereditary diisi dengan akting luar biasa dari para pemerannya, terutama Toni Collette. Dirinya muncul sebagai karakter kunci dari berbagai kejadian-kejadian tak menyenangkan yang menimpa keluarganya. Karakter Collette yang digambarkan penuh dengan konflik batin akibat masa lalu yang kelam di keluarganya, terpancar jelas di sepanjang film. Collette dengan lihai mampu menampilkan perubahan emosi yang cukup signifikan. Kalian akan menyaksikan kemampuan Collette mengolah mimik muka yang berubah-ubah dalam waktu singkat. Adegan di meja makan mungkin bisa diperhitungkan untuk menjadikan dirinya masuk ke dalam jajaran peraih nominasi Oscar tahun depan.

Bukan hanya Collette sendiri. Milly Saphiro, Alex Wolff, dan Gabriel Byrne juga mampu menampilkan akting yang natural. Untuk Milly Saphiro, debut layar lebarnya ini sungguh iconic dan mantap dari sisi akting. Chemistry yang terjalin di antara karakter utama terasa nyata dan dekat. Konflik internal keluarga yang hadir di film ini, menambah elemen drama yang terasa pas dan tidak berlebihan.

Trivia: Dalam sebuah wawancara, Alex Wolff menjelaskan bahwa ia ingin benar-benar mematahkan hidungnya sendiri untuk adegan dimana karakternya membanting kepalanya ke meja. Sang sutradara Ari Aster dengan sopan menolak tawaran tersebut dan mengatakan kepada Wolff bahwa mereka akan memberinya meja yang empuk dan dilengkapi bantal untuk adegan itu. Ketika tiba adegan disyut, Wolff membanting kepalanya ke meja dan menemukan bahwa itu tidak lembut atau terbuat dari busa, yang mengakibatkan Wolffs mengeluarkan darah asli yang mengalir hingga lututnya.
Credit: socialnews.xyz

Dengan konsistensi pace yang lambat, kalian akan merasakan slow burn cerita yang meninggalkan bekas cukup kuat di akhir film. Scoring juga menjadi salah satu elemen penting di film ini. Beberapa kali kita akan disuguhkan kondisi dan suasana yang terpadu apik dengan musik di dalamnya. Transisi syut asyik yang terjadi ketika menggambarkan perubahan malam ke siang ataupun sebaliknya dikemas dengan rapi dan menarik. Belum lagi sinematografinya yang mampu memanjakan mata. Adegan close up Toni Collette dari belakang miniatur ibunya adalah salah satu yang terbaik.

Untuk sang sutradara sekaligus penulis cerita, Ari Aster, Hereditary mampu mengingatkan kita dengan Robert Eggers (The Witch). Pasca film ini, para penonton tentu akan sangat menunggu kejutan-kejutan apa lagi yang akan dibawa keduanya di ranah perfilman, terutama genre horor.

Trivia: Menurut Alex Wolff, potongan asli film ini bisa lebih dari 3 jam. Sebagian besar terdiri dari tambahan dialog keluarga.
Credit: socialnews.xyz

Kekurangan film ini mungkin ekspektasi para penonton yang mengharapkan banyak jump-scare. Jika tujuan awal kalian seperti itu mungkin akan timbul kekecewaan besar. Namun jika masuk dengan pikiran terbuka (meskipun sebelum nonton sudah melihat reviewnya terlebih dahulu), tentu akan merasakan sensasi hebat yang menghantui hingga jauh setelah kalian meninggalkan kursi bioskop.

Bila kemasan film horor belakangan ini adalah sebuah permainan, Hereditary mampu menjadi pengubahnya. Dengan mendobrak tren dan menyajikan cerita orisinil yang sangat kuat, Hereditary telah menghadirkan pengalaman baru menikmati sebuah film horor. Salah satu film wajib di tahun ini!!

*klok


Kutu Butara

Biasanya demen nonton film ruang sempit dan serial crime/thriller.