Game of Thrones: Season 7 Episode 7 – “The Dragon and the Wolf”


Review Share to

MENGANDUNG SPOILER !!

Paruh pertama dari improvisasi cerita Game of Thrones yang berjalan tanpa buku panduan (baca: Novelnya) telah sampai pada beberapa konklusi. Yang paling besar mungkin terungkapnya silsilah keluarga Jon Snow, juga nama asli dirinya dari pemberian sang ibu. Setelah berhasil menangkap 1 Wight di episode sebelumnya, koalisi Jon dan Dany akhirnya siap untuk mempertunjukkan ancaman sesungguhnya bagi warga Westeros kepada Queen Cersei.

Berlokasi di Dragon Pit –bekas kandang naga yang berlokasi dekat King’s Landing- para karakter penting dipertemukan kembali dengan kawan/musuh/keluarganya, sembari membahas kerja sama penting guna kepentingan kehidupan.

Credit: IMDb

Terima kasih kepada Tyrion yang telah menjadi penggagas pertemuan, sekaligus juru bicara dan penengah situasi tegang selama pembahasan Wight berlangsung. Si Euron yang menurut saya menjadi karakter dengan pengembangan terbaik selama Season 7 ini, ternyata langsung mengecut saat ditongoli Wight berambut jarang.

“Aku telah mengarungi seluruh samudra di dunia dan menjumpai banyak hal mengerikan, namun hanya makhluk tersebut (Wight) yang membuatku setakut ini. Udah ya, aku mau pulang ke Pyke aja.” Ujar Euron kepada peserta pertemuan.

Bukan tanpa alasan Euron akhirnya memutuskan segala bentuk mutualisme dengan Queen Cersei. Selain karena memang tipikal karakter-karakter seperti Euron ini yang selalu mencari aman, Showrunners sepertinya tetap ingin menghidupkan cerita khusus pertempuran saudara khas bajak laut a la serial ‘Vikings’.

Yara yang nasibnya tak jelas, mengharuskan Theon untuk melakukan misi penyelamatan dan kembali ke Pyke guna menghadapi sang Paman, Euron si Raja Iron Island.

Credit: IMDb

Dari Winterfell, sebuah situasi yang sudah bisa diprediksi sejak beberapa episode kebelakang akhirnya muncul perlahan dengan twist ringan dari Stark bersaudara. Selama ini ternyata Arya memang sengaja masuk dalam perangkap Littlefinger, guna meyakinkan Sansa bahwa ‘Lord Protector of the Vale’ tersebut berbahaya dan penuh intrik. Dengan bantuan Bran yang menjadi saksi atas kejadian di masa lalu yang menimpa sang ayah lantaran ulah Littlefinger, di hadapan segenap petinggi-petinggi kerajaan di Utara akhirnya Petyr Baelish diadili. Raut wajah takut dan usaha pemungkas mohon ampun Littlefinger kepada Sansa, menjadi salah satu momen terbaik di Episode ini.

Tanpa basa basi, Arya sang Faceless Man akhirnya menuntaskan tugasnya. Crot! Baelish mati dengan pedangnya sendiri. Seluruh Kawan Kutu yang hadir pada Event Nobar Finale pun bersorak-sorai sambil tepuk tangan.

Cersei yang awalnya menjanjikan perdamaian dengan Jon & Dany untuk kemudian sama-sama berjuang melawan pasukan Night King, ternyata sedang meramu taktik licik. Sang Ratu berencana menyiapkan paket suap untuk ditawarkan kepada bala tentara musuhnya, dengan harapan mereka akan membelot. Ternyata, inilah alasan munculnya jalan cerita mengenai juru tagih dari Iron Bank of Braavos yang datang ke King’s Landing di awal season 7.

Credit: IMDb

Hal menarik lainnya yang terjadi pada episode finale season 7 kemarin adalah fakta bahwa Jaime mulai mencoba mengikuti kata hatinya. Dirinya pun membangkang Cersei. Sempat mengikuti formula psikologi “Bunuh saja aku sekarang. Disini. Katakan saja perintahnya (untuk membunuh)” milik Tyrion, Jaime meninggalkan sister-lover nya yang sedang mengandung, untuk bergabung bersama pasukan pembela kehidupan di utara. Juga Clegane bersaudara yang akhirnya beradu pandang, dengan indikasi kuat, sepertinya bakal ada Cleganebowl di Season 8 nanti.

Meskipun sama-sama belum tau bahwa ada hubungan darah diantara keduanya, Jon dan Dany akhirnya resmi menjadi pasangan incest baru di serial ini. Dengan sisa 6 Episode lagi, entah kenapa saya merasa bahwa Jon tak akan pernah tahu asal-usul orang tua aslinya. Jalan cerita akan sangat tertebak, jika pada akhirnya nanti entah Bran atau Sam yang akan memberitahukan Jon siapa orang tua kandungnya.

Fakta mengenai orang tua asli Jon juga mengangkat kenyataan baru, bahwa Robert’s Rebellion didasari pada sebuah kebohongan. Perihal tersebut, lagi-lagi tim penulis mesti diapresiasi.

Credit: IMDb

Dengan kemunculan Night King yang menunggang Viserion si Naga Hemat (api biru coy), The Wall runtuh dengan menyisakan Tormund dan Beric yang diselimuti ketidakpastian. Akhir Season 7 pun membikin semua penggemar geregetan.

Season 7 ini sebenarnya berlangsung dengan cukup asyik dan seru, namun sajian pace ngebut rasanya sedikit menghilangkan nyawa dari storytelling khas serial ini, yang biasanya lebih detail dan cenderung lambat dalam pengisahannya.

Jika kalian belum tau, alasan utama D.B. Weiss dan David Benioff menetapkan hanya 8 Season untuk Game of Thrones adalah untuk menjaga kualitas serial ini. Belajar dari beberapa serial fenomenal, perhitungan jumlah season memang menjadi faktor penting. Nantinya visi ini tentu akan berdampak pada tugas sang penulis, untuk tetap menghadirkan cerita konsisten yang cenderung menanjak hingga di akhir serial (tamat). Bukan malah memaksakan cerita demi pundi-pundi uang yang akhirnya merelakan kualitas cerita. Niat meraup untung tadi biasanya membuat jalan cerita menjadi terlalu dragging dan bertele-tele, hingga akhirnya justru mengurangi antusiasme hingga jumlah penonton itu sendiri. Penonton yang masih bertahan pun, hanya punya motivasi “sayang cuy, udah terlanjur ngikutin ceritanya nih gue”.

Jika merasakan pengalaman mengikuti Season 7 lalu, Game of Thrones sepertinya masih layak jika menghadirkan 10 episode setiap musimnya, hingga lebih dari 8 Season. Yaaa mungkin Showrunners lelah dan toh keputusan telah dibuat.

Lalu, akhir seperti apa yang akan coba diformulasikan oleh Showrunners dari 6 episode yang tersisa? Berkaca dari Season 7, tim penulis rasanya tak perlu gerabak-gerubuk ­dalam menyajikan kisah di Season 8 nanti. Pace boleh saja cepat namun jangan terlalu ngebut dan melompat-lompat. Santai saja. Jika perlu, durasi dari 5 episode mendatang jadikan saja sekitar 90 Menit per episode, mirip serial Sherlock. Dan 2 jam untuk Series Finale nya. Mungkin gak sih?

Apapun keputusannya nanti, para penggemar tentu tak punya kuasa terhadap cerita. Satu yang pasti, Showrunners harus berusaha semaksimal mungkin untuk menyajikan tontonan klimaks. Bisa jadi, Season 8 nanti lah yang akan menentukan Fenomenal atau tidakkah serial adaptasi Novel A Song of Ice and Fire karya George R. R. Martin ini.

 


Kutu Butara

Biasanya demen nonton film ruang sempit dan serial crime/thriller.