Gary Oldman: The Versatile Antagonist


Tokoh dan Sejarah Share to

Kawan Kutu tentu tahu ada beberapa aktor yang sering terjebak dengan satu peran. Biasanya hal itu terjadi karena kesuksesan si aktor di film sebelumnya. Jadi misal ada aktor yang bagus berperan sebagai remaja nakal, maka kemungkinan para sineas akan menggunakan jasanya untuk memerankan karakter yang mirip. Pada akhirnya ada beberapa aktor yang kesulitan keluar dari zona tersebut.

Hal tersebut juga hampir menimpa seorang Gary Leonard Oldman. Pria kelahiran 1958 ini juga sempat kesulitan melepas potret antagonis yang ada dalam dirinya. Salah satu penyebabnya adalah berkat hasil jerih payahnya di film Leon: The Professional (1994).

Kala itu ia berperan sebagai Norman Stansfield, seorang agen Drug Enforcement Administration (DEA) yang korup. Penampilan impresif Gary pada akhirnya membuat Norman Stansfield menjadi “one of cinema’s greatest villains”. Bahkan MSN Movies pernah menyatakan bahwa karakter Stansfield seolah “memicu ribuan antagonis lainnya”.

Gary di film Leon: The Professional (1994)

Peran antagonis semakin melekat pada dirinya, terutama di era tahun 90-an. Ya sebutlah film-film seperti True Romance (1993), The Fifth Element (1997), dan Air Force One (1997). Bisa dibilang di sini Gary Oldman mulai melekat sebagai sosok antagonis. Namun dia juga meraih puncak kepopulerannya dari peran-peran tersebut.

Meski begitu, berbicara Gary Oldman tak melulu tentang antagonis. Karena pria yang lahir di London ini juga dikenal dengan kepiawaiannya dalam memerankan berbagai jenis karakter. Entah itu sebagai pemain bass Sex Pistols di Sid and Nancy (1986), Drakula di Bram Stoker’s Dracula (1992), hingga ke era Sirius Black di Harry Potter dan Commissioner Gordon di trilogi The Dark Knight.

Keahliannya itu didapat dari pengalamannya berpartisipasi sebagai anggota Young People’s Theatre dan juga di Rose Bruford College di London. Setelah lulus pun kariernya terbilang mulus dengan tampil di berbagai teater. Gary juga akhirnya mendapat dua penghargaan bergengsi, Time Out Fringe Award for Best Newcomer dan Drama Theatre Award for Best Actor.

Gary Oldman di The Dark Knight (2008)

Bekal yang telah dikantongi selama di teater pun akhirnya membantu Gary Oldman untuk menemukan ciri khasnya. Dia bisa mengekspresikan emosi dan konflik internal tiap karakter menjadi begitu gamblang. Dia juga pernah menyatakan bahwa terkadang dirinya terlalu berlebihan, “It’s my influence on those roles that probably they feel bigger than life and a little over-the-top. I mean, I do go for it a bit as an actor, I must admit.

Mungkin oleh sebab itu, Gary Oldman adalah salah satu aktor yang pernah bekerja sama dengan berbagai sineas ternama Hollywood. Sebutlah seperti trilogi The Dark Knight (Christoper Nolan), Bram Stoker’s Dracula (Francis Ford Coppola), dan True Romance yang ditulis oleh Quentin Tarantino. Sayangnya, kemampuan Gary masih belum bisa membawa namanya untuk meraih Academy Award ataupun Golden Globes hingga saat ini.

Selain sebagai aktor, Gary juga pernah menyutradarai sebuah film yang berjudul Nil by Mouth (1997). Dia pun memenangkan kategori Best Screenplay – Original dari BAFTA. Dia juga memiliki proyek sebagai sutradara dan penulis dalam film berjudul Flying Horse. Sebagai aktor pun dia masih aktif hingga saat ini. Di tahun 2017 ini dia akan hadir di The Space Between Us, Hunter Killer, The Hitman’s Bodyguard, dan sebagai Winston Churchill di Darkest Hour.

Dari Gary Oldman kita bisa menyadari bahwa tak semua orang hebat akan mendapatkan penghargaan yang sesuai. Seperti biasa, saya akan tutup tulisan ini dengan dua kutipan Gary Oldman.

I don’t think Hollywood knows what to do with me. I would imagine that when it comes to romantic comedies, my name would be pretty low down on the list.

Any actor who tells you that they have become the people they play, unless they’re clearly diagnosed as a schizophrenic, is bullshitting you.


Kutu Kasur

"Most of us are losers most of the time, if you think about it." - Richard Linklater